oleh

PUTUS

Cerpen Yuli Nugrahani

Pikiran besar sisa semalam muncul saat aku bangun tidur pagi ini. Untuk sekali ini aku membuka tirai kamar lebih lambat dari biasanya. Kasur keras yang masih hangat bekas tidurku semalam menarikku untuk tetap dalam posisi terakhir saat aku membuka mata. Aku tidak ingin memikirkan hal selain gagasan ini. Tapi kata itu dengan segera menjauh dan aku tak mampu lagi mengejanya setelah tarikan nafas yang ketujuh.


Rasa perih nyeri dalam dadaku kembali menguat. Debar dadaku nyaris tak terkendali. Aku menggeser badanku ke kiri supaya aku bisa memiringkan badan ke kanan. Ranjang terasa lebih sempit dari biasanya. Dua kaki aku tekuk dan aku menopang kepalaku dengan mengganjal pipi kanan menggunakan selimut. Posisi meringkuk seperti ini membuatku lebih nyaman.


Keringat menetes pelan di dahi, kening dan leherku. Aku merasakan hangat dan dingin sekaligus.

“Zaday, andai kau ada di sini, akan kau apakan lara seperti ini? Mungkin kita perlu bercakap dengan waktu di jiwa yang berdetak. Tidak dalam jarak.”


Tapi waktu tak mungkin digulung kembali. Tak mungkin aku mengajakmu saat ini, ketika puluhan tahun sudah berlalu dengan pilihan langkahku yang tegap lurus mengesampingkan keinginanku sendiri, yang mungkin juga mengabaikan segala hal yang berkaitan denganmu.


“Zaday.” Nama itu kembali meluncur tak terhitung dalam kata-kata yang tak terucap. “Mungkinkah kau mau kita bercakap tidak dalam jarak? Apakah kau mau?” Semerta kalimat-kalimat ini menjelma pisau tajam yang mengiris hatiku. Terasa sangat nyeri perih. Nafasku tersengal.


“Ini sangat sakit, Tuhan. Ke mana hendaknya kularungkan lara seperti ini? Hatiku berkerut terlipat kusut tak mampu lagi diurai.”


Demi kenangan-kenangan yang tak ingin kulupa, aku mencatat peristiwa-peristiwa masa lalu dengan rapi. Itu pun peristiwa-peristiwa pendek karena perjumpaan denganmu adalah peristiwa langka yang terjadi hanya beberapa kali saja.


Tapi, bagaimana bisa mengatakan seluruh perasaan dan pikiranku tentangmu dengan kalimat pendek? Kau adalah selendang sutra yang menutupi mataku, dan kemudian tersampir di pundakku seumur hidupku. Menjadi beban yang tak juga terlepas. Begitu dalam, begitu luas. Ahhh… Zaday, aku rindu. Sangat rindu.


Biasanya, penghiburan aku paksakan dengan menjangkau buku doa dari meja kecil samping ranjang. Membaca doa pagi secepat yang bisa kulakukan sebagai kewajiban, lalu membaca jadwal harianku dari buku agenda. Melihat jam mana saja yang dipenuhi dengan apa yang harus kulakukan, dan menit mana saja yang masih bisa kuisi dengan hal-hal yang akan ditambahkan dalam hari ini. Aku melakukannya juga pagi ini.


Saat aku bangun, kakiku kesulitan masuk ke selop. Kutinggalkan sandal itu dan bergegas ke kamar mandi. Guyuran air di kepalaku menguapkan seluruh mimpi. Yang tak bisa kupungkiri, dadaku terus berkerinyut kesakitan, tak juga hilang oleh hiburan bunga kemboja yang mekar berayun-ayun di luar kamar yang menonjolkan dirinya begitu tirai jendela kamar kubuka.


Aku akan melalui hari ini sekali lagi. Hari ini saja.

….
….
Dan malam selalu datang begitu cepat untuk menghantamku kembali dengan rasa sakit. Zaday. Kata ini lagi yang muncul saat aku masuk kembali ke kamar untuk mengakhiri putaran hari ini.


Waktu sudah sampai di titik sebelum tengah malam. Kegiatan yang kulakukan sepanjang hari ini dipenuhi dengan gerak tubuh, rasa dan pikir yang tiada henti. Perempuan-perempuan korban kekerasan selalu datang dari berbagai penjuru dengan tuntutan cinta yang melimpah semata hanya dariku. Mereka harus diberi segala hal yang terbaik karena aku terlanjur menyematkan wajah Tuhanku pada mereka.


Setetes air mata memuncrat dari ujung mataku saat aku melepas jaketku. Bau amis bekas usapan keringat bercampur dengan air liur dan bekas muntahan mencuat dari pundak jaket sebelah kanan ketika tak sengaja hidungku terseka olehnya.


Aku ingat pundak kananku itu tadi siang telah merangkul perempuan tua yang tak henti-hentinya tersedak oleh tangisnya sendiri hanya oleh satu kata yang keluar dari mulutnya. Ketika tak ada satu pun kisah yang bisa kuambil dari bibirnya, aku meraih lengannya. Saat itu serta merta tubuhnya menghambur ke badanku, memelukku erat dalam erangan keluhan tak berkesudahan. Seluruh nestapa telah menimpanya, tak mungkin kutolak pelukan permintaan energi dan perlindungan seperti itu.


Setelahnya aku harus mengantarnya ke rumah sakit karena seluruh isi perutnya yang cair tumpah ke pundakku dan dia pingsan. Aku meneliti beberapa benjolan di bagian kepala dan lehernya. Juga kerutan bekas sayatan entah apa di punggungnya yang terbuka tak sengaja saat aku mencoba menopang badannya.


Perempuan lain lagi terbengong di depanku sebelum kemudian menumpahkan seluruh kisahnya yang tak masuk akal. Bersimpang siur antara kanan kiri, alfa atau omega, dan tak terpahami oleh ringkihnya jiwaku. Aku hanya mampu mendengarnya sambil mohon ampun pada Gusti. “Ampunilah aku Tuhan. Kasihanilah aku.”


Kuserahkan mereka pada penyelenggaraan Ilahi yang mengirim mereka seturut takdir: pulang, kembali bekerja, atau ke pemakaman. Selesai setiap kali tapi kemudian yang lain-lain lagi akan selalu dikirimkan kemudian. Selalu ada yang datang setelah serombongan korban sudah lepas dari tanggungjawabku. Lalu kembali lagi air mataku terselip di antara kelopak mata. Menjadi kekuatan bagi seluruh gerakku, membuatku menambah satu hari lagi untuk kulalui sebagai hidup, sebagai kehidupan.


Aroma asap knalpot menguar dari jaketku saat kulempar ke keranjang cuci. Andai pulau ini lebih panas tanpa angin laut, tentu aku sudah melepas jaket itu dalam perjalanan pulang. Tapi malam selalu dingin dan angin bisa tak tertahankan oleh tubuhku. Kapan aku bisa beristirahat?


“Zaday, aku ingin beristirahat padamu.” Ahhh… Gusti. Semerta rasa nyeri kembali datang ketika nama itu teringat dalam kepala dan tubuhku. Gelenyar tanpa kendali membuat aku kesulitan membuka baju dan membersihkan diri.


Dengan tertatih aku menjalani kewajiban-kewajiban terakhir pada hari ini. Lalu naik ke ranjang sempitku yang berkasur keras. Miring ke kanan, menekuk kaki dan mengganjal pipi kanan dengan lipatan selimut.

“Jika kita tak pernah bisa masuk dalam percakapan tanpa jarak, apa yang bisa kita lakukan, Zaday?”


Aku menghembuskan nafas beberapa kali mencoba menghilangkan kerisauan. Setiap hembusan menyuarakan satu kata yang tadi pagi sudah didengungkan oleh otakku sendiri. Putus. Putus. Putus. Aku masuk dalam mimpi dengan kata itu



Dan pagi datang mengulang kisah kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi, sejak dulu.
“Zaday, aku rindu. Aku sangat rindu.”


(Hajimena, Desember 2020, Masa Advent)

Catatan Redaksi : Cerpen ini telah dipublikasikan pada channel youtube: https://youtu.be/gDGU_mIjkvA

Penulis:


Yuli Nugrahani, kelahiran tahun 1974 di Kediri, saat ini tinggal di Hajimena, Natar. Buku-buku fiksi yang ditulisnya antara lain: Kumpulan Puisi Pembatas Buku (Indepth Publishing 2014), Kumpulan Cerpen Daun-daun Hitam (Indepth Publishing 2014), Kumpulan Cerpen Salah Satu Cabang Cemara (Komunitas Kampoeng Jerami, 2016), Kumpulan Puisi Sampai Aku Lupa (Komunitas Kampoeng Jerami, 2017) dan Cerita Rakyat Lampung Sultan Domas, Pemimpin yang Sakti dan Baik Hati (Kantor Bahasa Provinsi Lampung 2017). Selain ditayangkan sejumlah media, puisi dan cerpennya masuk dalam banyak antologi. Buku antologi bersama yang terakhir dilibati Buku Pandemi Pasti Berlalu, diterbitkan oleh Pustaka Labrak 2021. Selain itu menjadi penyusun dan editor berbagai buku fiksi dan nonfiksi, serta menjadi pemateri dalam pelatihan menulis atau kegiatan literasi. Saat ini menjadi sekretaris di Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung.