Diduga Berkaitan dengan Keratuan Balau, Situs Bersejarah Lampung Butuh Kajian Arkeolog
PANTAU LAMPUNG- Satria Budaya Nusantara akan resmi berganti nama menjadi Saburai Budaya Nusantara dan pendirinya kian serius mengawal cerita, sejarah hingga situs cagar budaya– utamanya dan sementara ini di Provinsi Lampung.
Di hadapan Notaris Fahmi Sasmita, Ketuanya Rudi Santoso, Bendahara Lilis Suryani, Sekretaris Muhammad Alfariezie, Ketua Dewan Pembina Ari Sai Bhumi, Anggota Pembina dan Pengawas Arief Mulyadin, Dede Safara hingga Iwang Bagastama telah menandatangani rapat pembuatan akta notaris yang akan segera tersampaikan ke Kementerian Hukum.
“Alhamdulilah kita hari ini sudah tanda tangan akte notaris dengan bapak Fahmi Sasmita dsn semoga program kerja kita bisa segera terlaksana untuk bisa menjadi kaki tangan kementerian kebudayaan meskipun dari pihak eksternal,” ungkap Rudi pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Sejauh ini, Rudi Santoso, Lilis Suryani dan Muhammad Alfariezie bersama rekan-rekan Saburai Budaya Nusantara sedang melakukan penelusuran serta penggalian yang terindikasi berkaitan erat dengan cerita sejarah salah satu keratuan di Provinsi Lampung.
Keratuan apa itu? Mereka belum dapat memastikan karena masih menunggu legalitas agar bekerja sesuai prosedur dan regulasi.
Namun yang menarik dari lokasi situs yang terindikasi berhistoris bagi warga Lampung itu, pada saat penandatanganan akte notaris tersebut– Rudi bercerita perihal metafisik yang juga seseorang alami.
Dari keterangannya, seseorang perempuan yang kini telah almarhumah dan seorang perempuan yang kerap ikut penelusuran serta penggalian situs bersejarah di lokasi tersebut mengatakan setelah intens mencari bukti-bukti peninggalan bersejarah tersebut– sebelum meninggal, ia pernah bermimpi yang di dalam mimpinya, hadir seorang perempuan berpakaian kerajaan.
Menurut Rudi dan saksi lainnya, perempuan itu bernama Nyai Renceng yang mereka yakini sebagai penguasa yang menerima amanah untuk menjaga simpanan harta benda ataupun luasnya area situs yang berlokasi di Kota Bandar Lampung.
“Jadi sebelum meninggal, almarhumah ini pernah dimimpiin Nyai Renceng. Dia datang berpakaian kerajaan dan katanya sebagai penerima amanah untuk menjaga tempat itu,” kata Rudi dan seseorang yang identitasnya belum ingin terpublikasi.
Rudi menceritakan juga, almarhumah berkata Nyai Renceng berjanji akan memberikan cincin dan tusuk konde dan ternyata benar– Rudi menemukan tusuk konde berbahan asli perunggu sebagaimana yang Nyai Renceng janjikan dalam mimpi almarhumah.
“Iya almarhumah bercerita katanya Nyai Renceng pengen ngasih cincin dan tusuk konde. Tusuk konde itu sudah saya temuin dan berbahan asli perunggu, tapi cincinnya belum,” ungkap Rudi di selah obrolan santai pasca-para pendiri Saburai Budaya Nusantara menandatangi akte notaris.
Dari cerita Rudi juga, temannya yang akrab dengan sapaan Cimot– pernah melihat seorang perempuan duduk di samping Rudi saat sedang menggali mencari bukti-bukti bersejarah.
Namun Rudi tak melihat siapapun di sana, yang mengindikasikan penglihatan Cimot ialah landasan metafisik.
Siapakah Nyai Renceng dan apakah cerita ini benar? Yang jelas, jika Nyai Renceng benar menjadi sosok penjaga lokasi tersebut maka pertanyaannya ialah– apa yang tersimpan di bawah tanah seluas lebih dari 30 hektare itu?
Kelompok Saburai Budaya Nusantara sejauh ini telah menemukan piring atau mangkuk dari porselin dari China dan Vietnam, serpihan material candi hingga uang kepeng yang kuat dugaan berasal dari Dinasti Tang.
Arie Sai Bhumi pun pernah mengatakan pada beberapa waktu lalu, teman spiritualnya mengatakan Kelompok Budaya Nusantara harus menggali tanah yang di dalamnya berwarna hitam karena itu merupakan salah satu bukti di lokasi tersebut pernah terjadi pertikaian hebat antar kerajaan lantaran perebutan gadis anak Ratu Lengkara sebagaimana Arief Mulyadin sampaikan juga– di lokasi tersebut merupakan Keratuan Balau karena di area sungainya ada semacam bambu-bambu yang bisa saja, menjadi pagar alami dari suatu kerajaan.
Akan tetapi, ini masih sebatas asumai berdasar temuan awal dan masih memerlukan penelitian ilmiah serta penggalian terus menerus.
Karena itu, Saburai Budaya Nusantara hadir untuk menggandeng para akademisi atau arkeolog sehingga situs bersejarah ini benar-benar menjadi kajian yang tercatat dalam Cagar Budaya Indonesia.
“Kita saat ini belum bisa memastikan benar atau tidaknya, apalagi kan asumsi-asumsi itu ada yang dari metafisik meski saya juga menemukan bukti barang-barang bersejarah di sana. Itulah kita buat komunitas ini agar bisa menggandeng akademisi, misalnya untuk melakukan kajian yang lebih dalam,” ujar Rudi yang Ari Sai Bhumi dan rekan-rekannya amini.***
