oleh

Momentun Semeja Alzier-Arinal

BANDAR LAMPUNG, PL– Momentum semeja Alzier Dianis Thabranie bersama Gubernur Lampung Arinal Junaidi, hendaknya dimaknai sebagai pertemuan dua sahabat.

Entah di-seting atau natural, ini terjadi pada pengukuhan pengurus JMSI Lampung beberapa hari lalu.

Keduanya duduk bersisian satu meja. Bahkan, dari foto di media, Arinal memandangi cincin yang konon milik rekannya, Alzier.

Alzier adalah politisi senior Lampung, pemimpin Partai Golkar dua periode sebelum dipimpin oleh Arinal Junaidi yang Gubernur Lampung.

Kedua tokoh Lampung ini kabarnya sempat ‘bersitegang’ tentu dalam hal perbedaan politik dan kebijakan. Baik soal KONI dan kebijakan lain di Pemprov Lampung. Rasa-rasanya hampir semua kebijakan pemrprov tak lepas dikritisi Alzier. Seakan menempati diri sebegai oposisi di pemerintahan Arinal.

Media turut memainkan, jadilah seolah-olah Alzier-Arinal adalah musuh bebuyutan. Arinal dipoisisikan sebagai orang yang mesti selalu dikritik. Dan Alzier sebagai pengkritik sejati. Lalu, seakan, suasana politik di Lampung tidak kondusif.

Setuju atau tidak, saat ini kedua tokoh ini adalah “gajah” dalam ranah politik di Lampung. Dapat dibayangkan “dua gajah bertikai” maka seluruh habitat terkena gaduh dan tak kondusif dalam kehidupan.

Maka momentum semeja JMSI itu bagai awal dari kehidupan yang kondusif. Saya sepakat. Tapi saya tetap menginginkan Alzier yang kini berada di luar pemerintah dan partai politik, menjaga kekritisan. Tetap menajamkan kontrol sosial dan kontrol kebijakan.

Pertemuan di JMSI itu hanya dua manusia yang bersahabat, namun sikap tetaplah tak bisa disatukan. Ibarat adagium politik; tak ada kawan dan musuh abadi, namun kekritisan tidak akan kenal situasi!

Kisah begawan Omar Kayyam (?) yang kenal dengan raja, ia tetap mengkritisi kebijakan kerajaan yang tak berpihak kepentingan rakyat. Sampa-sampai ia diberi opsi menjadi abdi raja atau tinggalkan negerinya.

Sang begawan berujar, untuk seorang abdi kerajaan betapa banyak di negeri ini dapat raja rekrut. Tak perlu dirinya. Dan jika raja mengusir dirinya dari negeri yang melahirkan sang begawan, 100 tahun lagi tak akan mendapati seorang begawan yang kritis.

“Dan, apakah sekiranya aku menjadi orang dalam kerajaan atau dibuang jauh dari negeriku, aku tak lagi mengkritisi kebijakan raja yang tidak berpihak bagi kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan?”

Akhirnya raja memberi ruang sang kritis untuk tetap memantau kerajaan.

Wallahualam bishawab

(PL 02 – 04)