• Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, Juni 14, 2026
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Opini
  • Pendidikan
  • Hiburan
Home Ruwa Jurai Bandar Lampung

Kota yang Tajam dan Berkarat: Makna Puisi Kaleng Bir Karya Muhammad Alfariezie

MeldaEditorMelda
Jan 19, 2026
A A
Kota yang Tajam dan Berkarat: Makna Puisi Kaleng Bir Karya Muhammad Alfariezie
ADVERTISEMENT

PANTAU LAMPUNG- Sebuah puisi menyebut Bandar Lampung bukan sebagai kota, melainkan kaleng bir bekas orang tidur di pinggir jalan. Metafora itu terdengar kasar, bahkan tak sopan. Namun bagi Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Bandar Lampung, ungkapan tersebut bukan sekadar provokasi—melainkan potret jujur tentang kota yang keras, berkarat, dan berpotensi melukai warganya sendiri.

Puisi berjudul “Kaleng Bir” itu kini menarik perhatian pembaca sastra dan pegiat isu sosial. Dengan bahasa sederhana namun tajam, Alfariezie menghadirkan kritik kota yang jarang muncul dalam narasi pembangunan dan pencitraan daerah.

Kaleng Bir

Bandar Lampung kaleng bir
bekas orang tidur pinggir
jalan. Ibu marah ketika saya
bilang begitu. Walau tempat
minum bekas hidup orang
pinggir jalan, Bandar Lampung
ialah yang halal– menurutnya

BeritaTerkait

Pangdam Kristomei Apresiasi Kedewasaan Peserta Munas HIPMI Jaga Ketertiban

‘Puisi 68’ Resmi Terbit, Isbedy Siapkan Peluncuran dan Diskusi Sastra

Tapi saya heran, dan mungkin
ibu kurang paham. Bandar
Lampung kaleng bir bekas orang
tidur pinggir jalan, bukan botol
bekas Aqua maupun Aquiviva

Seperti yang haram, Bandar
Lampung enggak menjamin
hidup Anda sehat sejahtera

ADVERTISEMENT

Bandar Lampung, tajam
berkarat dan kita bisa
terluka. Sepertinya, tetanus
hingga tersiksa

2026

 Kota yang Direduksi Menjadi Benda Buangan

Sejak baris pembuka, puisi ini langsung menyerang kesadaran pembaca:

“Bandar Lampung kaleng bir
bekas orang tidur pinggir jalan”

Bandar Lampung tidak digambarkan sebagai kota modern, ibu kota provinsi, atau pusat ekonomi. Kota itu justru direduksi menjadi benda sisa, barang sekali pakai yang tergeletak di pinggir jalan—tempat orang-orang bertahan hidup dalam kondisi paling minimal.

Kaleng bir di sini bukan sekadar objek, melainkan simbol. Ia mewakili sisa konsumsi kota, limbah urban yang ditinggalkan sistem, sekaligus menyimpan bahaya: tajam, berkarat, dan bisa melukai siapa saja yang menyentuhnya.

 Bukan Aqua, Bukan Kehidupan Layak

Dalam puisinya, Alfariezie dengan tegas membandingkan kaleng bir dengan botol air mineral:

“bukan botol bekas Aqua maupun Aquiviva”

Perbandingan ini mengandung kritik kelas yang kuat. Air mineral identik dengan kebersihan, kesehatan, dan standar hidup layak. Sementara kaleng bir bekas adalah simbol hidup darurat—apa yang tersisa bagi mereka yang tidak pernah benar-benar diperhitungkan dalam perencanaan kota.

Kota, dalam pandangan penyair, menyediakan fasilitas berbeda untuk warganya. Ada yang minum air bersih, ada yang hanya mendapat sisa.

“Halal”, Tapi Tidak Manusiawi?

Konflik paling menarik dalam puisi ini muncul lewat figur ibu. Sang ibu marah ketika sang penyair menyamakan Bandar Lampung dengan kaleng bir bekas orang pinggir jalan. Menurutnya, meski tempat minum itu bekas kaum marginal, Bandar Lampung tetap “halal”.

Di sinilah ironi tajam muncul. Alfariezie mempertanyakan makna halal jika kota yang sah secara moral dan administratif justru gagal menjamin kehidupan warganya.

“Seperti yang haram,
Bandar Lampung enggak menjamin
hidup Anda sehat sejahtera”

Larik ini tidak menyerang agama, tetapi cara berpikir yang terlalu sibuk dengan simbol moral, sementara realitas sosial dibiarkan luka.

 Kota yang Melukai Perlahan

Bagian penutup puisi menjadi klimaks kritik:

“Bandar Lampung, tajam
berkarat dan kita bisa
terluka. Sepertinya, tetanus
hingga tersiksa”

Bandar Lampung digambarkan sebagai benda berkarat—tidak langsung membunuh, tetapi melukai secara perlahan. Tetanus menjadi metafora kuat tentang luka kecil yang diabaikan, namun berujung penderitaan serius.

Ini adalah kritik tentang kelalaian struktural: kota yang tampak berjalan normal, tetapi diam-diam menyimpan bahaya bagi mereka yang paling rentan.

 Suara Penyair Muda dan Kritik Kota

Dalam peta sastra Indonesia kontemporer, “Kaleng Bir”menempatkan Muhammad Alfariezie sebagai bagian dari generasi penyair muda yang berani membaca kota dari sisi paling gelap. Ia tidak menawarkan solusi, tidak berkhotbah, tetapi menyodorkan cermin.

Bandar Lampung, dalam puisi ini, bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah simbol kota mana pun yang mengaku layak, namun menutup mata pada warganya yang hidup di pinggir jalan.

Ketika Puisi Menjadi Gugatan

Puisi “Kaleng Bir” menunjukkan bahwa sastra masih memiliki fungsi penting: menggugat. Bukan dengan teriakan, tetapi dengan metafora sederhana yang sulit dilupakan.

Kaleng bir itu mungkin kecil dan dianggap remeh. Namun seperti karat dan tetanus, ia menyimpan luka—dan puisi ini memaksa kita untuk melihatnya.

Catatan Redaksi

Puisi “Kaleng Bir” ditulis oleh Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Kota Bandar Lampung, pada tahun 2026.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: #muhammad alfariezieBandar lampungisu perkotaankritik kotapenyair mudapuisi Kaleng Birpuisi sosialSastra Lampung
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kepedulian Tanpa Batas, HS dan Slank Salurkan Bantuan Rp500 Juta untuk Aceh dan Sekitarnya

Next Post

Kantor Pertanahan Pringsewu Fokuskan Kesiapan SDM untuk PTSL 2026

Related Posts

Harga BBM Naik Lagi? Anggota Komisi XII DPR Belum Bisa Beri Jaminan kepada Masyarakat
Bandar Lampung

Harga BBM Naik Lagi? Anggota Komisi XII DPR Belum Bisa Beri Jaminan kepada Masyarakat

Jun 14, 2026
Ordal Sebut Vendor Sudah Dikondisikan, Penggunaan Dana BOS SMP Negeri Dipertanyakan
Bandar Lampung

Ordal Sebut Vendor Sudah Dikondisikan, Penggunaan Dana BOS SMP Negeri Dipertanyakan

Jun 13, 2026
Dugaan Skandal WTP Mengemuka, Pejabat Lampung Bisa Terseret?
Bandar Lampung

Dugaan Skandal WTP Mengemuka, Pejabat Lampung Bisa Terseret?

Jun 13, 2026
Jimly Asshiddiqie Tegas: Pejabat Tak Boleh Jadi Pengurus Yayasan, Nama Eka Afriana Disebut
Bandar Lampung

Jimly Asshiddiqie Tegas: Pejabat Tak Boleh Jadi Pengurus Yayasan, Nama Eka Afriana Disebut

Jun 13, 2026
Tembak di Tempat Picu Perdebatan, LPW Desak Pengusutan Dugaan Pelanggaran Prosedur
Bandar Lampung

Tembak di Tempat Picu Perdebatan, LPW Desak Pengusutan Dugaan Pelanggaran Prosedur

Jun 13, 2026
Rp60 Miliar untuk Kejati, Rp49 Juta untuk Stunting? Ini yang Dipersoalkan Publik
Bandar Lampung

Rp60 Miliar untuk Kejati, Rp49 Juta untuk Stunting? Ini yang Dipersoalkan Publik

Jun 13, 2026
Next Post
Kantor Pertanahan Pringsewu Fokuskan Kesiapan SDM untuk PTSL 2026

Kantor Pertanahan Pringsewu Fokuskan Kesiapan SDM untuk PTSL 2026

Roulette Grátis Cassino ao Vivo: Tudo o que você precisa saber

Pagamentos de Roleta Pagamento Instantâneo: Tudo o que você precisa saber

Online Casino Credit Card Malaysia

Credit Card Casinos Ranking

banner 300250

Berita Terkini

  • Harga BBM Naik Lagi? Anggota Komisi XII DPR Belum Bisa Beri Jaminan kepada Masyarakat
  • Ordal Sebut Vendor Sudah Dikondisikan, Penggunaan Dana BOS SMP Negeri Dipertanyakan
  • Dugaan Skandal WTP Mengemuka, Pejabat Lampung Bisa Terseret?
  • Jimly Asshiddiqie Tegas: Pejabat Tak Boleh Jadi Pengurus Yayasan, Nama Eka Afriana Disebut
  • Tembak di Tempat Picu Perdebatan, LPW Desak Pengusutan Dugaan Pelanggaran Prosedur
Pantau Lampung

Selamat datang di Pantau Lampung, portal berita yang mengabarkan secara cermat dan tepat tentang berbagai peristiwa dan perkembangan terkini di Provinsi Lampung. Kami hadir untuk menjadi sumber informasi terpercaya bagi masyarakat Lampung dan pembaca di seluruh Indonesia.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In