PANTAU LAMPUNG — Dari tengah ladang kelapa di Negeri Sakti, suara perubahan menggema. Di Kampus ITB Diniyyah Lampung, ratusan santri dan mahasiswa tak hanya diajak merenungi ayat suci, tapi juga disiapkan menjemput masa depan: menjadi pionir di dunia kerja berbasis lingkungan atau green job.
Kuliah umum yang disampaikan oleh Penta Peturun, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI, Selasa (4/6/2025), menjadi momentum penting bagi pendidikan pesantren di Lampung untuk naik kelas: dari lembaga moral ke pusat pencetak tenaga kerja hijau.
“Kita ingin santri tidak hanya menjadi penerang di rumah ibadah, tapi juga inovator di industri hijau, petani organik, teknopreneur lingkungan, dan agen perubahan di desa-desa,” tegas Penta.
Green Job Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan
Lampung memiliki potensi luar biasa: pertanian, industri halal, pariwisata berbasis alam, hingga pengelolaan limbah yang belum tergarap optimal. Data menyebutkan, lebih dari 45 ribu tenaga kerja hijau dibutuhkan di Lampung pada 2025. Tapi jalan menuju ke sana tak cukup hanya dengan semangat.
“Green job butuh pelatihan, sertifikasi, dan fasilitas. BLK Komunitas hari ini harus menjadi ruang transformasi, bukan sekadar tempat pelatihan teknis,” katanya.
Lewat kolaborasi antara Kementerian Ketenagakerjaan, BLK, pesantren, dan pemerintah daerah, peluang ini tengah dibuka lebar. Santri kini bisa belajar energi terbarukan, teknologi pertanian, hingga manajemen bisnis hijau langsung dari lingkungan pesantren.
Pesantren = Pusat Ekonomi Hijau Baru
Pesantren Diniyyah Putri Lampung menjadi contoh ideal. Lembaga yang dirintis oleh Hj. Halimah Syukur ini bukan hanya mencetak ulama, tapi juga wirausahawan dan profesional muda. Kampus ITB Diniyyah kini mengajarkan bisnis digital, agribisnis modern, hingga teknologi berbasis nilai keislaman.
“Kita butuh pesantren yang berani keluar dari zona nyaman, menanam pabrik dari surau, membangun industri dari kelas tafsir,” ujar Penta.
Ia menekankan, pembangunan green campus, inkubator bisnis hijau desa, serta kurikulum agroekologi harus segera jadi prioritas di pesantren dan kampus keislaman.
Harapan dari Lembah Hijau
Kuliah umum ini bukan sekadar pidato, melainkan panggilan untuk bertindak. Bagi Penta, masa depan tenaga kerja Indonesia tidak terletak di gedung bertingkat ibu kota, tapi di desa-desa, ladang-ladang, dan ruang belajar yang menyatu dengan alam.
“Jika negara hadir di pesantren, dan pesantren hadir di lapangan kerja, maka revolusi hijau tak lagi mimpi. Dari tanah Lampung, akan lahir generasi hijau: pekerja tangguh, bermoral, dan siap membangun Indonesia dari akar,” pungkasnya.***












