• Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, Mei 16, 2026
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Opini
  • Pendidikan
  • Hiburan
Home Ruwa Jurai Bandar Lampung

Jalan Edeilweis dan Etika Menempuh Ketidakpastian

MeldaEditorMelda
Des 30, 2025
A A
Puisi Romantis Kontemplatif Muhammad Alfariezie, Pengalaman Personal yang Universal
ADVERTISEMENT

PANTAU LAMPUNG- Puisi Jalan Edeilweis karya Muhammad Alfariezie menghadirkan refleksi mendalam tentang perjalanan manusia dalam mencari makna, kebenaran, dan pengetahuan. Melalui metafora perjalanan, penyair tidak sekadar mengajak pembaca berpindah dari satu ruang ke ruang lain, tetapi masuk ke wilayah eksistensial dan epistemologis: bagaimana manusia memahami dunia, risiko, serta keterbatasannya sendiri di tengah ketidakpastian hidup.

Sejak larik awal, “Pelan-pelan kita jalan hingga sampai”, penyair langsung menempatkan subjek kolektif “kita” dalam posisi yang hati-hati dan penuh kesadaran. Perjalanan ini tidak dilakukan dengan gegap gempita, melainkan perlahan, seolah setiap langkah memerlukan pertimbangan etis dan rasional. Kata “sampai” yang biasanya bermakna final justru segera dipatahkan oleh larik berikutnya, “Di sana, bisa mati”, menandai bahwa tujuan tidak selalu identik dengan keselamatan atau keberhasilan.

Gambaran gunung dan danau yang “berlimpah sumber daya” memperlihatkan daya tarik tujuan, baik dalam konteks material, pengetahuan, maupun kekuasaan. Namun, kekayaan tersebut tidak hadir tanpa risiko. Edeilweis, bunga yang sering diasosiasikan dengan keabadian dan kemurnian, tumbuh di sisi jalan yang penuh belukar. Simbol ini menegaskan bahwa nilai, kebenaran, atau makna hidup sering kali justru ditemukan di wilayah sulit, bukan di ruang aman yang serba pasti.

BeritaTerkait

Panitia Pesta Babi Klaim Ada Ketakutan ASN terhadap Ruang Diskusi Publik

Kritik Kekuasaan dalam Puisi Muhammad Alfariezie, Wali Kota Disebut “Hakim Pembegalan”

Puisi ini juga memuat kritik tajam terhadap cara manusia merepresentasikan realitas. Larik “dalam peta, hanya sebatas simbol dan logika” menunjukkan keterbatasan peta, data, dan teori dalam menangkap kompleksitas kenyataan. Sungai yang mudah banjir atau mengering menjadi metafora dinamika sosial dan alam yang tidak selalu sejalan dengan perhitungan rasional. Di titik ini, puisi berfungsi sebagai kritik terhadap kecenderungan menyederhanakan realitas menjadi angka dan skema.

Menariknya, Muhammad Alfariezie menyebut figur “jurnalis dan peneliti atau polisi” sebagai pihak yang harus “ke sana”. Mereka melambangkan profesi praksis yang dituntut turun ke lapangan, bersentuhan langsung dengan risiko dan ketidakpastian. Tugas mereka bukan sekadar mencari kepastian, melainkan “mengungkap skeptis”, yakni membuka keraguan dan mempertanyakan klaim kebenaran yang mapan.

ADVERTISEMENT

Pada bagian akhir, puisi ini semakin menegaskan dimensi eksistensialnya. Diskursus yang hanya “bicara bayang” dikontraskan dengan fakta bahwa “*ajal terlalu liar untuk diterjemah”. Di sini, penyair menegaskan batas bahasa dan pengetahuan manusia: ada realitas yang tidak sepenuhnya dapat dipahami atau dikendalikan.

Secara keseluruhan, Jalan Edeilweis adalah puisi reflektif yang menawarkan sikap, bukan jawaban. Ia mengajak pembaca untuk berani berjalan, menerima risiko, dan bersikap kritis terhadap pengetahuan yang terlalu percaya diri. Puisi ini menegaskan bahwa makna sejati tidak ditemukan dengan diam di tempat aman, melainkan dengan keberanian menempuh jalan terjal menuju ketidakpastian.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: #muhammad alfariezieanalisis puisiJalan EdeilweisKritik SosialMetafora PerjalananPuisi IndonesiaSastra Kontemporer
ShareTweetSendShare
Previous Post

The Ultimate Guide to Mini Baccarat High Stakes Player Interviews

Next Post

Herdman Datang, Romantisme Garuda Era Shin Dipertanyakan

Related Posts

Kantah Tanggamus Gandeng Stakeholder Percepat Penyelesaian Residu PTSL
Berita

Kantah Tanggamus Gandeng Stakeholder Percepat Penyelesaian Residu PTSL

Mei 16, 2026
Kantah Tanggamus Dukung Pelayanan Publik Lewat Launching Samsat Talang Padang dan Pembagian SPPT PBB-P2
Berita

Kantah Tanggamus Dukung Pelayanan Publik Lewat Launching Samsat Talang Padang dan Pembagian SPPT PBB-P2

Mei 16, 2026
Ranperda Penataan Swalayan dan Minimarket Mulai Dibahas, Kantah Tanggamus Dukung Penataan Usaha yang Berkelanjutan
Berita

Ranperda Penataan Swalayan dan Minimarket Mulai Dibahas, Kantah Tanggamus Dukung Penataan Usaha yang Berkelanjutan

Mei 16, 2026
Edi Agus Yanto: Pelayanan Publik Tak Boleh Sulit Diakses karena Kedekatan dan Kekuasaan
Bandar Lampung

Edi Agus Yanto: Pelayanan Publik Tak Boleh Sulit Diakses karena Kedekatan dan Kekuasaan

Mei 15, 2026
Pemkot Bandar Lampung Disorot, Hibah Gedung Kejati Rp60 Miliar Dibanding Jalan Lingkungan Minim
Bandar Lampung

Pemkot Bandar Lampung Disorot, Hibah Gedung Kejati Rp60 Miliar Dibanding Jalan Lingkungan Minim

Mei 15, 2026
Dari Konflik Pandemi hingga Kepastian Hukum, Tanah Ulayat Nagari Sitapa Kini Terlindungi
Berita

Dari Konflik Pandemi hingga Kepastian Hukum, Tanah Ulayat Nagari Sitapa Kini Terlindungi

Mei 15, 2026
Next Post
Herdman Datang, Romantisme Garuda Era Shin Dipertanyakan

Herdman Datang, Romantisme Garuda Era Shin Dipertanyakan

Arus Balik Akhir Tahun, Bus dan Logistik Dominasi Bakauheni

Arus Balik Akhir Tahun, Bus dan Logistik Dominasi Bakauheni

مباشر روليت مباشر مع ديلر حقيقي للرهانات الكبيرة: دليل شامل

Roulette um echtes Geld legal: Alles, was Sie wissen müssen

Guida alla Roulette con Soldi Veri: Come Giocare e Vincere

banner 300250

Berita Terkini

  • Kantah Tanggamus Gandeng Stakeholder Percepat Penyelesaian Residu PTSL
  • Kantah Tanggamus Dukung Pelayanan Publik Lewat Launching Samsat Talang Padang dan Pembagian SPPT PBB-P2
  • Ranperda Penataan Swalayan dan Minimarket Mulai Dibahas, Kantah Tanggamus Dukung Penataan Usaha yang Berkelanjutan
  • Edi Agus Yanto: Pelayanan Publik Tak Boleh Sulit Diakses karena Kedekatan dan Kekuasaan
  • Pemkot Bandar Lampung Disorot, Hibah Gedung Kejati Rp60 Miliar Dibanding Jalan Lingkungan Minim
Pantau Lampung

Selamat datang di Pantau Lampung, portal berita yang mengabarkan secara cermat dan tepat tentang berbagai peristiwa dan perkembangan terkini di Provinsi Lampung. Kami hadir untuk menjadi sumber informasi terpercaya bagi masyarakat Lampung dan pembaca di seluruh Indonesia.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In