Biografi Presiden Penyair

Esai313 Dilihat

BUKU ini berjudul “Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian” yang ditulis Taufik Ikram Jamil. Diterbitkan Milaz Grafika, Tajungpinang Cetakan : I, 2021. Tebal XLIV + 466 dan ISBN 978-602-1173-61-9.

Buku tentang di balik Sutardji Calzoum Bachri ini layak dimiliki dan dibaca. Apalagi penulisnya, Taufik Ikram Jamil sejak belia sudah mengenal maestro Tanah Melayu ini. Saat TIJ masih pewarta di Kompas untuk Riau.

Terkadang sesuatu yang di belakang karya senantiasa menarik untuk diketahui, sebab selain selalu tersembunyi, ihwal keberadaannya tidak bisa dianggap enteng untuk melihat pewujudan sebuah karya. Malahan, apa yang kemudian disebut latar belakang tersebut, acap lebih penting dari karya itu sendiri. Karena bisa jadi, karya yang tampak ke permukaan hanyalah sebagai suatu gejala—bukan esensi suatu kehidupan.

Dengan fitrah kreatifnya, orang senantiasa berusaha untuk memahami apa yang ada di balik suatu gejala.

Sebuah biografi dengan demikian menjadi cukup penting, mengiringi perjalanan seseorang dalam mencapai sesuatu. Begitu jugalah yang hendak diperlihatkan melalui buku bertajuk Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian oleh Taufik Ikram Jamil.

Buku ini menyingkap latar belakang kehadiran seorang penyair yang amat fenomenal, mulai dari kecil sampai dewasa, bahkan sampai beberapa bulan sebelum buku ini diterbitkan. Tentu tidak ketinggalan tentang capaian yang diperolehnya karena bagaimanapun, buku ini ada karena Sutardji Calzoum Bachri (SCB) berkarya.

Ada 17 bab yang dibentangkan buku ini. Bab pertama langsung menohok pada pengakuan SCB dalam kreativitas dengan satu kepercayaan bahwa pada dasarnya kerja kebudayaan adalah pengakuan dan diakui. Kenyataan ini sekaligus mengarahkan bagaimana buku tersebut ditulis tidak berdasarkan kalendaris, tetapi tema. Kisah SCB ketika kecil, baru ditemui pada bab keempat di bawah tajuk  Emak, Emak, Emak…, sedangkan dua bab berikutnya menceritakan latar daerah tempat lahir dan masa kecil SCB, kemudian sosok-sosok terkemuka yang memiliki hubungan sejarah dan tempat dengan SCB.

BACA JUGA :   Tugas Pernyair untuk Terus Belajar

Contoh lain terlihat dari pemantik kreativitas SCB. Setelah berbab-bab membicarakan masa kecil, remaja, capai-capaian sampai mewariskan kepada dunia, buku ini memaparkan apa sebetulnya yang menjadi awal pengkaryaannya di bawah tajuk Sebelum Pantun Diakui UNESCO. 

Sebelum bab terakhir yakni bab 16, buku ini menceritakan karya SCB pertama, lalu keinginannya untuk terus berkarya. Dibicarakan pula pada bab ini tentang kredo puisi SCB yang tidak saja satu sebagaimana dikenal selama ini, tetapi dua kredo, dalam jahitan estetika dan kultural.

Bab terakhir bertajuk Mencari Jalan untuk Kembali, merupakan bab yang amat sedih karena memuat semacam wasiat, di mana ia hendak melabuhkan jasadnya kelak.

Dibuka oleh H.M. Nasruddin Ansoryi Ch dengan catatan Maman S. Mahayana, buku ini ditutup oleh pandangan sejumlah pakar dari Malaysia, Singapura, Brunei, Korea Selatan, Belanda, dan tentu Indonesia sendiri, yang menuturkan capaian SCB secara luar biasa, sehingga pantas mendapat Nobel.

Sebagaimana sebuah biografi, kisah sedih dan lucu saling kelindan, begitu pula biografi presiden penyair ini. Tentu kita terpingkal-pingkal ketika membaca bagaimana cara SCB kecil tidak menghendaki kehadiran gadis-gadis kecil di sekitarnya, juga mewawancari orang gila untuk suatu liputan.

Dikenal urakan, ternyata SCB pernah memiliki boneka, tapi juga tidak pernah diketahui siapa pacarnya ketika remaja baik di Riau maupun ketika di Bandung, kemudian menambatkan hati pada seorang perempuan yang dikenalnya di Jakarta dan menikah dalam usia 42 tahun.

SCB ternyata pintar masak, apalagi berkaitan dengan ikan.
Masih banyak lagi kisah-kisah menarik lainnya tentang SCB dalam buku ini, yang belum tentu diketahui khalayak ramai. Dalam setiap kisah yang diceritakan tentu saja bisa dipetik hikmah dan kebaikan bagi pembaca, seperti bagaimana pengalaman spiritual yang dialami SCB, misalnya.
Pengalaman spritualnya tak tanggung-tanggung pula. Selalu ia mengigau menyebut nama emak dan Allah, kemudian apa yang dipikirkannya hampir tiap hari, sehingga melahirkan sajak semacam amuk dan kucing. Dalam sebuah mimpi di Bandung, ia diperlihatkan batas umurnya yang akan berakhir pada usia 48 tahun oleh sebuah tulisan, sehingga ia harus ngebut di jalan Tuhan. Nyatanya, alhamdulillah, 24 Juni nanti, ia mencapai usia 80 tahun. Selamat Milad Happy Tuan Presiden Penyair, selalu dilimlahkan berkah untukmu selalu. Amin.

BACA JUGA :   Kualitas Udara Buruk, Rujukan Pembangunan Malah Masjid, Lupa RTH-kah?

Buku dengan hardcover ini dipatok harga Rp250.000. Jika memesan sebelum milad ke-80 SCB, 24 Juni, dapat potongan 15 persen dari harga Rp250.000 di luar ongkos kirim. Kontak Whatsapp 085738446577 (Ratna) 081261334682 (Megat), 0813-7189-0115 (Salmah), +62 823 2915 4827 (Ade).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *