oleh

Maut Tansah Mengancam

Isbedy Stiawan ZS

DIAM di rumah (saja) atau keluar rumah, hampir sama. Maut tansah mengancam setiap saat.

Penyebaran virus layaknya gelombang laut. Kini kembali naik, bahkan tinggi. Masyarakat Indonesia yang terpapar corona dalam beberapa hari kian tinggi. Begitu pun kematian.

Sepertinya Indonesia menyusul India. Tapi semoga saja tidak serupa India yang telah merenggut banyak nyawa.

Kita berharap pemerintah meningkatkan kedisiplinan. Bukan “plin plan” apalagi tebang pilih. Tak pula saling salah menyalahkan. Masyarakat diminta juga patuh; jangan “melawan” atutran atau kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah.

Taati ulil amri. Terima saran yang dikeluarkan pemerintah, demi kebaikan dan keselamatan bersama.

Kini DKI Jakarta berlakukan lockdown, ya sebagai warga kita tunduk. Diam di rumah saja, bekerja dari rumah, beraktivitas lewat rumah. Usah ngeyel; kalau tak keluar tak bekerja, dari mana bisa menghidupi keluarga?

Jika pun harus keluar, mesti berlakukan protokol kesehatan. Virus ini tidak tampak, tapi harus diyakini bahwa covid nyata adanya. Ganasnya lebih dari tajamnya pisau. Gurita lebih berbahaya dari ketam. Hanya memerlukan beberapa hari saja, apabila kurang penanganan, kematian menjemput.

Beberapa hari lalu, Kompas menurunkan peringkat provinsi/daerah dalam kasus covid. DKI Jakarta pada urutan pertama, Provinsi Lampung bertengger di angka 9. Tapi, sehari kemudian dari data Kompas, Lampung naik satu tangga: peringkat 8 penyebaran covid disusul berita bertambah kematian sebab covid.

Miris lagi, penyediaan ambulan terasa terbatas. Sampai-sampai jenazah covid harus diangkut dengan truk. Lalu, ruang di rumah sakit bagi pasien covid yang penuh.

Sungguh, kita sedang terancam dari segala arah. Antara mati dan bertahan. Siapa yang kuat fisiknya, ia akan selamat.

Saya seperti sedang membaca novel “Sampar” Albert Camus. Jangan anggap sepele.

Tapi juga, kita berharap pemerintah serius; menghargai nyawa rakyat lebih dari segalanya. Stop keinginan mencari untung pribadi dari kecemasan rakyat karena virus.

Kalau anggaran dari seluruh instansi dikembalikan demi penanganan covid, ya salurkan sesuai aturan. Usah disunat-sunat. Saatnya beribadah bagi rakyat. Nyawa rakyat adalah nyawa kita juga: pejabat atau pemangku jabatan.

Pemerintah kita minta konsekuen: ada pejabat yang berani korupsi anggaran covid, langsung dihukum seberat-beratnga. Efek jera amatlah penting.

Pelanggaran apa pun. Juga abai menjaga prokes demi keamanan dan keselamatan banyak orang.

Salam.