oleh

Berjuang Melalui Fase Sulit Mempertahankan Karya Mandiri

Oleh Muhammad Alfariezie


Melewati Jalan Zainal Pagar Alam atau yang akrab disebut Gang PU, tentu pengendara akan melihat di kanan atau sisi kiri jalan, berjejer gerai-gerai yang menjual beraneka keripik oleh-oleh khas Provinsi Lampung. Sudah sejak beberapa tahun ke belakang, Jalan Zainal Abidin Pagar Alam terkenal sebagai centra keripik oleh-oleh khas Lampung. Jika menghitung jumlah gerai penjual keripik di jalur ini menggunakan jari, mungkin tidak akan cukup. Meski hingga menggunakan jemari kaki. Tapi, ada satu gerai yang tak luput dari perhatian Pantau Lampung. Lokasinya tidak berada jauh dari gerbang masuk pintu Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, jika menempuh jalur dari Mall Boemi Kedaton. Kira-kira, jarak gerai penjualan keripik ini dari pintu gerbang jalan Zainal Abidin pagar alam berkisar 100 meter.

Nama gerainya Karya Mandiri. Salah satu alasan Pantau Lampung berhenti untuk mencicip hingga kemudian membeli aneka keripik di sini, pertama, karena kebersihannya. Tempatnya nampak cerah dan pegawai-pegawainya terlihat bersahaja. Selain itu, karena namanya mengandung unsur kemandirian.

Pemilik Karya Mandiri, bernama Ika Malik. Dia perempuan yang senantiasa bersemangat meraih masa depan gilang gemilang. Namun, semangatnya untuk menuai sukses sebagai pengusaha makanan ringan terbilang cukup mengejutkan.

Sebagaimana nama Karya Mandiri. Gerai ini didirikan atas dasar tekad dan sedikit bantuan dari PTPN.

Dulu, Ika Malik hanyalah seorang ibu rumah tangga. Namun, setelah bergabung ke dalam kelompok yang namanya tak bisa disebut, maka ia mengambil kesempatan. Kesempatan itu adalah modal berupa alat produksi dan uang untuk memulai usaha industri makanan ringan sebagai oleh-oleh khas Lampung. Tapi, tidak semudah membayangkan sesuatu yang indah bak istana permaisuri. Dulu, Karya Mandiri belum memiliki tempat seperti ini.

Ika Malik bercerita kepada Pantau Lampung. Dia sempat menumpang di halaman rumah orang yang letaknya di pinggir jalan Zainal Abidin Pagar Alam. Orang itu pun mengizinkan. Seiring waktu, usaha Ika Malik dan suami menuai hasil. Keuntungan mulai didapat. Mereka pun mencoba peruntungan untuk pindah tempat. Mereka menyisihkan keuntungan untuk mengontrak agar tidak lagi merepotkan orang lain.

Karya Mandiri sempat mendapat tempat yang tak bisa Pantau Lampung sebut lantaran hal yang tak elok. Karya Mandiri sempat mendapat usiran secara halus dari pemilik tempat. Padahal, kala itu, waktu kontraknya belum habis. Namun, kontrak diselesaikan. Alasannya, di tempat itu, Karya Mandiri mendapat pelanggan yang jumlahnya cukup menggiurkan. Mungkin, karena itu, pemilik tempat ingin memanfaatkan ketenaran Karya Mandiri.

Pemilik tempat mengusaikan kontrak secara sepihak. Ika mengaku, kehilangan banyak pelanggan hingga pusing lantaran mesti mencari tempat baru. Selain itu, mesti merintis usaha mulai dari nol untuk mendapat pelanggan.

Ika Malik terus berusaha dan berdoa agar kembali mendapatkan pelanggan. Tanpa batas waktu dan ruang. Hingga kini, dia berhasil menuai cita-cita dari harapan masa-masa kelam sebab perjanjian ingkar.

Sekarang, bukan hanya beraneka keripik dan beragam rasa. Saat ini, produk Karya Mandiri tidak sekadar keripik pisang. Tapi, ada keripik singkong, keripik mantang hingga keripik talas. Rasanya pun beragam. Ada rasa coklat, rasa strawbery, Melon, Balado, Sapi Panggang hingga Jagung Bakar.

Ika Malik bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Sekarang, tak sekadar pembeli dari daerah Jawa dan Sumatera. Tapi, Karya Mandiri telah mendapat kepercayaan dari beberapa supplier makanan ringan berupa kelanting dan kemplang. Supplier itu percaya untuk menitipkan produk dagang kepada Karya Mandiri karena melihat tingkat penjualan gerai oleh-oleh khas Lampung di sana.

Karya Mandiri telah melalui fase-fase sulit hingga menuai peningkatan penjualan. Dulu, saat masih merintis, produksi keripik masih dilakukan di tempat penjualan. Tapi, saat ini sudah tidak. Menurut Ika Malik, jika produksi tetap dilakukan di sini maka akan mengganggu pelayanan karena penggorengan keripik masih menggunakan bahan baku tradisional seperti kayu. Belum lagi, asap produksi yang memungkinkan mengganggu kenyamanan pembeli.

Bagi perempuan itu, pelayanan adalah kunci sukses dalam perdagangan. Karena itu pula, dia tak segan menyisihkan keuntungan untuk membayar karyawan.

Karya Mandiri telah mempekerjakan lima orang pegawai. Satu orang lelaki untuk membantu produksi dan empat orang perempuan muda yang ayu serta sopan untuk membantu Ika Malik melayani pembeli di gerai. Selain itu, Karya Mandiri pun memberdayakan ibu-ibu dalam produksi. Dia mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk mengupas kulit singkong, pisang, talas dan mantang.

Jika penasaran bagaimana rasa keripik asli Karya Mandiri maka bisa datang langsung ke Jalan Zainal Abidin Pagai Alam, Gang PU nomor 51, Kedaton, Bandar Lampung. Walau hanya membawa uang lima ribu rupiah pun, tetap bisa membawa pulang keripik sesuai kesukaan. Atau sekadar ingin mencicip pun boleh.

Masalah kualitas produk, Ika Malik mengaku, tiap dua hingga tiga hari sekali selalu mengganti. Selain alasan menjaga kualitas, tentu saja karena dalam dua hingga tiga hari, keripik yang ada di sini sudah laku terjual. Namun, soal harga tidak dapat Pantau Lampung sebut karena hal itu sangat berpengaruh perkembangan zaman dan dinamika harga bahan baku.

2021