Way Kambas Makin Serius Benahi Kawasan, Pagar Besi Jadi Benteng Cegah Gajah Keluar Habitat
PANTAU LAMPUNG — Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur mulai berbenah. Pembangunan berbagai fasilitas untuk memperkuat konservasi sekaligus mencegah konflik antara manusia dan gajah terus dikebut.
Salah satu yang paling terlihat adalah pemasangan pagar besi di sejumlah titik kawasan. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya Komite Mitigasi untuk mencegah gajah keluar dari habitatnya dan masuk ke wilayah permukiman maupun lahan masyarakat.
Progres pembangunan dan pengembangan kawasan TNWK tersebut dipantau langsung Pangdam XXI/Raden Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi bersama jajaran, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Polda Lampung, serta Bupati Lampung Timur saat melakukan kunjungan ke kawasan Way Kambas, Senin (31/8/2026).
Kunjungan dilakukan sekaligus untuk melihat kondisi kawasan setelah kebakaran lahan yang terjadi di TNWK. Pemerintah dan aparat juga mengecek berbagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Pagar Besi Jadi Benteng Cegah Gajah Keluar
Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, sejumlah fasilitas mitigasi telah dibangun untuk mengurangi potensi konflik manusia dengan gajah.
Salah satu fasilitas utama yang kini terlihat adalah pagar besi yang dipasang di sepanjang titik tertentu kawasan TNWK.
“Memang untuk memitigasi konflik antara manusia dengan gajah. Kita lihat di sepanjang ini ada pagar-pagar besi yang sudah dibuat,” kata Kristomei.
Menurutnya, pembangunan pagar tidak berdiri sendiri. Strategi mitigasi juga dilakukan melalui pengembangan tanaman dan usaha yang tidak disukai gajah.
Salah satunya dengan membudidayakan serai dan lebah.
Aroma serai serta keberadaan lebah dinilai dapat membantu membuat gajah enggan mendekati kawasan permukiman. Menariknya, program tersebut juga diarahkan agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Serai dan lebah ini tidak disukai gajah sehingga turut menjaga supaya gajah tidak keluar. Hasilnya juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar, seperti madu dan serai,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, upaya konservasi tidak hanya berbicara soal bagaimana menjaga satwa, tetapi juga bagaimana masyarakat di sekitar kawasan tetap mendapatkan manfaat ekonomi.
Way Kambas Disiapkan Jadi Pusat Ekowisata
Pembenahan TNWK juga tidak berhenti pada pembangunan pagar dan fasilitas mitigasi konflik.
Kawasan Way Kambas diproyeksikan berkembang menjadi salah satu pusat ekowisata yang mampu menarik wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara.
Untuk mendukung pengelolaan satwa, Komite Mitigasi juga menjalin kerja sama dengan ENP Thailand.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan para mahout atau pawang gajah dalam melakukan perawatan dan pengelolaan satwa.
Dengan peningkatan kapasitas tersebut, pengelolaan gajah di kawasan konservasi diharapkan semakin profesional sekaligus mampu mendukung keberlanjutan ekowisata.
Kristomei menargetkan pembangunan terus dikebut hingga Oktober 2026.
Namun, terdapat perbedaan angka progres yang disampaikan dalam kunjungan tersebut. Pada satu sisi, pembangunan pagar besi disebut telah mencapai sekitar 75 persen, sedangkan progres keseluruhan pembangunan disebut sekitar 65 persen.
Pemerintah Siaga Cegah Kebakaran Terulang
Selain persoalan konflik manusia dengan gajah, perhatian pemerintah juga tertuju pada potensi kebakaran lahan di kawasan TNWK.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan pemerintah bersama aparat keamanan masih melakukan pemantauan terhadap kondisi kawasan, termasuk keberadaan titik api dan potensi munculnya kebakaran baru.
Personel Kodam dan kepolisian masih disiagakan di sekitar Way Kambas. Mereka tidak hanya melakukan pemantauan, tetapi juga menjalankan sosialisasi serta berbagai langkah pencegahan kepada masyarakat.
“Teman-teman dari Kodam, teman-teman dari kepolisian masih standby di sini. Ada yang melakukan sosialisasi, ada yang air monitoring,” ujar Mirza.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan potensi titik api, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kondisi kawasan tetap aman, terutama di tengah ancaman kebakaran lahan.
Gajah di Way Kambas Dipastikan Sehat
Persoalan konflik gajah dan manusia juga menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut.
Pemerintah terus memantau keberadaan gajah di sekitar kawasan TNWK untuk memastikan satwa tetap berada dalam habitat yang aman dan tidak masuk ke wilayah masyarakat.
Dalam kunjungannya, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bahkan melihat langsung kondisi sejumlah gajah yang berada di kawasan konservasi.
Kabar baiknya, kondisi satwa tersebut disebut dalam keadaan sehat.
“Alhamdulillah, gajah-gajah yang kita lihat tadi dalam keadaan sehat,” kata Mirza.
Pembenahan Way Kambas pun kini diarahkan pada dua kepentingan yang harus berjalan beriringan: menjaga kelestarian gajah sekaligus memastikan masyarakat sekitar tetap aman dan mendapatkan manfaat ekonomi.
Dengan pembangunan pagar, pengembangan tanaman penghalau gajah, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas mahout, hingga penguatan ekowisata, TNWK diharapkan semakin siap menjadi kawasan konservasi yang tidak hanya melindungi satwa, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat Lampung Timur.
