oleh

Fragmen-Fragmen Kecil

Cerpen Isbedy Stiawan ZS

/1/

Enam ekor burung yang merindukan surga setelah membawa batu-batu panas dari neraka ditembak para pemburu yang masuk kota. Dulu, sebelum ajalnya dihabisi mulut senapan, para burung itu telah menghujani batu-batu amat panas kepada paraasukan musuh Tuhan. Orang-orang pendosa itu melepuh tubuhnya, kejang-kejang lalu mati.

Para burung, enam ekor itu, kemudian naik lagi ke surga. Lama menetap di sana, sampai suatu ketika dipulangkan ke bumi. Seperti nasib Adam dan Sito Hawa yang diturunkan dari surga ke bumi. Hanya bedanya, sepasang manusia pertama ini dikeluarkan dar surga lantaran melanggar ketetapan Tuhan. Yakni memakan buah terlarang (kemudian dikenal sebutan buah kuldi; pohon larangan).

Sepasang kekasih, ibu bapak pertama manusia itu, melunta. Mereka saling mencari dan merindukan. Sampai dipertemukan di sebuah bukit, Bukit Rahma. Tentu saja, pertemuan yang mengharukan. Kerinduan yang sempat jeda bertahun-tahun lamanya.

Sejak itu memang permusuhan terus berlangsung. Pendosa dan melawan hukum Tuhan meraja lela. Inilah yang pernah dikhawatirkan syetan: untuk apa menciptakan manusia kalau kelak hanya menciptakan pertumpahan darah dan kerusakan di bumi? Tapi Tuhan lebih tahu. Untuk mengetahui siapa beriman dan siapa pula pembuat kerusakan dan kebodohan.

Enam ekor burung kembali diturunkan. Mereka hadir di muka bumi untuk mengawal dan membela ayat-ayat Tuhan yang hampir dipreteli satu persatu; dipakai yang kira-kira menguntungkan dan dibuang apabila tak berguna bagi kekekalan kekuasaan dan kekayaannya.

Begitulah. Suatu dini hari, enam ekor burung yang melayang di sebuah kota dikepung para pemburu. Di antaranya ditangkap kemudian dipreteli sayap-sayapnya, lainnya dihujani peluru hingga tewas.

“Para burung itu mau melawan kami, ya kami habisi saja. Apa artinya nyawa seekor atau lebih dari mereka?” ujar seorang pemburu.

“Sejak dulu, burung-burung sudah bikin kekacauan. Mengambil batu panas dari neraka dan melempari sebuah pasukan besar yang hendak memasuki kota. Perusuh itu, layaknya disebut teroris, pantas diburu dan ditembak mati. Tak perlu dikurung di sangkar,” balas pemburu lain.

“Jika kekuasaan ingin langgeng, pertama sekali adalah habisi orang-orang yang suka merongrong, para perusuh, dan mereka yang diam-diam menyusup lalu menggerogoti kursi penguasa. Juga seniman, mesti diawasi. Mereka kerap menghasut dengan karya-karya seninya. Berbahaya. Sebab hasutan seninya itu langsung ke hati dan pikiran,” timpal pemburu ketiga yang memiliki ilmu psikologi yang lumayan.

Enam ekor burung yang mati ditembak para pemburu itu, dikuburkan baik-baik bukan oleh para pemburu. Tetapi, kawanan burung itu juga. Tidak yang berani protes, apatah lagi menuntut keadilan hukum sebagai bentuk pelanggaran Hak Asasi Burung. Negara bungkam.

Keenam ekor burung yang mati di ujung tangan pemburu itu, diyakini telah terbang ke langit jauh. Mereka kembali ke surga. Rumah mereka dulu dan selalu dirindukan oleh setiap makhluk di bumi. Ila iblis.

Setiap melihat burung hinggap di ranting pohon depan rumah atau meliuk di atap rumah, siapa pun akan teringat dengan enam ekor burung yang mati karena ditembak pemburu tanpa pengadilan.

“Wahai burung-burung yang mati di jalan suci, surgalah tempatmu,” seorang tua yang dikenal penganut ajaran kebenaran membatin. Sekaligus itu juga doa.

“Dan kalian yang telah membuat kematian para burung itu dan makhluk lain hanya karena berbeda pikiran dihabisi, tunggu balasan yang lebih perih dan menyengsarakan!” lanjut dia.

Tak Ada Kabar Pagi Ini *)

tak ada kabar pagi ini
selain cerita kematian
kemarin dan kemarin lagi
:
enam burung lepas terbang
menuju langit, dan kelak
akan kembali menjadi ababil
di paruhnya batubatu api
menghunjami bumi
:
seorang guru berjalan dari
sepi ke sunyi. menuju tempat
tersunyi. sebagai tanah liat
pulang pada cahaya taman
:
dan aku belum pula beranjak
dari kursi depan jendela rumah
daundaun di halaman basah
seusai junub fajar tadi
“ini desember musim hujan,
kekasih…”

tapi, orangorang telah siap
mengguyur tubuhku seluruh
sungaisungai dingin menungguku
untuk mengalirkan ke kualamu

KA 11 Desember 2020

Lalu kabar kematian enam ekor burung tak juga selesai. Semua saling merasa benar, terutama dari pihak pemburu. Sementara dari pihak yang korban terus berusaha menuntut keadilan hukum.

“Kalau keadilan di bumi ini tidak kita dapati, atau belum kita peroleh, akan kota terima di sana kelak. Pengadilan yang lebih besar. Tuhan Mahaadil,” tausiyah orang tua itu kesempatan lain.

/2/

Benar ramalan para malaikat dan iblis; makhluk di bumi akan selalu melakukan kerusuhan dan kerusakan. Berapa banyak kerusakan di bumi ini disebabkan tangan-tangan manusia.

Burung. Ia menganyam sarang dengan jerami dan ranting, rumahnya begitu indah di antara cabang pohon. Lebah membuat rumah yang di dalamnya memroduksi madu, dan makhluk lainnya.

Manusia? Membangun kemewahan, menegakkan kekuasaan, melanggengkan kehendak-kehendak berkuasa dan menumpuk harta. Jadilah kerajaan-kerajaan, penguasa-penguasa. Lalu mereka saling teror dan fitnah, saling hujat dan menjatuhkan. Lagi-lagi iblis tertawa.

Cara kerja mereka juga amburadul. Saling merebut lahan dan kerja orang lain. Bagaimana mungkin seorang menteri masuk got di wilayah orang, yang kecil pula. Padahal tugasnya sebagai menteri bukan local area.

Banyak lagi yang tumpah tindih kerjanya. Itu membuat pemerataan wilayah kerja, kekuasaan, dan juga kekayaan semakin tidak jelas. Absurd. Bahkan,lebih absur dari karya para seniman. Lebih sulit kita menafsir dibanding menelaah puisi-puisi Afrizal Malna!

Alamak. Mengurus pekerjaan saja sudah tidak becus. Bagaimana pula disuruh mengurus diri? Memertahankan nyawa sendiri? Merawat pikiran dan iman?

/3/
Panut (nama bukan sebenarnya) tak pernah bermimpi tinggal di kolong jembatan. Ia juga tak punya cita-cita memiliki rumah yang cukup melindungi diri dan keluarga kecil dari terik matahari, hujan, dan malam agar tidurnya nyenyak. Kala pagi bangun, salat, mandi, sarapan lalu ke tempat pekerjaan. Rutinitas seperti itu yang diharapkan, seperti warga lain.

Tetapi kenyataannya, Tuhan mengantar nasib kepadanya yang lain. Lahan sawah di desanya dijual untuk hidup keluarga besar, apalagi sebagian tanah di sekitarnya sudah dicaplok pabrik gula tebu. Selain untuk bangun gedung pabrik, perkantoran, mes karyawan, juga ladang tebu.

Pemilik gula itu, pengusaha besar, tauke mata sipit memang sejak zaman Orde Baru sangat dekat dengan penguasa itu. Tak ayal, kabarnya ia bekerja sama dengan orang istana. Kemudian ia kelola sendiri, meski isunya ia masih setor keuntungan. Perempuan perkasa di pabrik gula itu kerap menjadi pemasok modal di setiap helat pemilihan kepala daerah. Keuntungan dari dukungannya itu jika yang dimodali menang, setidaknya sebagian pajak yang harus dikeluarkan tiap tahun bisa dikurangi atau malah gratis sama sekali.

Panut pun urban ke kota. Ia jadi pemulung. Tidur di sembarang. Malam ini di kolong jembatan, esoknya di kursi yang ada di alun-alum atau taman. Tekad ah pula di meja warung Tegal. Sebisa mungkin bisa istirahat. Agar esok paginya kerja dengan semangat.

“Aku begitu bahagia sebagai manusia tanpa rumah,” katanya suatu hari ketika ia berbincang dengan warga urban lain.

“Tapi harusnya Mas Panut berupaya cari pondokan. Tidak kedinginan dan lebih aman dari kejaran petugas pol pepe,” balas rekan bincangnya. “Minimal kontrakan kamar kecil,” lanjut dia.

“Siapa yang tak ingin pondokan, Mas. Untuk makan sehari saja saya ini susah. Sampeyan enak ada usaha ketoprak dan es dawet. Ada keluarga yang mesti dirawat, lha saya seorang di kota ini….”

“Memangnya keluarga Mas Panut di kampung? Kenapa tak pulang saja ke desa, jadi petani.”

“Istriku kabur ke rumah orang tuanya. Ndak mau hidup miskin denganku. Ia bawa anakku seorang. Aku ngegelandang di sini karena tak punya lahan yang bisa ditanam…” jawab Panut tenang.

Di kedai ketoprak dan es dawet ini ia selalu mampir. Kalau tak ada uang, ia bisa utang. Jika ada rezeki baru dibayar, kadang dengan cara cicil. Kalau Panut datang sore, ia turut membantu memberesi hingga warung kecil itu tutup. Ia juga kerap dibolehkan tidur di sana.

Mas Tris, ia menyebut pemilik warung kecil itu karena tidak tahu nama panjangnya, dan Panut juga tak mau cari tahu. Keakrabannya dengan Mas Tris sudah lebih dari dua tahun. Boleh jadi Panut adalah pelanggan tetap, baik bayar langsung atau mengutang. Mas Tris yang selalu ditemani istrinya, Mbakyu Ris, menyambut Panut dengan ramah. Seperti kepada pelanggan-pelanggan lainnya.

“Kita ndak boleh beda-bedakan orang yang datang ke sini,” ucap Mas Tris kali kedua Panut menghampiri warung itu. “Setiap jiwa membawa rezeki dengan takaran masing-masing-masing-masing. Setiap manusia memiliki berkah yang berbeda. Jadi tak boleh kita melihat atau mengukur seseorang dari isi kantong atau jabatannya…”

Panut tersenyum. Ajaran moral itu pernah ia terima dari mendiang ibunya sewaktu ia kecil. Tetapi, kata hatinya, tidak banyak orang mampu menerapkan dalam sehari-hari. Kecuali, barangkali menurut Panut, ia baru menemui pada diri Mas Tris dan Mbakyu Ris.

Ketika ia ingin menyuap sendok pertama ketoprak, tiba-tiba dikagetkan serombongan berpakaian seragam hitam ketat, rambut cepak, dan tubuhnya tegap. Ia gelagapan. Tetapi, tak ada waktu lagi untuk lari. Mas Tris juga tampak kaget, namun lebih tenang.

“Tenang Pakde, nikmati saja ketopraknya…” kata seorang lelaki paling kekar dibanding lainnya. “Ini ibu Menteri Kaum Duafa…”

“Selamat siang bapak-bapak….” kata Ibu Menteri KD (kaum duafa). “Siapa nama bapak, dan siapa nama bapak yang punya warung ini….”

“Panut.”

“Mas Kris. Dan itu istri saya, Mbakyu Ris.”

Panut tak menyisakan ketopraknya. Ia sorong piring itu lebih dalam. Ibu menteri menyuruhnya tetap menghabisi makanannya. Kata Ibu MKD, tak baik — pemali — menyisakan makanan. Setan yang menghabisi,

“Ndak apa-apa bu Menteri, saya sudah kenyang juga….”

“Lain kali kalau makan, takar antara keinginan perut dengan apa yang hendak kita makan. Supaya tidak terbuang, tak mubazir.”

Panut dan Mas Tris dan lainnya yang ada di warung itu mengangguk. Tampak kagum.

“Pak Panut dari mana dan pekerjaannya apa? Kalau Mas Tris dari mana?”

“Saya asalnya Sukoharjo. Saya gelandangan, tapi saya kerja mencari barang-barang bekas.”

“Pemulung…”

“Nggih Bu menteri…” jawab Panut.

“Saya dari Tegal, Bu Menteri,” kata Mas Tris yang disetujui Mbakyu Ris. “Tapi istri saya orang Surabaya…”

“O ya?” balas Menteri KD seakan-akan merasa senang.

“Begini bapak-bapak. Saya kebetulan saja lewat, bukan rekayasa, lalu melihat warung ini. Hati saya terpanggil, maka datang ke sini. Saya akan beri bantuan pada pak Tris dan Bu Ris untuk usaha lebih besar dan baik. Saya belikan ruko di Jalan Anumerta itu. Bapak dan Ibu bisa berusaha ketoprak atau apa saja yang usahanya lebih dari ini…”

“Terima kasih Bu Menteri, terima kasih sangat. Namun saya tak punya modal, yang ini saja pas-pasan. Maaf ibu…”

“Saya kasih modal juga, tidak perlu bapak harus membayar. Bukan pinjaman….”

“Dan buat Pak Panut, keahlian apa yang bisa? Kalau ada akan saya antar ke perusahaan untuk dipekerjakan….”

“Maaf Bu Menteri, saya tak punya keahlian apa-apa…”

“Kalau manggut-manggut karung atau memindahkan barang masih kuat kan? Pak Panut ini masih gagah lo…”

“Ya kuat Bu,” jawab Panut cepat.

“Baiklah, bapak kerja di perusahaan gula itu…”

/4/
Suatu siang, Panut silaturahim ke warung Mas Tris. Usaha ketoprak, es dawet Mas Tris makin maju. Bahkan, kini tersedia berbagai penganan khas daerah. Ada gudeg, nasi rames, khas Tegal, dan lainnya.

Betapa riang keduanya. Sebagai manusia urban di kota besar yang bernasib lumayan bagus. Karena pertemuan tak sengaja dengan Menteri Kaum Duafa dua tahun silam.

“Nasib bukan di tangan kota, tapi tangan….”

“Keberuntungan…”

“Salah. Tuhan yang benar,” bantah Mas Tris.

“Itu pasti. Tapi kalau kita tak berusaha, Tuhan tidak mengubah nasib manusia.”

“Tepat. Nasib kita ada di tangan Bu Menteri…. hehe…”

“Tapi menyedihkan,” ujar Panut. “Nasib ibu menteri amat prihatin.”

“Maksud Mas Panut?”

“Mas Tris ndak baca berita?”

“Kenapa?”

“Ibu menteri ditangkap tangan oleh petugas antisuap…”

“Apa?” Mas Tris bertanya. Suaranya getar, lalu tubuhnya lemas. Lunglai.

Lampung, 2021

*) puisi Isbedy Stiawan ZS dalam manuskrip buku puisi “Burung-Burung dan Kisah Lain” (2021).


Isbedy Stiawan ZS lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Dimuat di pelbagai media massa Jakarta dan daerah. Di antaranya Kompas, Republika, Tribun Jabar, KR, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Tanjungpinang Pos, Lampung Post, Radar Lampung, dan lain-lain.

Buku puisinya Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Buku Puisi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia (2020), dan Belok Kir Jalan Terus ke Kota Tua sebagai 5 besar Buku Sastra Tempo (2020).

Alamat Permata Asri I.7 No.17, Karanganyar, Jatiagung, Lampung Selatan. Kontak person 082178522158, nomor rekening BRI Cab Tanjungkarang 0098 01 018587 50 4.