oleh

Temu Penyair Lampung, Buku Puisi Solihin Utjok Diluncurkan

METRO, PL – Solihin Utjok meluncurkan buku berjudul “Sebait Syair untuk Tuhan” pada Sabtu (02/10) sore di Omah Wani Gerak, Kota Metro.

Pada acara tersebut hadir dua penyair senior Lampung sebagai pengulas karya, yaitu Isbedy Stiawan ZS dan Ari Pahala Hutabarat.

Pengunjung yang hadir dalam acara peluncuran buku itu cukup banyak dan berasal tidak hanya dari Kota Metro. Di antaranya para seniman Lampung adalah Agusri Junaidi, Deni Ardiansyah, Amin Budi Utomo, Rifian A Cheppy, Taufik, Arman AZ, Edi Siswanto, Alexander Gebe, dan banyak lagi. Selain itu Ketua KPU Metro Pakcik, Komisioner KPU Lampung Agusriyanto, dan para guru.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Metro Siti Rogayati Seprita, membuka acara tersebut.

Isbedy Stiawan ZS menyebut puisi-puisi karya Solihin Utjok sebagai bukti bahwa puisi mampu bekerja sebagai medium untuk mengabadikan moment yang melintas di kehidupan sehari-hari.

Isbedy juga menilik diksi dari beberapa puisi Solihin Utjok yang menggunakan kata yang sudah jarang muncul di masa kini, seperti terpegun, layung, ruyup dan lecap.

Mengikuti pendapat Isbedy tentang diksi tersebut, maka puisi karangan Solihin Utjok memberikan peluang kepada pembaca untuk membuka kamus kemudian berselancar mencari makna di dalamnya.

“Artinya penyair ini serius bergelut pada kata atau bahasa sebagai medium pengungkapan perasaan dan pikiran (imaji),” kata penyair berjuluk Paus Sastra Lampung itu.

Ari Pahala Hutabarat membuka percakapan dalam acara tersebut dengan kebahagiaan atas peluncuran buku puisi Solihin Utjok.

Bagi Direktur Artistik KoBer yang juga penyair ini, puisi-puisi dalam buku tersebut menunjukkan usaha keras Solihin Utjok dalam memindahkan peristiwa puitik yang bersifat personal ke dalam ruang yang lebih luas, yakni sosial.

Sutradara ini juga memberikan pengetahuan kepada peserta mengenai pentingnya menguasai bahasa sebagai alat utama dalam membentuk puisi.

“Seni adalah teknik, maka seniman harus lebih dulu menguasai teknik. Kalau puisi mediumnya adalah bahasa, penyair mesti menguasai bahasa. Seorang penyair sejak dalam imaji harus baik dan benar, dan diungkapkan dengan bahasa yang benar dan baik pula,” kata dia.

Sebelumnya, Siti Rogayati Seprita, Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Metro, menyambut baik peluncuran buku puisi Solihin Utjok sekaligus berharap agar karya tersebut mampu memperkaya kesusastraan di Kota Metro.

Ketua Dewan Kesenian Metro Muadin Effuari, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa beberapa penyair di Kota Metro memiliki buku siap terbit di waktu mendatang.

Solihin Utjok membuka proses kreatif yang melatarbelakangi empat puluh puisi di dalam buku tersebut. Ia tidak membiarkan pikiran-pikiran yang mengendap ketika berhadapan dengan kelindan hidup sehari-hari berlalu begitu saja. Pada saat sepi, ia menumpahkan semua endapan pikiran ke dalam larik-larik puisi.

Budayawan Ahmad Zaki berhasil memandu acara tersebut sehingga muncul diskusi yang menggairahkan.