oleh

Masdibyo : Pelukis Harus Menguasai Pemasaran dan Punya Sikap

SEMARANG, PL – Pelukis Yoyok Barokalloh menggelar pameran tunggal bertajuk : “Moving”. Puluhan karyanya bercorak realis dan impresionis dengan berbagai ukuran ditaja di Gedung Monod Deiphuis, Jalan Kepodang, Semarang. 8 – 21 Agustus 2022.

Pameran tunggal perdana Yoyok Barokalloh dibuka pelukis kondang asal Tuban Masdibyo, Senin (8/8/2022) juga dihadiri perupa Klowor Waldiyono (jogjakarta), Hani Santana (Cilacap), Wahyu Kokkang, dan sejum;ah para perupa Semarang antara lain; Kokok Hari Subandi, Hartono Galeri Proses, Harry Suryo, S.Hartono, Atiek Krisna, Sarutomo, Ratna Sawitri, Giman dan Djoko Susilo. Masdibyo dalam sambutannya mengatakan, Yoyok merupakan salah satu pelukis potensial yang dimiliki Semarang.

Masdibyo lebih lanjut mengatakan, beberapa waktu yang lalu ketika diundang dalam acara melukis bersama OTS yang digelar para perupa Kabupaten Semarang, di Canggu sempat berjumpa dengan mas Yoyok. Dia sempat menyeket saya kemudian dilanjutkan ngobrol-ngobrol. Mas Yoyok berkisah ternyata dia pernah “kecipratan” rejeki dari saya.

”Ada sebuah kebiasaan saya berbagi sedikit rejeki kepada rekan-rekan Facebook yang biasanya saya pilih secara acak, karena saya tak ingin mengingat kepada siapa saya berbagi. Ternyata mas Yoyok salah satu kawan yang pernah mendapat transferan dari saya,” ujar pelukis kelahiran Pacitan ini.

Kemudian dari melihat hasil sketsa dan obrolan Masdibyo mengambil keputusan untuk menyambangi rumah Yoyok Barokalloh selepas acara OTS. Di rumah Yoyok yang sederhana di kawasa Perumahan Dinar Asri, Kota, Semarang. Masdibyo mengaku terkejut. “ Saya sangat terkejut ketika melihat rumah yang sederhana seperti orangnya ternyata Yoyok menyimpan puluhan karya lukisannya ,” ujar pelukis yang punya studio di Jeju Island, Korea Selatan ini.

Menurut penyandang nama asli Joko Sudibyo ini Yoyok yang pendiam ini ternyata sematngatnya dalam melukis dengan bukti hasil karyanya yang banyak ini ibarat “kendil isi madu”. Masdibyo kemudian mendorong Yoyok untuk untuk pameran tunggal. “Maka ketika mas Yoyok minta saya untuk membuka pameran tunggalnya saya menyanggupinya,” ujar Masdibyo yang sedang mempersiapkan pameran tunggalnya di Bakri Tower, Kuningan, Jakarta.

Masdibyo berpesan kepada Yoyok, tak hanya berhenti dalam pameran tunggal yang sudah dilakukan ini, tetapi disusul dengan pameran-pameran berikutnya. Untuk saat ini jangan terlalu banyak berharap tentang harga lukisan yang tinggi. “Saya berpesan jangan terlalu memasang harga yang tinggi. Tetapi kalua yang ada yang mau beli dan tidak rugi berikan saja, asal tidak rugi. Hasilnya untuk berproses kembali mempersiapkan pameran berikutnya,” ujar pelukis yang menjadi finalis Philip Moris ini.

Pada kesempatan itu, Masdibyo juga mengingatkan, pelukis selain produkif berkarya juga harus bias memasarkan karyanya. “Yang tidak kalah penting pelukis harus punya personality atau kepribadian. Tidak hanya mengikuti trend pasar tetapi punya sikap sehingga tak gampang ikut-ikutan,” ujar alumni Jurusan Seni Rupa IKIP Negeri Surabaya –kini jadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Ngobrol Gayeng Seni Rupa Bersama Masdibyo

Pada Senin (8/8/2022) malam digelar Saraseharan Seni Rupa yag menghadirkan naras umber Masdibyo dan Yoyok Barokalloh. Sarasehan lebih tepatnya ngobrol gayng bareng Masdibyo yang dipandu Christian Saputro ini memang tak dipatok tema. Pasalnya, Masdibyo sejak awal ketika dikonfirmasi tak ingin perbincangannya tentang seni rupa dibatasi.

“Aku tak mau dibatasi dengan tema. Biar komunikasinya menarik. Karena persoalan di dunia seni lukis (seni rupa) sangat banyak dan masing-masing memiliki kendala yang berbeda,” jelas pelukis yang menyandang nama Joko Sudibyo ini.

Pelukis yang karib disapa Masdibyo yang sudah puluhan kali berpameran tunggal dan pameran bersama baik di dalam maupun di luar negeri l berbagi pengalamannya dalam berkiprah di jagad seni rupa. Dalam perbincangan Masdibyo menegaskan seorang pelukis tak hanya berkarya tetapi juga harus sehingga bisa berkarier dan berkarya secara mandiri tanpa tergantung kepada siapapun, termasuk Kurator,” ujar pelukis humble dan energik ini menandaskan.

Finalis Kompetisi Indofood Art Award ini memang dikenal pelukis yang gigih dalam berproses dan berkarya sejak semasa mahasiswa. Masdibyo selalu menunjukan keseriusannya dalam berkarya serta percaya diri sehingga kini eksis di dunia seni rupa.

Ngobrol bersama pelukis yang masa kecilnya pernah tinggal di kota Semarang ini berlangsung dalam suasana santai dan gayeng.

Bincang Gayeng dengan finalis kompetisi Phiip Morris Award 2003 ini digelar dalam rangkaian merayakan pameran tunggal Yoyok Barokalloh bertajuk :”Moving” yang bakal berlangsung hingga 21 Agustus 2022 mendatang. (Christian Heru CS )

 

 

 

 

Masdibyo Buka Pameran Yoyok Barokalloh

Semarang – Pelukis Yoyok Barokalloh menggelar pameran tunggal bertajuk : “Moving”. Puluhan karyanya bercorak realis dan impresionis dengan berbagai ukuran ditaja di Gedung Monod Deiphuis, Jalan Kepodang, Semarang. 8 – 21 Agustus 2022.

Pameran tunggal perdana Yoyok Barokalloh dibuka pelukis kondang asal Tuban Masdibyo, Senin (8/8/2022) juga dihadiri perupa Klowor Waldiyono (jogjakarta), Hani Santana (Cilacap), Wahyu Kokkang, dan sejum;ah para perupa Semarang antara lain; Kokok Hari Subandi, Hartono Galeri Proses, Harry Suryo, S.Hartono, Atiek Krisna, Sarutomo, Ratna Sawitri, Giman dan Djoko Susilo. Masdibyo dalam sambutannya mengatakan, Yoyok merupakan salah satu pelukis potensial yang dimiliki Semarang.

Masdibyo lebih lanjut mengatakan, beberapa waktu yang lalu ketika diundang dalam acara melukis bersama OTS yang digelar para perupa Kabupaten Semarang, di Canggu sempat berjumpa dengan mas Yoyok. Dia sempat menyeket saya kemudian dilanjutkan ngobrol-ngobrol. Mas Yoyok berkisah ternyata dia pernah “kecipratan” rejeki dari saya.

”Ada sebuah kebiasaan saya berbagi sedikit rejeki kepada rekan-rekan Facebook yang biasanya saya pilih secara acak, karena saya tak ingin mengingat kepada siapa saya berbagi. Ternyata mas Yoyok salah satu kawan yang pernah mendapat transferan dari saya,” ujar pelukis kelahiran Pacitan ini.

Kemudian dari melihat hasil sketsa dan obrolan Masdibyo mengambil keputusan untuk menyambangi rumah Yoyok Barokalloh selepas acara OTS. Di rumah Yoyok yang sederhana di kawasa Perumahan Dinar Asri, Kota, Semarang. Masdibyo mengaku terkejut. “ Saya sangat terkejut ketika melihat rumah yang sederhana seperti orangnya ternyata Yoyok menyimpan puluhan karya lukisannya ,” ujar pelukis yang punya studio di Jeju Island, Korea Selatan ini.

Menurut penyandang nama asli Joko Sudibyo ini Yoyok yang pendiam ini ternyata sematngatnya dalam melukis dengan bukti hasil karyanya yang banyak ini ibarat “kendil isi madu”. Masdibyo kemudian mendorong Yoyok untuk untuk pameran tunggal. “Maka ketika mas Yoyok minta saya untuk membuka pameran tunggalnya saya menyanggupinya,” ujar Masdibyo yang sedang mempersiapkan pameran tunggalnya di Bakri Tower, Kuningan, Jakarta.

Masdibyo berpesan kepada Yoyok, tak hanya berhenti dalam pameran tunggal yang sudah dilakukan ini, tetapi disusul dengan pameran-pameran berikutnya. Untuk saat ini jangan terlalu banyak berharap tentang harga lukisan yang tinggi. “Saya berpesan jangan terlalu memasang harga yang tinggi. Tetapi kalua yang ada yang mau beli dan tidak rugi berikan saja, asal tidak rugi. Hasilnya untuk berproses kembali mempersiapkan pameran berikutnya,” ujar pelukis yang menjadi finalis Philip Moris ini.

Pada kesempatan itu, Masdibyo juga mengingatkan, pelukis selain produkif berkarya juga harus bias memasarkan karyanya. “Yang tidak kalah penting pelukis harus punya personality atau kepribadian. Tidak hanya mengikuti trend pasar tetapi punya sikap sehingga tak gampang ikut-ikutan,” ujar alumni Jurusan Seni Rupa IKIP Negeri Surabaya –kini jadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Ngobrol Gayeng Seni Rupa Bersama Masdibyo

Pada Senin (8/8/2022) malam digelar Saraseharan Seni Rupa yag menghadirkan naras umber Masdibyo dan Yoyok Barokalloh. Sarasehan lebih tepatnya ngobrol gayng bareng Masdibyo yang dipandu Christian Saputro ini memang tak dipatok tema. Pasalnya, Masdibyo sejak awal ketika dikonfirmasi tak ingin perbincangannya tentang seni rupa dibatasi.

“Aku tak mau dibatasi dengan tema. Biar komunikasinya menarik. Karena persoalan di dunia seni lukis (seni rupa) sangat banyak dan masing-masing memiliki kendala yang berbeda,” jelas pelukis yang menyandang nama Joko Sudibyo ini.

Pelukis yang karib disapa Masdibyo yang sudah puluhan kali berpameran tunggal dan pameran bersama baik di dalam maupun di luar negeri l berbagi pengalamannya dalam berkiprah di jagad seni rupa. Dalam perbincangan Masdibyo menegaskan seorang pelukis tak hanya berkarya tetapi juga harus sehingga bisa berkarier dan berkarya secara mandiri tanpa tergantung kepada siapapun, termasuk Kurator,” ujar pelukis humble dan energik ini menandaskan.

Finalis Kompetisi Indofood Art Award ini memang dikenal pelukis yang gigih dalam berproses dan berkarya sejak semasa mahasiswa. Masdibyo selalu menunjukan keseriusannya dalam berkarya serta percaya diri sehingga kini eksis di dunia seni rupa.

Ngobrol bersama pelukis yang masa kecilnya pernah tinggal di kota Semarang ini berlangsung dalam suasana santai dan gayeng.

Bincang Gayeng dengan finalis kompetisi Phiip Morris Award 2003 ini digelar dalam rangkaian merayakan pameran tunggal Yoyok Barokalloh bertajuk :”Moving” yang bakal berlangsung hingga 21 Agustus 2022 mendatang.

(*)