PANTAU LAMPUNG- Luka tekan atau dekubitus kerap dianggap sebagai komplikasi medis yang sepele. Padahal, bagi pasien dengan keterbatasan mobilitas, luka ini dapat menjadi ancaman serius bagi kualitas hidup. Di Lampung Selatan, kisah seorang remaja perempuan menunjukkan bagaimana perawatan luka modern dan dukungan kemanusiaan mampu mengubah luka menjadi harapan.
Ketika Luka Bukan Sekadar Masalah Medis
Secara medis, luka merupakan kerusakan jaringan akibat cedera, tekanan, atau gangguan sirkulasi. Luka tekan atau pressure injuries terjadi akibat tekanan yang terus-menerus pada area tubuh tertentu sehingga aliran darah terhambat dan jaringan mengalami kerusakan. Kondisi ini sering dialami pasien dengan kelumpuhan, tirah baring lama, atau keterbatasan gerak.
Literatur keperawatan mengelompokkan luka tekan ke dalam beberapa stadium, mulai dari perubahan warna kulit tanpa luka terbuka hingga kerusakan jaringan dalam yang mencapai tulang. Penanganan yang terlambat atau tidak tepat berisiko menyebabkan infeksi berat dan komplikasi jangka panjang.
Peran Praktisi Luka di Garis Depan Pelayanan
Mardiah Ningsih, S.S.T., CWCCA, ASN di UPTD Puskesmas Palas, Kabupaten Lampung Selatan, menjadi salah satu tenaga kesehatan yang mendedikasikan diri pada perawatan luka modern. Bersama suaminya, Tedi Antoko, S.Kep., CWCCA, ia membuka praktik mandiri pelayanan kebidanan dan keperawatan, termasuk perawatan luka akut dan kronis.
Mardiah mengaku awalnya sering mendampingi sang suami dalam menangani pasien luka. Pengalaman tersebut memotivasinya untuk ikut terlibat langsung, terutama saat merawat pasien perempuan yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. Ia kemudian mengikuti pelatihan perawatan luka terakreditasi oleh BPSDM Kementerian Kesehatan RI hingga memperoleh sertifikasi praktisi luka.
Kisah Nn. Mawar dan Luka yang Mengancam Masa Depan
Suatu hari, keluarga seorang remaja perempuan yang disebut Nn. Mawar mendatangi praktik mereka untuk penggantian kateter urine. Mawar didiagnosis mengalami spinal cord injury incomplete akibat kecelakaan, yang menyebabkan kelumpuhan sebagian dan ketergantungan penuh pada keluarga dalam aktivitas sehari-hari.
Keterbatasan ekonomi membuat perawatan Mawar dilakukan sepenuhnya di rumah tanpa alat bantu khusus. Aktivitas makan, minum, hingga kebersihan diri dilakukan di atas tempat tidur. Kondisi ini memicu munculnya luka dekubitus di area gluteus sinistra.
Hasil pengkajian menunjukkan luka Mawar masuk kategori unstageable, di mana dasar luka tertutup jaringan nekrotik dan disertai tanda-tanda infeksi seperti bau tidak sedap dan peningkatan suhu lokal.
Pendekatan Medis dan Perawatan Luka Modern
Mardiah menyarankan keluarga untuk berkonsultasi ke dokter spesialis bedah. Di rumah sakit, Mawar menjalani tindakan debridement dan mendapatkan terapi obat. Setelah kondisi stabil, perawatan luka dilanjutkan di rumah dengan pendampingan praktisi luka bersertifikasi.
Pengkajian luka dilakukan secara menyeluruh, mencakup lokasi, klasifikasi stadium, warna dasar luka, eksudat, dan tanda infeksi. Konsep wound bed preparation diterapkan untuk menghilangkan faktor penghambat penyembuhan, sementara kerangka TIME digunakan sebagai panduan perawatan.
Pemilihan balutan yang tepat menjadi kunci dalam menjaga kelembapan luka, menekan pertumbuhan bakteri, dan mempercepat regenerasi jaringan. Perawatan dilakukan secara konsisten dengan mempertimbangkan kondisi nutrisi dan kesehatan umum pasien.
Kolaborasi dan Dukungan Keluarga
Perawatan Mawar tidak hanya bergantung pada tindakan medis. Dukungan keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah setempat, dan yayasan sosial turut berperan dalam proses pemulihan. Dukungan emosional, edukasi perawatan di rumah, serta motivasi menjadi bagian penting dalam menjaga semangat pasien.
Seiring waktu, luka dekubitus berukuran sekitar 10 x 6 sentimeter tersebut menutup sempurna. Mawar pun mulai kembali menjalani aktivitas positif seperti membaca, menulis puisi, dan mengembangkan minat lainnya meski dalam keterbatasan fisik.
Pelajaran dari Sebuah Perjuangan
Kasus Nn. Mawar menegaskan bahwa luka dekubitus merupakan persoalan kompleks yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin. Perawatan luka modern harus dibarengi edukasi keluarga, dukungan psikologis, serta keterlibatan aktif pasien.
Bagi Mardiah, kesembuhan pasien tidak hanya diukur dari tertutupnya luka, tetapi juga dari bangkitnya harapan dan kualitas hidup yang lebih baik. Luka yang ditangani dengan empati dan ilmu pengetahuan dapat menjadi awal baru bagi masa depan pasien.***








