PANTAU LAMPUNG – Sastrawan Lampung Udo Z Karzi kembali mengukir sejarah dengan meraih Hadiah Sastra Rancage 2025 untuk kategori sastra Lampung melalui kumpulan cerpennya Minan Lela Sebambangan: Selusin Cerita Buntak. Penghargaan ini diumumkan oleh Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage, Etti RS, dalam acara yang digelar di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, Jumat (31/1/2025).
Prestasi ini menjadikan Udo sebagai sastrawan Lampung pertama yang memenangkan Hadiah Sastra Rancage dalam tiga genre berbeda. Sebelumnya, ia meraih penghargaan untuk puisi Mak Dawah Mak Dibingi (2008) dan novel Negarabatin (2017).
“Penghargaan ini adalah kebanggaan bagi saya dan juga untuk sastra Lampung agar tetap eksis,” ujar Udo Z Karzi.
Mengungguli Dua Karya Lain
Dalam kategori sastra Lampung, Minan Lela Sebambangan berhasil mengungguli dua karya lainnya, yaitu:
- Lehot Meranai Sai Jama Kundang Ni (kumpulan puisi) – Edy Samudra Kertagama
- Ranglaya Mulang (kumpulan puisi) – Elly Dharmawanti
Selain sastra Lampung, Hadiah Sastra Rancage 2025 juga diberikan kepada sastrawan dari berbagai daerah lain, antara lain:
- Sastra Sunda: Anggota Dewan Ngagantung Maneh – Hidayat Soesanto
- Sastra Jawa: Dalan Sidhatan – St Sri Emyani
- Sastra Bali: Renganis – Komang Sujana
- Sastra Batak: Perhuta-Huta Do Hami – Panusunan Simanjuntak
Tahun ini, tidak ada pemenang untuk kategori sastra Banjar dan Madura, serta Hadiah Sastra Anak (Samhudi).
Keunggulan Minan Lela Sebambangan
Menurut Farida Ariyani, juri sastra Lampung, Minan Lela Sebambangan bukan sekadar kumpulan cerpen, tetapi juga bentuk nyata pelestarian bahasa dan budaya Lampung.
“Karya ini menggambarkan kehidupan masyarakat Lampung secara autentik, termasuk tradisi perkawinan sebambangan, urau, warahan, dan sagata. Selain itu, gaya bahasa yang memadukan bahasa Lampung, istilah lokal, dan bahasa sehari-hari membuatnya lebih menarik,” jelas Farida.
Dengan pendekatan ini, Udo berhasil membawa sastra daerah lebih dekat dengan pembaca modern tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya.
Krisis Regenerasi Sastrawan Lampung
Meski bangga atas kemenangan ini, Udo Z Karzi juga menyoroti minimnya regenerasi sastrawan Lampung.
“Saya menang bukan karena banyaknya pesaing, tetapi karena sedikitnya karya yang bisa dinilai. Tahun ini hanya ada tiga judul yang memenuhi syarat minimal. Tahun lalu, bahkan tidak ada satu pun karya sastra Lampung yang terbit,” ungkapnya.
Hal ini juga menjadi perhatian Etti RS, yang menyoroti bahwa mayoritas sastrawan daerah saat ini berusia di atas 50 tahun.
“Kecuali di Bali, regenerasi sastrawan daerah sangat minim. Ini menjadi tantangan besar bagi kelangsungan sastra daerah,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Yayasan Kebudayaan Rancage berencana melakukan riset mendalam untuk memahami penyebab minimnya regenerasi. Salah satu solusi yang tengah dipertimbangkan adalah memasukkan karya sastra digital dalam penilaian Hadiah Sastra Rancage di masa depan.
Masa Depan Sastra Lampung
Udo berharap sastra Lampung semakin berkembang dan lebih banyak generasi muda yang mau menulis dan menerbitkan karyanya.
“Saya ingin melihat lebih banyak sastrawan muda yang berkarya. Jika kita tidak terus menulis, sastra daerah bisa tenggelam,” pungkasnya.
Sebagai bentuk apresiasi, pemenang Hadiah Sastra Rancage 2025 akan menerima piagam penghargaan dan uang tunai Rp 7 juta. Acara penyerahan penghargaan akan diumumkan dalam waktu dekat.***












