oleh

Indonesia dan Toeti Heraty

Oleh Eka Budianta

Kepergian Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi Roosseno pada pukul 5.10 Minggu, 13 Juni 2021 membuat keluarga besar Universitas Indonesia, dunia ilmuwan dan cendekiawan Indonesia turut berduka. 

Begitu mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie mengungkapkan dalam twitter pribadinya. 

Berita duka itu disebarkan oleh sebuah laman di Tangerang Selatan.

Dalam hitungan menit berbagai platform komunikasi: laman (website), Grup WhatsApp, Instagram, dsb., segera dipenuhi oleh berita wafatnya, puisinya, foto-foto, video dan kisah kehidupan Toeti Heraty. 

Selepas dzuhur ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet, Jakarta Pusat.  Di sana ayahnya (Prof. Roosseno), penyair Chairil Anwar, novelis Pramoedya Ananta Toer, dan pahlawan nasional Momahad Husni Thamrin beristirahat abadi.

Toeti Heraty dikenal sebagai pemikir paling progresif dan aktifis serba bisa di Indonesia. 

Kegiatannya bervariasi dari urusan perempuan, hukum, sastra, ekspor rempah-rempah, bisnis penginapan, koleksi lukisan hingga filsafat. 

Presiden Joko Widodo menganugerahkan Bintang Budaya Parama Dharma pada peringatan Kemerdekaan RI ke 72, Agustus 2017.  Waktu itu Toeti usianya 84 tahun, dan sejak itu pula kerjanya semakin  keras karena merasa banyak sekali yang harus dilakukan.

Toeti merasa mendapat amanat dari Sutan Takdir Alisjahbana untuk mengisi dan memperbarui ensiklopedi pemikir dan filsuf dunia yang terbit di Perancis. 

Kontribusi Toeti untuk buku ini meliputi nama-nama N. Driyarkara, R.A. Kartini, 
Hamzah Fansuri, dan banyak lagi sebagai pemikir berkaliber internasional dari Nusantara. 

Toeti sendiri dengan latar belakang ilmu kedokteran, psikologi dan filsafat tentu harus disusulkan.  

Ibu Toeti (begitu kami memanggilnya) juga memimpin Mitra, jurnal budaya dan filsafat hingga detik terakhir hidupnya.  Ia sendiri yang merancang, mengisi dengan pilihan artikel serta gambar yang disukainya.  Meskipun begitu, ia menuliskan nama Karlina Supelli dan Eka Budianta sebagai Redaktur Pelaksana.

Bersama puterinya, Inda Citraninda, Toeti menginisiasi program pendidikan penulisan kreatif dan hak kekayaan intelektual. 
Dari pagi hingga pagi jadwalnya penuh dengan membaca, menulis, melayani wawancara, dan bepergian ke mana saja.  Termasuk kalau ingin menyiapkan batu nisan bagi orang-orang yang dinilainya telah banyak berperan. Bukan hanya di Pekuburan Bergota Semarang dan di Hutan Krasak Parakan, tapi juga pemakaman kuno di Gowa, India.  

Toeti Heraty  bisa sewaktu-waktu pergi berziarah, menghadiri pemakaman, menjenguk kenalan yang sakit, maupun mensponsori kegiatan yang dinilainya penting. Ia adalah seorang filantropis, sekaligus tempat orang datang meminta sumbangan.  Ia membuka rumahnya di Menteng, Jakarta menjadi museum dan galeri, penginapan dan café.  Begitu juga rumah-rumahnya di Bandung, beberapa di Bali, di Amsterdam, Negeri Belanda, maupun negara-negara lain. 

Jadi apa jasanya bagi Indonesia?  Toeti Heraty adalah  model aktifis dan pemikir  yang boleh dicatat paling mumpuni dalam praksis maupun gagasan.  Secara konkrit ia ikut berperan di bidang politik –  ketika mendirikan Partai Amanat Nasional.  Ia mendukung gerakan perempuan sejak Reformasi hingga berlanjut menerbitkan berkala Jurnal Perempuan.  

Bagi organisasi penulis Toeti merelakan rumahnya menjadi kantor, dan membiayai kegiatan PEN Indonesia, sampai berlanjut dengan munculnya Satupena. 

Dia  memberikan Roosseno Award bagi tokoh-tokoh dan lembaga yang dinilainya berjasa besar bagi pembangunan Indonesia.  Di antara penerima hadiah Roosseno – yang bernilai ratusan juta rupiah itu, ada Prof. BJ Habibie,  Prof. Franz Magnis Suseno, Prof.  Wiratman Wangsadinata, Prof. Saparinah Sadli, dan mantan Gubernur DKI, Ir. Basuki Tjahaya Purnama.

Toeti Heraty rajin menghadiri berbagai acara sastra, budaya, pendidikan, dan reuni di berbagai penjuru Tanah Air.

Ketika Taufiq Ismail dan kawan-kawan mengadakan acara Maklumat Sastra 24 Maret 2013 di Sekolah Kweek School, Bukittinggi, tempat lahirnya Poedjangga Baroe, Toeti juga hadir.  Begitu pula dalam Festival Pengarang dan Pembaca di Candi Borobudur dan di Ubud, Bali.  Biasanya dia membawa teman-teman, lengkap dengan ikut membiayai dan menyemangati. 

Semua itu dilakukan Toeti, sebagai puteri sulung Bapak Beton Indonesia, yang patriotis dan dekat Presiden Pertama, Ir. Soekarno. 

Perempuan kelahiran Bandung,
27 November 1933 ini memang pandai mensyukuri perkembangan bangsa dan Tanah Airnya.  

Sepatutnya bila Indonesia berterima kasih kepadanya untuk pemikiran, karya-karya tulis, perhatian, dan sumbangan nyata yang telah diberikan sepanjang hidupnya. *** 

  • Eka Budianta adalah sastrawan/budayawan Indonesia.