oleh

Trade Expo Indonesia 2022 bawa Lada Hitam Lampung Timur kian Mendunia

Trade Expo Indonesia 2022 menjadi semangat baru bagi para petani lada hitam asal Kabupaten Lampung Timur untuk membangkitkan kembali kejayaan Lampung sebagai Tanah Lada.

 

Mulai pulihnya ekonomi dunia pasca pandemi berdampak pada peningkatan ekspor lada hitam asal Kabupaten Lampung Timur yang menjadi salah satu daerah penyumbang nilai ekspor tertinggi untuk komoditas lada hitam dengan kualitas terbaik.

Berdasarkan data pada kuartal I tahun 2022, nilai ekspor lada hitam sudah mencapai hingga US$17 juta atau meningkat hingga 44,05 persen dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya (yoy).

Peningkatan nilai ekspor ini juga berbanding lurus dengan peningkatan volume ekspor, dengan jumlah hingga 4,85 ribu ton atau meningkat hingga 10,16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan nilai ekspor ini tidak terlepas dari kerjasama lintas kementerian dan lembaga mulai dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian hingga Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk mendongkrak produksi lada hitam yang ada di enam desa di Kabupaten Lampung Timur yang ditetapkan sebagai Desa Devisa Lada Hitam satu-satunya di Indonesia.

Selain itu, berbagai event perdagangan tingkat internasional termasuk perhelatan Trade Expo Indonesia yang digelar Kementerian Perdagangan sangat efektif meningkatkan volume ekspor lada hitam asal Lampung ke lebih dari 27 negara di dunia.

Lada Hitam Lampung Timur Diminati di Trade Expo Indonesia 2022

Komoditas lada hitam asal enam desa di Kabupaten Lampung Timur yang menjadi binaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) bahkan berhasil menarik minat banyak buyer asal berbagai negara ketika perhelatan Trade Expo Indonesia 2022 (TEI 2022) berlangsung.

Direktur Eksekutif LPEI Riyani Tirtoso menilai Trade Expo Indonesia tahun 2022 ini menjadi momentum strategis bagi para mitra binaaan LPEI untuk memperluas akses pasar. Dan, lada hitam asal Lampung Timur menjadi salah satu produk yang paling diminati.

Terlebih lagi, tahun 2022 menjadi masa pemulihan sekaligus peningkatan bagi perekonomian di seluruh dunia untuk kembali bangkit pasca dihantam badai pandemi.

“Momentum Trade Expo tahun ini menjadi sangat strategis buat mitra binaan kami untuk memperluas akses pasar untuk meningkatkan ekspor nasional pasca pandemi. Dan, salah satu komoditas yang paling diminati itu adalah lada hitam asal Lampung Timur ini,” kata Riyani Tirtoso.

Sejumlah buyer asal negara India, Jerman dan Australia bahkan sudah menyatakan minatnya untuk menambah kapasitas ekspor lada hitam asal Lampung Timur ini, karena melihat kualitas dan karakteristik aroma dan cita rasanya yang khas dan tidak dimiliki daerah lain.

Dalam TEI 2022 ini, LPEI yang berperan sebagai mitra strategis Kementerian Perdagangan, benar-benar memaksimalkan upaya promosi berbagai produk maupun komoditas mitra binaannya di tiap event TEI 2022 seperti business counseling, business matching dan pameran promosi.

Riyanti Tirtoso mengatakan peningkatan permintaan produk rempah khususnya lada hitam ini menjadi penanda kian pulihnya ekonomi dunia pasca pandemi. Selain itu, lada hitam asal Indonesia juga mampu bersaing di pasar global sehingga menjadi keuntungan kompetitif bagi Indonesia untuk melakukan ekspor yang lebih besar lagi.

“Target kita di trade expo ini adalah peningkatan daya saing global agar bisa lebih meningkatkan nilai ekspor khususnya lada hitam asal desa devisa yang ada di Lampung Timur ini. Apalagi, situasi pasca pandemi seperti saat ini  sudah sangat mendukung seiring dengan pulihnya ekonomi global,” katanya optimis.

Baca Juga: Kartu Petani Berjaya untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani dan Produktivitas Hasil Pertanian

TEI 2022 Menjadi Semangat Baru Petani Lada Hitam Lampung

 

Presiden Joko Widodo membuka Trade Expo Indonesia tahun 2022. foto: Setkab

 

Momentum TEI 2022 ini juga menjadi semangat baru bagi para petani yang ada di Lampung untuk kembali bangkit melalui komoditas lada hitam yang pernah menjadi simbol kejayaan Provinsi Lampung sebagai daerah penghasil lada hitam berkualitas terbaik dan terbesar di Indonesia.

Bupati Lampung Timur,  Muhammad Dawam Rahardjo bahkan menilai keikutsertaan para petani lada asal Lampung Timur dalam TEI 2022 ini sangat mampu membangun optimisme baru bagi para petani lada yang ada di wilayahnya.

“Kami bersyukur dan berterima kasih kepada Kementerian Perdagangan dan LPEI yang telah mengenalkan lada hitam asal Lampung Timur sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan ke pasar global di Trade Expo Indonesia. Kami akan terus berupaya meningkatkan kualitas dan produktivitas lada hitam agar memiliki daya saing yang tinggi,” kata Dawam Raharjo.

Pada Trade Expo Indonesia – Digital Edition tahun 2021 lalu, komoditas lada hitam asal Lampung Timur ini juga bahkan sudah mengundang minat buyer dari berbagai negara ketika dikenalkan oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi

Salah satu negara yang antusias terhadap lada hitam ini adalah India. Kementerian Perdagangan bahkan menjadikan India sebagai bagian dari mitra strategis perdagangan rempah Indonesia yang merupakan negara tujuan utama ketiga ekspor rempah-rempah Indonesia.

Dalam webinar bertajuk Amazing Spices: Accolade To The India-Indonesia’s Adamant Cohesiveness In Exotic Spices, Didi Sumedi berharap bisnis ekspor rempah antara Indonesia dan India bisa terus ditingkatkan di tahun-tahun yang akan datang.

Desa Devisa Lada Hitam

Seperti diketahui enam desa yang tersebar di tiga kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Timur ditetapkan sebagai Desa Devisa Lada Hitam satu-satunya di Indonesia.

Enam desa yang menjadi sentra komoditi lada hitam itu yakni; Desa Sukadanabaru, Tanjungharapan, Negerikaton dan Desa Suryamataram di Kecamatan Margatiga. Kemudian, Desa Caturswako, Kecamatan Bumiagung serta Desa Putraaji Dua, Kecamatan Sukadana.

Terdapat sedikitnya 500 petani lada hitam yang berasal dari enam desa tersebut, dan tergabung dalam beberapa Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang memiliki kapasitas produksi rata-rata hingga 150 kilogram per hari.

Penetapan Desa Devisa Lada Hitam ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Perindustrian dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman tentang pengembangan industri kecil dan industri menengah berorientasi ekspor untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha dan mengembangkan potensi wilayah.

LPEI melakukan pendampingan secara berkelanjutan kepada gabungan kelompok tani lada hitam agar mampu melakukan ekspor secara mandiri sebagai bagian dari program Indonesia Spice Up.

Tingginya Permintaan Ekspor Lada Hitam

 

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan didampingi Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi memberi keterangan pers usai rakor pengembangan komoditas ekspor di Lampung.

 

Pada tahun 2021 lalu, lada hitam asal Lampung memiliki volume ekspor hingga 9.702 ton dengan nilai 31.462.518 USD. Dengan negara tujuan ekspor meliputi; Australia, Belgia, Canada, China, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hongkong, India, Italy, Jepang, Malaysia, Nepal, Belanda.

Selanjutnya ialah negara Pakistan, Polandia, Rusia, Saudi Arabia, Singapura, Spanyol, Taiwan, Thailand, Turki, United Kingdom, Amerika Serikat dan terakhir ialah Vietnam.

Lada hitam asal Lampung Timur ini diminati oleh banyak negara karena memiliki karakteristik yang berbeda, oleh karena itu lada hitam asal Lampung telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis (IG) Lada Hitam yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Sertifikat IG ini menunjukkan bahwa komoditas lada Lampung memiliki reputasi kualitas yang baik dan menjadikan lada hitam sebagai komoditas unggulan Lampung berkualitas ekspor.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dalam kunjungannya ke Lampung pada Juli 2022 lalu bahkan optimis, enam desa yang ditetapkan sebagai desa devisa ini akan mampu mengembalikan identitas dan kejayaan Lampung sebagai Tanah Lada.

“Sebagai putra daerah Lampung, saya yakin Kabupaten Lampung Timur akan mampu mengembalikan kejayaan Lampung sebagai tanah lada atau Tanoh Lado,” kata Zulkifli Hasan.

Apalagi, lanjut Zulkifli Hasan, komoditas lada hitam asal Lampung diminati oleh berbagai negara sehingga bisa menjadi peluang yang besar untuk Lampung agar bisa mengembalikan kejayaan lada sebagai identitasnya. (Meza Swastika)