oleh

Puluhan Patung Anjing

Sepanjang jalan yang kami lalui, terlihat hampran pasir pantai dan ombak yang kencang bergulung. Jarak pemandangan itu dekat dari kendaraan kami.

Keelokkan Kabupaten Pesbar berada dekat di sisi jalan. Harapanku, tidak ada kejadian gaib yang merusak keindahan liburanku di Pesbar.

Sesaat kemudian, kami sampai di sebuah jalan yang masih berpasir. Di awal masuk tertulis “Villa Peselencar seratus meter ke depan”.

Tidak ada kejadian apapun pada pagi hari ini meski mobil telah memasuki jalan berpasir menuju penginapan. Terpampang pohon-pohon kelapa, sapi-sapi warga yang merdeka mengunyah rumput hijau tepi pantai.

Aku merasa, penginapan kami berada dekat di sisi pantai yang tinggi ombaknya mencapai satu bahkan dua meter. Terdengar jelas betapa kencang ombak yang menumbur-numbur pantai.

“Kamu enggak bakal nyesel ikut denganku. Setelah sampai, kita langsung tidur. Biar bangun, pikiran in fresh. Terus, bisa menikmati pemandangan indahnya Pesbar,” kata Habib sambil menyetir.

Aku hanya memandangnya tanpa menjawab. Lalu batinku spontan berkata, semoga saja.

Enggak lama kemudian, kami pun sampai di depan bangunan. Ada beberapa mobil yang terparkir di halamannya. Tumbuh juga pohon-pohon kelapa mini yang buahnya kuning dan ukurannya kecil. Selain itu, terpampang dua patung anjing yang masing-masing terletak di sisi kanan dan kiri pagar.

Habib memarkirkan mobil. Dia menghela napas setelah mesin mobil diberhentikan menyala.

“Bisa istirahat juga kita,” ujarnya seraya meregangkan tubuh.

Kami berdua keluar bersamaan dan tidak lupa membawa seluruh perlengkapan serta pakaian. Saat menutup pintu, aku dan Habib meregangkan tubuh. Bunyi tulang atau otot terdengar jelas. Aku dan Habib tak mampu menahan tawa setelah saling memandang lantaran pegal yang tak dapat disembunyikan.

Kami melangkah ke lorong masuk. Bentuknya persegi empat seukuran pintu. Namun, tidak ada sekat apapun. Nampak jelas luasnya pasir pantai dan laut lepas kabupaten Pesbar. Ombaknya bergulung dan deburnya terdengar hingga ke penginapan kami. Padahal, jaraknya sekitar 20-30 meter.

Di meja resepsionis sekaligus tempat makan, kami pun langsung duduk dan meletakkan barang-barang di lantai. Wanita yang menggandeng tiga anjing secara sekaligus tersenyum kepada kami. Lalu dia menghampiri dan bertanya.

“Selamat datang di penginapan Pantai Peselancar. Keliatannya sangat lelah. Dari mana nih tuan-tuan?” Ujarnya yang masih berdiri dan memegang tali temali anjing-anjingnya.

“Kami baru tiba dari Bandar Lampung. Apa Anda kenal dengan Zul?” Tanya Habib seraya menggoda anjing-anjing perempuan itu.

Dia sok akrab. Perempuan itu bertubuh langsing. Tingginya berkisar 145-150 centi meter. Dia mengenakan yukensi dan celana pendek di atas dengkul. Kulitnya langsat Jepang. Namun, mungkin karena sering bermain di pantai maka agak mengkilat sawo matang.

“Oh sedang menunggu Zul. Baiklah, saya panggilkan. Dia sedang mengurus tamu dari Australi,” jawab perempuan itu lalu meninggalkan kami sembari membawa anjing-anjingnya.

“Hey-hey. Ayok kita ke sana,” terdengar perempuan itu berbicara kepada salah satu anjingnya yang berwarna hitam karena hewan itu enggan mengikuti langkahnya.

Sesekali aku memandang ke arah laut dan luasnya pasir pantai nan putih serta tebal. Sesekali juga aku memejamkan mata. Namun hanya sebentar karena di halaman penginapan ini ada banyak patung anjing. Mungkin sepuluh. Malah mungkin lebih. Di tiap kamar, terdapat patung anjing. Yang nampak di depan mata, ada delapan kamar. Sedangkan Di depan kolam renang, ada tiga patung anjing. Lalu, di jalan yang kecil yang mengarah ke pantai ada empat patung anjing. Masing-masing di awal dan di akhir jalan.

“Ngelamun aja geh kamu ini. Sono pesen makan kek. Pesen minum kek biar agak seger,” kata Habib. Sontak pikiranku tentang patung-patung tersebut amburadul.

Setelah minuman datang maka langsung saja aku mereguk soda dingin sembari memandang pantai. Namun, lagi-lagi fokusku buyar karena Mas Zul telah datang. Dia langsung mengenalkan diri. Tidak lupa meminta maaf kepada kami karena telah menunggu.

Wajah Habib nampak kucel. Rambutnya berantakan, kantung matanya bengkak dan wajahnya merah agak hitam. Langsung saja dia meminta Mas Zul untuk mengantar kami ke kamar masing-masing.

Ruangan kamar penginapan ini cukup untuk berdua bahkan bertiga. Namun, Habib enggan tidur denganku. Sejak kecil ia terbiasa tidur sendiri. Dia hanya memiliki satu saudara kandung. Itu pun perempuan.

“Yasudah Mas. Kelihatannya sudah sangat lelah. Silahkan beristirahat. Kalau perlu makan atau minum, Mas hanya perlu menghubungi kami menggunakan telpon  yang tersedia di meja,” ujarnya seraya menunjuk ke arah meja.

Aku langsung masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan Habib. Namun, tidak langsung tidur atau merebahkan tubuh. Justru, aku Melangkah ke pantai.

Mataku mengernyit. Tepi pantai yang jarang ditumbuhi pohob-pohon terasa begitu terik. Tapi, berjalan di atas tumpukan pasir putih yang halus dan tebal, sungguh aku merasa seperti sedang terapi. Rasa geli dan nikmat di tapak kaki mengirim energi positif ke kepala.

Saat tiba di pantai, aku hanya berdiri dan terdiam memandang samudera luas tanpa pulau. Laut lepas, batinku. Kemudian aku kembali ke tengah. Ombak laut Pesbar bergulung sangat kencang dan tinggi. Aku tidak terlalu pandai berenang. Hingga kuputuskan memandang arakan ombak saja.

Setelah merasa cukup menikmati angin laut, aku membalikkan badan untuk menuju ke dalam kamar. Namun, saat baru setengah memutar badan, di arah kiri terlihat ada rumah. Warnanya putih dan oranye. Tapi, seperti bertahun-tahun tanpa penghuni. Selain itu, aku tidak melihat patung anjing di depan atau halamannya.

Halaman rumah itu ditumbuhi rumput-rumput yang kira-kira tingginya 10-15 centi meter. Lantainya pun berdebu. Tak berbeda melihat jendelanya. Namun, kacanya masih utuh dan rapat tertutup.

Saat ingin melangkahkan kaki ke sana, kepalaku rada pusing. Aku kembali memutar tubuh untuk kembali ke kamar. Namun,  sekejap aku melihat dua ekor anjing berjalan sempoyongan di halaman rumah itu. Entah dari mana datangnya. Mungkin, karena aku sempat mengalihkan pandang maka tak sempat melihat kedatangan hewan jinak itu.

Dua anjing itu terjatuh dan tergeletak tepat di pembatas halaman rumah yang pagarnya sudah tak ada. Hanya nampak beberapa potongan kayu yang menurutku bekas pagar rumah itu.

Dari kejauhan, aku melihat ada luka di kepala anjing-anjing itu. Darah mengucur dari mulutnya.

“Sedang apa sendirian memerhatikan rumah itu?” Ujar seorang perempuan seraya menepuk pundakku.

“Hah,” sontak aku terkejut dan langsung membalikkan badan.

“Eh Mba. Saya sedang menikmati suasana pantai saja,” jawabku tersenyum kepada perempuan yang tadi membawa tiga anjing di tempat santai penginapan.

“Itu rumah sudah lama tidak ada yang menghuni. Pemiliknya sudah bertahun-tahun belum kembali,” ujarnya.

“Yasudah, saya balik ke kamar dulu Mba. Mungkin, nanti sore suasana di sini lebih menyenangkan,” jawabku lalu meninggalkannya.

Saat sudah di tengah lorong jalan antara pantai dan penginapan, perasaan ini ingin sekali menengok ke arah perempuan tadi.  Dia masih seperti pertama kami bertemu. Ia membawa anjing. Namun, tadi hanya satu.

“Ngapain dia jalan ke arah rumah itu?” Batinku karena melihatnya menuntun anjing ke rumah yang di halamannya terdapat beberapa pohon kamboja dan kelapa mini berwarna kuning serta satu pohon yang agak tinggi dan rindang.

Aku pun hanya menghela napas lalu menggaruk kepala belakang kemudian melangkah menuju kamar. Namun, aku tersentak ke belakang dan sedikit berteriak. Di depanku ada anjing. Hewan itu berdiri dan menatapku. Sebagaimana biasa. Lidahnya menjulur-julur. Selain itu, ke dua matanya memerah.

“Dolke. Dolke. Sini main di sini saja,” Ujar Mas Zul.

“Maaf ya Mas. Di sini memang banyak anjing. Mba Asuga memang selalu membeli anjing karena banyak peliharaannya itu hilang entah ke mana. Selain itu, tentu saja karena tempat liburan ini selalu dikunjungi turis. Mereka suka dengan anjing-anjing yang ada di sini,” lanjut Mas Zul.

“Pantas saja banyak patung anjing ya di sini. Hehehe,” jawabku sembari tertawa kecil.

“Iya mas. Menurut Mba Suga hal itu dilakukan untuk mengenang anjing-anjingnya yang hilang,” jawabnya.

“Mari kalau mau istirahat Mas.  Jangan khawatir. Hewan-hewan yang ada di sini selalu diperiksa dokter demi menjaga kesehatan dan keselamatan wisatawan,” lanjut Mas Zul.

“Wah banyak dong uang yang mesti dikeluarkan,” jawabku seraya memangku tangan ke depan dada.

“Ya sebagian hasil dari penginapan, Tour Leader dan lain-lain selalu kami sisihkan untuk membayar biaya perawatan hewan peliharaan Mba Asuga,” jawabnya.

“Hmm. Baik juga ya Mba Asuga. Oke Mas Zul. Saya perlu istirahat nih. Aku merasa nanti sore akan lebih indah dan asyik jika bermain di pantai,” ujarku tersenyum sambil menyentuh lengannya.

“O iya, nama Mas siapa ya?” Jawabnya.

“Panggil saja Surya,” jawabku yang masih berdiri di sampingnya.

“Baik Mas Surya. Selamat menikmati istirahat siang di penginapan kami. Kalau perlu sesuatu, Mas bisa menghubungi kami di kontak yang tertera di atas meja depan kasur,” pungkasnya.

Aku hanya menjawab oke seraya mengedipkan mata. Lalu meninggalkannya seraya tertawa dan membatin.

“Surya. Itu bukan nama asliku. Aku asal sebut saja. Entah pula apa sebab itu. Asal bunyi itu keluar begitu saja dari mulut, bibir dan tentu suaraku.”

Langit hari ini begitu cerah.  Ditambah, bangunan penginapan ini berornamen elegan tapi asri. Di dindingnya tidak banyak corak atau gambar. Dinding-dinding tiap ruangan warnanya sama. Semua berwarna kuning genteng. Di depan kamar penginapa tertanam pohon palem.  Selain itu, rumput-rumput gajah menambah kesan yang segar.

Deburan ombak terdengar hingga di depan kamarku. Bergegas aku membuka kunci dan memutar daun pintu. Setelah masuk ke dalam, lekas kunyalakan pendingin udara lalu mengunci pintu. Terasa cukup sejuk ruangan ini.  Aku langsung merebahkan tubuh di kasur. Kuletakkan kedua kaki di atas guling. Kedua tanganku pun memangku kepala dan kemudian mulai memejamkan mata.

Saat hampir terlelap, aku mendengar longlong anjing. Tak satu. Mungkin puluhan anjing sedang melonglong.

Tubuhku tak bisa bergerak. Terasa sekali seluruh tubuh telah berkeringat hingga ke kening ini.

“Di mana aku berada sekarang?” Batinku.

Aku melihat satu anjing sedang menjilati tubuh Habib yang lelap tertidur. Namun, anjing itu merasakan kehadiranku. Dia berhenti sejenak kemudian menengok ke arahku. Matanya merah dan berair. Kepala anjing itu penuh darah. Aku mundur selangkah. Tapi hanya ada tembok sedangkan anjing itu berada di dekat pintu.

 

Aku pun berteriak membangunkan Habib. Tapi, dia tetap mendengkur. Lampu pun berkedip-kedip. Dari penglihatan samar, anjing itu terseok mendekatiku. Dua kaki belakangnya diseret.

 

Kedua tanganku meraba-raba tembok. Bayanganku mencari-cari lubang untuk keluar dari ruang ini. Sementara anjing itu kian mendekat. Namun, saat jaraknya hanya 30 senti meter dariku dan tercium amis darah, aku sudah berada di ruang lain.

Ruangannya gelap. Terlihat di kasur ada lelaki dan perempuan bule yang saling memeluk. Namun, aku segera berlari ke pintu. Dua ekor anjing berdiri di sisi kanan dan kiri kasur mereka. Dari mulut kedua hewan itu mengucur darah. Sesekali mereka melonglong.

Aku berteriak. Tapi, tak ada yang mendengar. Pintu kamar ini pun tak bisa terbuka. Aku menendang hingga mendobrak. Tapi, tetap di ruang itu.

Aku berlutut dan menundukkan kepala. Tanganku menjenggut rambut yang basah karena keringat. Namun, tidak lama kemudian, cahaya dari atap ruang gelap ini menyinari lantai yang sedang kuratapi. Aku tersadar dan terbangun.

“Apa yang telah terjadi di tempat ini?” Sontak pikiranku bertanya-tanya. Sementara kedua tanganku mengusap peluh di kening ini.

Aku berjalan ke meja kemudian duduk di bangkunya. Segera kubuka tutup botol air mineral. Aku pun menarik napas cukup dalam hingga terasa nikmat kepala ini. Kemudian aku mengembuskan napas menikmati air yang membasuh isi tubuh.

Debur ombak terdengar hingga ke kamarku. Lekas aku mencuci wajah. Detak jam berbunyi dari ruang sunyi. Waktu memberi informasi kalau matahari akan kembali.

Belum sempat aku mengunci pintu kamar, mata ini tertuju ke tempat makan. Di sana ada Mas Zul dan Mba Asuga. Mereka nampak serius membicarakan sesuatu. Mas Zul menganggukkan kepalanya setiap kali Mba Azuga selesai bicara. Aku tak melihat Mas Zul banyak membicarakan sesuatu. Nampak dari sini dia hanya mendengar perkataan perempuan itu.

“Kenapa juga aku memikirkan mereka,” batinku seraya menggelengkan kepala kemudian mengunci pintu.

Tapi aku kembali berpikir saat ingin melangkahkan kaki ke pantai. Aku bertanya-tanya dalam hati tentang siapa Asuga? Apakah dia pemilik tempat ini? Atau warga desa ini?

Tanpa sengaja aku kembali melirik ke arah Asuga. Aku tersenyum kepadanya karena ketika aku merunduk, ternyata dia juga melihat ke arah sini. Namun, sudah tak nampak Mas Zul. Aku pun tidak lagi berpikir. Langsung saja melangkah ke pantai.

Habib yang pandai berbahasa inggris telah bermain dengan para turis. Mereka berlari-lari mengejar bola di pasir pantai. Semuanya bertelanjang dada. Tawa dan canda mereka terdengar dari tempatku duduk menikmati senja dan segelas kopi panas.

Seteguk demi seteguk kuresapi kopi tanpa gula sembari memandang mega. Namun, saat aku meletakkan segelas kopi di meja, mata ini melihat Mas Zul masuk rumah misterius. Dia masuk dari arah yang berbeda. Aku melihat dia berjalan sambil menenteng perkakas rumah tangga.

Aku mulai berdiri kemudian melangkah ke rumah itu. Langkahku cepat tapi tidak berlari. Habib memanggil dan aku pun menjawab. Sebentar, kataku.

“Ngapain Mas Zul membawa Lap Pel dan sabun lantai ke rumah ini,” kataku ketika sampai di halaman rumah.

Langkahku menuju dalam rumah itu untuk melihat yang sedang dilakukan Mas Zul, sempat terhenti. Sehelai daun jatuh dan menyentuh pundakku. Aku melihat ke arah daun itu. Sejenak pikiran berubah. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku mencurigai perilaku Mas Zul. Aku pun mengendap memasuki pekarangan rumah itu kemudian ke arah belakang rumah.

Rumah ini berada jauh dari pemukiman. Sesekali aku memerhatikan sekitar. Nampak jelas hanya pohon tebu, pohon kelapa dan alang-alang serta tanaman belukar.

Bangunan ini masih bisa ditempati. Dinding-dindingnya masih bagus dan catnya pun terlihat seperti baru satu tahun diganti. Selain itu, plafonnya masih sangat terurus. Namun, mustahil bangunan ini ada yang menempati. Apalagi, tak jauh dari sini sudah ada penginapan yang lebih bagus dan ramai.

“Krek,” suara ranting yang terinjak kakiku.

Jantungku pun berdegub cukup kencang. Keningku juga berkeringat. Tapi, aku tak menghentikan langkah. Aku terus berjalan sampai menemukan jendela kaca.

Ada yang bergerak-gerak dari balik kaca. Mulai kudekatkan mata ke depan kaca. Aku melihat Mas Zul sedang membersihkan lantai. Ada genangan darah di sana dan ada dua ekor anjing. Anjing-anjing malang hanya tergeletak di lantai. Tidak ada gerakan dari perutnya.

“Apa ini berhubungan dengan mimpiku?” Aku pun membatin melihat semua keanehan ini.

Secara enggak terduga, aku berjalan ke arah belakang. Di sana, aku menemukan pintu yang terbuka. Langsung saja diri ini melangkah menghampiri Mas Zul.

Saat berada di suatu ruangan, aku justru mengambil ponsel pintar. Inisiatifku merekam peristiwa yang sedang terjadi. Lalu, setelah merasa cukup sebagai barang bukti, aku berjalan ke arah Zul.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa anjing-anjing ini?”

Mula-mula dia tenang mengarahkan pandangnya ke wajahku. Namun, setelah beberapa detik memandang, dia mencoba menghabisiku. Dilemparkannya gagang Lap Pel ke wajahku. Sontak aku menghindar dan beruntung tidak sampai jatuh. Kemudian aku menendangnya hingga jatuh tubuh itu.

“Tunggu. Tunggu. Saya hanya orang suruhan. Saya pun sudah muak dengan ini semua,” katanya seraya mengangkat kedua tangan.

“Aku bisa menceritakan ini semua padamu. Tapi, biar kuselesaikan dulu pekerjaan ini. Tunggu aku di pantai. Semua akan kuceritakan di sana,” jawabnya.

“Ceritakan saja sekarang dan di tempat ini,” jawabku.

“Sebentar lagi Asuga akan kemari. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang lebih dari ini,” jawabnya.

“Kalau kamu bertuhan, tentu akan menepati janji,” jawabku lalu meninggalkannya.

Aku pun meninggalkan rumah itu melalui pintu belakang. Tapi, aku sudah terlanjur masuk ke dalam peristiwa ini. Kutengok-tengok ke segala arah. Sampai penglihatan ini tertuju pada semak belukar. Sebelum bersembunyi di sana, aku lebih dulu menarik napas. Sejak tadi, jantung ini berdegub cukup kencang.

Segera aku berlari menuju ke semak-semak. Ada suara langkah kaki dari arah halaman rumah. Dari daun-daun yang bercelah, nampak Asuga masuk ke rumah. Tapi, dia tidak membawa anjing. Padahal, dua anjing yang terkapar di dalam bukanlah hewan yang sering ia bawa bermain.

“Apakah perempuan itu dalang dari semua ini?” Kataku lalu keluar dari semak belukar lalu mendekati pintu belakang rumah.

“Kenapa anjing ini belum kamu eksekusi, Zul?” Kata Asuga kepada Zul yang masih mengelap lantai.

“Aku ingin berhenti bekerja. Ini pekerjaan terakhirku. Tapi, cukup membersihkan lantai saja. Lebih dari itu, silahkan kamu mencari orang lain,” ujar Zul tegas.

“Berani kamu berbicara itu! Jelas kamu akan membongkar semua ini!” Jawab Asuga agak berteriak.

Aku melangkah memasuki rumah. Di depanku, di tangan Asuga sudah ada bayonet yang memantulkan cahaya. Tanda kalau bayonet yang digenggam Asuga sangat tajam.

Asuga terjungkal dan dia terjatuh tepat di samping anjing yang telah mati. Kalau saja aku tidak bertindak menendangnya maka leher atau kepala Zul ditusuknya dengan benda tajam itu.

Zul pun berdiri dan mencoba meleraiku. Sedangkan Asuga menatap ke arahku. Sorot matanya memerlihatkan kekesalan dan dendam.

“Ternyata kamu dalang dari ini semua! Semua anjing-anjing yang kamu bunuh telah menjilati tubuh-tubuh wisatawan!” Kataku kepada Asuga yang belum juga berdiri dan hanya melotot ke arahku.

“Sudah Mas. Ini urusan kami. Lebih baik, Mas pergi dari penginapan ini,” kata Zul sembari mengajakku meninggalkan rumah ini.

“Ceritakan apa yang sudah lama terjadi di sini,” kataku kepada mereka.

Zul tetap diam dan hanya merunduk. Namun, secara tak terduga, Asuga berlari menuju pintu depan. Aku tak sempat mengejarnya. Dia langsung membuka pintu kemudian berlari ke arah pantai.

Sekilas, aku sempat bingung karena melihat tangis Asuga. Seperti ada sesuatu yang sangat menyakiti perasaannya. Karena itu, aku ingin sekali mengetahui sesuatu di balik pembunuhan anjing.

“Kenapa dia bisa membunuh anjing-anjing ini? Apa anjing ini merusak lahan pertaniannya? Atau justru anjing ini menjadi korban kebiadabannya?” Tanyaku kepada Zul.

“Dia bukan asli orang sini. Dia masih kewarganegaraan Jepang. Tapi, dialah orang yang memiliki tempat penginapan,” kata Zul seraya mengangkat satu anjing seraya membawanya keluar dari dalam rumah.

“Sudah bertahun-tahun dia meninggalkan keluarga di negara kelahirannya. Dia menikah dengan orang Australia. Penginapan ini hadiah pernikahan mereka,” jelas Zul seraya melempar satu anjing ke dalam semak belukar. Lalu, dia kembali ke dalam rumah untuk mengambil satu anjing lagi. Aku pun mengikutinya.

“Lalu di mana suaminya itu?” Tanyaku

“Jalinan mesra asmara mereka hanya satu tahun. Suaminya mendapat tugas di Berlin. Sejak itu, mereka hanya berhubungan melalui internet. Sampai suatu waktu, Asuga menangis di tepi pantai saat bulan menampakkan kecantikkan,” Zul menjelaskan.

“Aku yang tidak sengaja melihat itu langsung menghampirinya. Dia mengatakan kalau suaminya telah menikah lagi di Jerman. Kemungkinan untuk kembali ke pulau ini sangat kecil,” terang Zul.

Zul pun kembali mengangkat anjing yang berlumur darah. Bajunya pun berlumur darah. Tapi, aku enggak ngeliat raut jijik di wajahnya.

“Sudah berapa lama kamu melakukan kegiatan semacam ini?” Tanyaku ketika Zul kembali melempar anjing malang itu.

“Aku lupa. Tapi ini yang terakhir,” kata Zul setelah meletakkan anjing itu di semak belukar tepat di sisi kawannya.

“Ke mana jasad anjing ini berakhir?” Tanyaku seraya memerhatikan gerak-gerik Zul. Dia terpantau sedang memerhatikan batu besar yang berada di sisi kanannya. Tangannya pun mulai bergerak menuju batu itu.

Lekas aku menendangnya hingga terjatuh.  Dia pun meminta maaf karena berniat buruk padaku. Ia mengaku sangat menyesal ingin mencelakaiku. Namun, dirinya tak mau berurusan dengan polisi atau warga desa. Kalau warga desa mengetahui kelakuan buruknya ini maka bukan hanya dia yang menerima imbas tapi keluarganya juga.

“Asuga sangat sakit hati dengan kekasihnya. Tapi juga sangat mengharapkan kepulangannya. Dia selalu menyiksa lalu membunuh anjing setelah setahun kepergian kekasihnya. Dia tak segan mengeluarkan banyak uang untuk membeli anjing-anjing yang kemudian disiksa dan dibunuh. Aku selalu dijadikan ahli seni untuk mengubah jasad anjing sebagai patung. Dia membayarku. Karena bayarannya aku mampu menyekolahkan adikku ke Jakarta,” Jelas Zul sembari berusaha berdiri. Dia pun masih memegang perut yang tadi kutendang.

“Setiap malam, aku selalu ke rumah ini untuk menjadikan jasad-jasad malang itu sebagai patung. Kemudian, aku juga yang memajang patung itu di tempat-tempat yang telah Asuga tentukan. Dulu, aku berpikir ini tidak menyalahi aturan karena bukan manusia korbannya. Namun, beberapa tahun terakhir aku merasa telah melakukan banyak kesalahan. Dan kamu datang membangkitkan keberanianku untuk meninggalkan kejahatan ini,” jelasnya.

“Lalu ke mana kamu akan pergi?” Tanyaku.

“Tidak ke mana-mana. Kalau perlu apapun, datang saja ke rumahku. Semua warga desa di sekitar penginapan mengetahui alamat rumahku,” terang Zul seraya pergi.

Aku sempat tidak memercayai pengalaman ini. Aku terdiam di depan semak belukar yang keberadaannya masih di sekitar halaman belakang rumah pembunuhan anjing. Aku berlutut dan bertanya-tanya sendiri.

“Mengapa aku harus mengetahui hal-hal macam ini?” Tanyaku seraya menunduk.

Suara adzan maghrib mengalun di udara. Angin pantai kian kencang berembus. Aku pun mengusaikan penyesalan lalu beranjak meninggalkan rumah itu.

Pantai telah sepi dari wisatawan. Sepanjang jalan, aku melihat puluhan anjing berlari-lari di antara percik ombak.

“Hewan-hewan malang yang mungkin selalu menghuni keindahan tempat ini,” batinku seraya terus berjalan.

Seekor anjing berlari ke arahku. Dia mendekat dan berjalan mengiringi langkahku. Dari arah penginapan, aku melihat Asuga berdiri dan menatap ke arahku.

Aku tidak asing dengan anjing yang berada di sisi kiriku. Dialah anjing yang selalu dibawa Asuga. Anjing berbulu putih tebal. Namun, Asuga tidak menghampiri anjingnya. Sekejap dia kembali ke penginapan. Sementara, perlahan-lahan bulan keluar dari balik samudera. Aku pun telah sampai di depan pintu kamar.

Aku langsung membuka pintu kamar Habib.  Dia yang baru selesai mandi ternyata sedang mengerjakan sesuatu menggunakan laptopnya.

“Apa di sekitar sini masih ada penginapan lain?” Tanyaku seraya duduk di kursi.

“Emang kenapa? Cuma di sini yang ombaknya besar dan pasir pantainya luas. Lagi pula besok kita udah enggak di sini,” jawab Habib sambil masih mengetik.

Tidak mungkin aku menjelaskan peristiwa pembunuhan anjing. Dia pasti tidak percaya. Aku mulai gelisah dalam situasi seperti ini. Jariku pun memainkan bunyi di meja kayu.

“Di sini banyak anjing. Aku merasa kurang nyaman,” jawabku mencoba meyakinkannya.

Tapi dia tetap pada pendiriannya. Besok pagi kami baru meninggalkan penginapan. Tidak ada pilihan lain kecuali masuk kamar lalu mandi.

Aku pun berusaha tidak memikirkan peristiwa sore tadi. Sayang, tempat ini tidak mengakomodir sinyal ponselku. Ingin membaca buku namun sama sekali tidak ada yang kubawa. Aku menarik napas panjang.  Kemudian aku berdiri dan melangkah untuk membuka gagang pintu.

Dari ruang kamarku, terlihat ramai para turis sedang menikmati makanan dan minuman. Selain itu, aku melihat beberapa turis sedang merendam tubuh di kolam renang. Begitu dengan sepupuku. Dia sedang duduk di kursi gantung yang keberadaannya tepat di kolam berenang.

Seolah tempat ini tidak menampakkan kejanggalan. Tentu saja bagi yang tidak mengetahui. Puluhan anjing telah mati di tangan perempuan dan menjadi patung karena kecerdasan serta kepatuhan seseorang.

Aku menggugurkan keinganan untuk makan malam. Selera makanku tiba-tiba hilang. Tapi masih belum ngantuk maka aku melangkah ke pantai untuk menikmati udara malam sembari memandang bulan.

Tepat saat berada di ujung lorong, aku memegang kepala patung anjing. Aku berdoa agar tempat ini tidak menerima kutukan atas perilaku buruk pemilik dan pengelolanya. Setelah itu, aku menuju pantai.

Aku sempat memandang ke arah rumah pembunuhan. Rumah itu tidak terlalu gelap. Di pekarangan rumah itu tergantung satu lampu yang sinarnya putih dan cukup terang. Tapi, aku enggan untuk ke sana. Meski ini bukan pengalaman pertama, aku masih merasakan kengerian jika bertemu dengan sosok gaib.

Bulan sabit nampak jelas di keluasan langit. Indah sekali pemandangan di tepi pantai ini. Ditambah debur ombak. Sekejap, aku melupakan peristiwa sore tadi.

“Wah. Akan lebih nikmat jika sambil mereguk kopi panas,” batinku sembari menggesekkan kedua tangan guna mengusir udara malam tepi pantai yang cukup dingin.

Ketika ingin memutar tubuh, aku melihat seorang perempuan sedang duduk sendiri di tepi pantai. Matanya fokus ke luas samudera.

Jauh dari tempatnya duduk, aku melihat seekor anjing berbulu putih tebal. Batinku mengatakan kalau tidak salah lagi, perempuan itu pasti Asuga.

Tak mau kehilangan informasi, aku pun menghampirinya. Sepanjang jalan, jantungku berdebar. Aku mewaspadainya. Sore tadi, aku melihat dia hampir melukai Zul. Selain itu, dia terbiasa menyiksa hewan. Dan itu berlangsung terus menerus dan bertahun-tahun.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanyaku yang berada kira-kira 3 meter di sisi kanannya.

“Oh kamu. Kenapa tidak pergi dan melapor polisi?” Jawabnya.

“Mungkin besok,” jawabku singkat.

Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang sangat menyayat perasaan perempuan itu. Wajahnya sangat datar meski dia sempat menyisir rambut menggunakan tangan kanannya. Tak tersenyum dan juga bersedih. Dia seperti merenungi sesuatu.

“Kenapa kamu membunuh lalu menjadikan jasat anjing sebagai patung?” Tanyaku yang masih berdiri.

“Apa alasannya penting bagimu dan kalau aku sampai dipenjara karena itu, apa kamu senang?” Jawabnya.

“Aku bukan penegak hukum yang bisa memenjarakan orang. Aku hanya ingin mengetahui seluk beluk peristiwa yang telah terjadi. Aku ada di dalam peristiwa,” jawabku.

“Kamu orang asing. Tapi aku merasa perlu menceritakan banyak hal dengan orang lain. Aku tidak mau merasa sendiri dalam menghadapi kegilaan hidup,” katanya.

“Aku sangat mencintai seorang laki-laki. Dia mengajarkan aku cara mencintai diri sendiri. Dia juga yang mengajarkan aku untuk memaafkan kesalahan orang lain,” jelasnya.

“Aku pergi meninggalkan ayah, rumah juga negara. Ayahku baik. Dia menyekolahkanku. Tapi, dia senang mabuk dan bermain-main dengan banyak perempuan. Saban pagi, saat aku merapikan rumah, aku selalu melihat ke dalam kamarnya. Di sana, aku melihat dia sedang tidur setengah telanjang.  Kadang dengan satu wanita. Kadang juga dengan dua bahkan tiga wanita. Selain itu, selalu berserakan botol minuman beralkohol. Dan itu berlangsung sejak aku masih berusia 14-23 tahun,” jelas Asuga.

“Ibuku bunuh diri di perlintasan kereta karena saat pulang bekerja dia melihat ayahku yang keluar dari tempat prostitusi sedang bermesraan dengan perempuan. Ibuku sudah curiga dengan ayah yang sering tidak pulang dan menjual barang-barang berharga,” Asuga kembali menjelaskan.

“Yang aku tahu, ibulah yang bekerja sedangkan ayah hanya hidup dari peninggalan orang tuanya. Hingga bisnis kakekku itu bangkrut karena uangnya selalu digunakan ayah untuk foya-foya. Sedangkan ibu mati saat usiaku 13 tahun,” kata Asuga.

“Aku sudah mencoba hidup dalam ketidaksukaan selama 5 tahun. Hingga aku muak dengan ayah. Malam itu, dia yang mabuk pulang. Aku membukakan pintu dan membopongnya ke dalam kamar. Saat merebahkannya di kasur, dia meracau dan matanya setengah terpejam. Malam itu, dia tidak membawa wanita. Mungkin kehabisan uang. Ayahku yang mabuk ingin meniduriku. Aku yang sudah sejak lama merasa jijik dengan kelakuannya, langsung pergi dan menutup pintu kamar. Aku merapikan baju. Aku tidur di hotel dekat bandara. Di sana, aku memesan tiket penerbangan,” ujar Asuga.

“Aku ingin menenangkan diri di suatu pulau yang tidak begitu banyak dikunjungi wisatawan. Aku mencari-cari. Ternyata muncul tempat ini. Di sini, satu bulan aku menetap, aku  bertemu dengan laki-laki. Aku bertemu dengannya saat sedang bermian dengan seekor anjing. Tapi, bukan itu,” katanya seraya menunjuk anjing berbulu putih tebal.

“Dia menolong saat aku terjatuh. Dia mengobati luka di kakiku. Malam itu juga, dia merasa nyaman berada di sisinya. Keesokan hari, dia mengajakku bermain di tepi pantai. Dia memberiku cincin permata. Katanya, sejak melihatku di sini, dia ingin selalu bersamaku. Malam hari kami tidur bersama.  Dia berjanji akan menikahiku. Dan dia menepati janji. Kami menikah di sini. Kami mendatangi orang yang mampu membantu aku dan dia agar bisa berlama-lama di sini. Namun, kemesraan itu tidak berlangsung lama. Setelah dia memberiku segala yang kuinginkan, dia izin pergi meninggalkanku. Dia harus pergi ke Jerman karena ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dari jauh. Aku pun mengizinkan karena percaya dengannya. Sayang, dia orang yang mudah merasakan cinta. Dia menulis surat agar aku melupakannya,” jelas Asuga.

“Bagaimana aku melupakan seseorang yang telah membuatku lupa dengan masa lalu yang kelam? Dan orang itu juga yang menambah peristiwa kelam dalam hidupku,” ujarnya seraya berdiri dan melangkah ke pantai.

“Satu tahun aku hidup hanya menyendiri di dalam kamar. Tidak memikirkan apapun. Hanya berani melihat keramaian dari dari balik jendela. Hanya bicara pada Zul, orang yang sangat aku percaya. Hingga suatu ketika aku melihat seekor anjing hitam. Anjing itu tidak banyak bergerak. Hewan itu lebih sering duduk di tepi pantai. Dari muka hewan itu, aku melihat wajah seorang laki-laki yang pergi entah ke mana bersama pasangan barunya. Aku langsung menyuruh Zul untuk menangkap anjing itu. Setelah terikat, aku membawanya ke rumah itu. Rumah yang dibelikan laki-laki itu. Saat memberinya padaku, dia mengatakan itu rumah masa depan dan kemesraan kami di pulau ini. Tapi dia mengingkari janji maka di dalam sana aku membunuh anjing hitam itu,” jelas Asuga.

“Aku merasakan kepuasan ketika berhasil membuat anjing itu tergeletak. Dan tentang patung anjing, aku sengaja menjadikan jasad anjing sebagai patung agar dapat menertawakan ketidakberdayaan. Karena itu, dendamku seolah-olah hilang. Rasa benci pada keluarga memudar. Tapi rasa ingin membunuh anjing tidak bisa aku kendalikan. Itulah hiburanku di sini. Aku merasa senang karena telah melampiaskan amarah,” terang Asuga.

“Lalu bagaimana dengan Zul. Bagaimana dia mau menuruti kata-katamu untuk membersihkan darah hingga menjadikan jasad anjing sebagai patung?” Tanyaku seraya berjalan agak mendekatinya.

“Dia perlu uang untuk menyekolahkan adik-adiknya. Karena itu, dia tidak menolak perintahku. Lagi pula, aku telah mengangkatnya sebagai manager sekaligus orang kepercayaan untuk mengelola penginapan,” jawab Asuga.

“Hari sudah malam. Aku harus beristirahat. Tidak baik malam-malam di tepi pantai,” ujarnya seraya membalikkan badan dan menghampiri anjing berbulu putih tebal.

“Apa kamu mengonsumsi obat penenang?” Tanyaku agak berteriak.

“Letak pulau ini di perbatasan.  Tidak ada dokter yang mempunyai link untuk memberi pasiennya obat penenang,” jawabnya sambil menghentikan langkah dan tersenyum. Kemudian, kembali ke arah penginapan.

“Malam yang sungguh membebani,” kataku berbisik lalu mengembuskan napas. Kemudian melangkah menuju kamar.

Tentu malam ini Habib telah mendengkur. Besok dia akan bertemu dengan partner bisnis. Dan itu pertemuan pertamanya. Percuma menggedor kamarnya. Justru aku mengganggu istirahatnya. Lebih baik merebahkan tubuh dan memejamkan mata sambil menunggu mimpi.

Ini hari yang sangat melelahkan. Harapan hanya harapan. Aku tidak bisa benar-benar menikmati keindahan pulau ini. Aku jadi merasa malas untuk liburan. Apa untungnya jika tiap liburan mesti menemukan masalah yang pelik. Apalagi mesti selalu berurusan dengan sosok gaib.

Perlahan-lahan ruang yang remang berubah gelap gulita. Aku merasa sudah tidak di dalam kamar penginapan. Aku sedang berada di tepi pantai. Di sana, aku melihat Asuga yang meneteskan air mata seraya memandang sinar pagi.

Udara sejuk dan suasana yang berkesan tidak sanggup menghiburnya. Ia berdiri dan diam meski anjing kecil berbulu putih mengajaknya berlari-lari mengiringi debur ombak.

Aku berjalan menghampirinya. Setelah berada di sisinya, dia mengatakan sesuatu.

“Apa keindahan adalah kematian? Kita tidak lagi terbelenggu kesengsaraan.” Katanya lalu pergi meninggalkanku.

Alu tetap berdiri di tempat itu seraya memerhatikan tiap geraknya. Ada anjing hitam yang menghampirinya. Ia langsung memukul anjing itu menggunakan rantai pengikat. Anjing itu mengaing dan berlari. Asuga tidak mengejar. Namun, aku melihat Zul datang membawa anjing itu.

Aku yang hanya memerhatikan peristiwa itu melihat Asuga menoleh. Dia menengok ke arahku seraya tersenyum. Kemudian amarahnya menghantamkan batu pemberian Zul ke kepala anjing malang berwarna hitam. Sang anjing hanya mengaing. Perlahan-lahan suara anjing itu pun menghilang.

Aku berusaha menghentikan mereka. Tapi entah kenapa tangan ini menembus tubuh Asuga dan Zul. Aku berusaha menendang ketika mereka ingin menujah perut anjing. Tapi, lagi dan lagi tidak bisa. Mereka hanya menertawakanku yang sedari tadi berteriak memohon agar darah anjing tidak mengalir.

Asuga dan Zul pun menyantap isi perut anjing itu.  Tanpa dimasak dan masih berlumur darah, mereka terlihat lahap mengunyah usus dan jantung.

Aku juga melihat puluhan anjing mengelilingi mereka. Anjing-anjing itu berjalan berputar-putar. Beberapa detik setelah Asuga dan Zul berhenti mengunyah, anjing-anjing itu duduk melingkari mereka.

Asuga dan Zul seperti ada yang menjegal. Mereka berdua terjatuh. Puluhan anjing itu menjilat-jilat tubuh mereka. Tapi, Asuga dan Zul tidak bergerak sama sekali.

Angin pun berembus cukup kencang. Sinar bulan tenggelam di dasar samudera. Aku terbangun dari mimpi buruk. Sekujut tubuhku berkeringat dan pakaian pun basah.

Aku berjalan ke meja untuk melihat waktu. Setelah mengetahui sudah menjelang subuh, aku pun bergegas mandi.

Sinar pagi telah nampak dari balik jendela. Habib pun telah memanggilku. Waktuku di penginapan ini telah usai. Namun, cerita kelam penginapan ini masih berlanjut.

Saat kami keluar kamar, betapa aku dan Habib kaget karena mendengar kabar kematian yang sangat tiba-tiba. Asuga dan Zul ditemukan tewas bunuh diri. Zul ditemukan mati gantung diri di kamar rumahnya. Asuga ditemukan tergeletak di kursi depan kolam renang. Mulut Asuga berlumur darah. Entah karena apa. Aku dan Habib telah meninggalkan penginapan itu sebelum polisi mencari tahu sebab kematiannya