oleh

Mengharap Cinta di Nuwo Kebun Pattimura

Oleh Muhammad Alfariezie

Hujan di pergantian hari mengantar sunyi sampai relung seseorang ini. Percik air di kaca jendela seolah racun yang menggenang di perasaanku.

Sudah 9 jam tenaga dan pikiran kuberi untuk perusahaan tercinta. Janji menghadiri acara perayaan hari pahlawan yang mengusung konsep puisi, orasi dan musik pada hari Selasa 9 November 2021, tepat pukul 19.30 WIB tak mungkin kuingkari.

Tak mungkin aku membatalkan niat ke Nuwo Kebun di Dusun Tanjung Gedong, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung. Yang kuharap, di sana bukan membaca puisi atau melantangkan kesedihan kalimat-kalimat pujangga.

Aku mau bertemu mantan kekasih yang putih serta perasaannya menyejukkan sebagaimana bening air sungai pegunungan. Wajahnya; kilau senyum bayi mentari di daun-daun yang mengayun.

Aku dan dia dipertemukan dalam keadaan yang serba tidak memungkinkan. Perasaanku berteriak bahwa dialah pujaan—
kala pertama melihat seseorang itu dalam suatu cahaya. Dia kain sutra lembut dan halus. Kumau berduaan dengannya dalam ruang sejuk tanpa secuil pun keinginan pergi meski pesta menyajikan beraneka kemeriahan serta nikmatnya makanan.

Sudah sangat jelas, perasaan ini menggebu ingin kembali memandang dua bola mata sore setelah hujan. Kuletakkan sepatu di dalam tas. Aku mesti bekerja dan tampil rapi di depan rekan-rekan juga atasan pada keesokkan hari.

Tanpa mantel, aku memicu adrenalin melaju di keheningan jalan hujan laksana wajah jenderal penjahat perang. Gigil dan getar tubuh tak menjadi penghalang niat seseorang ini untuk kembali bertemu dengan yang tersayang.

Sayang, aku yang rapi dan wangi setelah mandi hanya memandang kerumunan orang. Nasi uduk dan sate bakso serta nasi arab laksana seri hijau berdebu di dahan kerdil.

Yang dapat kulakukan hanya menyalakan sebatang rokok lalu mengembuskan asapnya sehingga kerumunan laron di satu neon seperti pendemo dicaci maki water canon. Barangkali, orang yang kutunggu sedang menimang-nimang keyakinan terhadap kebaikanku juga kejahatanku yang pernah menyantuh perasaannya.

Satu yang pasti, andai malam itu dia mengirim pesan singkat yang memintaku untuk menjemput tercantik itu maka tinggallah jejak sedihku.

2021