PANTAU LAMPUNG- Kegiatan Kemah Sastra 2026 yang berlangsung sejak 6 April 2026 di Villa Kedaung, Kemiling, resmi ditutup dengan suasana haru. Para peserta, khususnya perempuan, tampak bergantian memeluk Fitri Angraini sebagai penanggung jawab kegiatan.
Fitri Angraini yang juga penerima dana Indonesiana-LPDP Kementerian Kebudayaan RI mengaku bangga sekaligus terharu atas suksesnya kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan, awalnya sempat pesimistis jumlah peserta bisa mencapai target.
“Ternyata ada sekitar 100-an pengirim karya, meskipun setelah divalidasi sebagian berasal dari luar Lampung. Dari 75 karya yang dikurasi, terpilih 20 peserta untuk mengikuti lomba cipta offline sekaligus Kemah Sastra ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia menegaskan, proses kurasi dilakukan secara serius karena membawa nama besar sastrawan Lampung, Isbedy Stiawan ZS. Dewan juri yang terdiri dari Ari Pahala Hutabarat, Arman AZ, dan Iin Zakaria dinilai berhasil memilih peserta terbaik.
“Hasil kurasi tidak meleset jauh. Para pemenang sesuai dengan prediksi kami,” tambah Fitri.
Sejumlah peserta juga menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan. Mereka mengaku mendapatkan banyak manfaat, baik dari segi pengalaman, pembelajaran, hingga penguatan minat di bidang sastra.
Beberapa peserta seperti Yuvanka Prasista, Cykal Qv Ichiya Putri, Alisza Nasabila Azahra, Khendra Putra Alkautsar, Masyitha Alya Nurdiyono, hingga Dian Alia Ananta berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin dengan cakupan peserta yang lebih luas.
Menanggapi hal tersebut, Fitri berharap dukungan dari pemerintah daerah agar kegiatan literasi seperti ini bisa berkelanjutan.
“Kalau ini bisa difasilitasi Kementerian Kebudayaan RI, ke depan semoga Pemerintah Provinsi Lampung juga bisa mendukung,” katanya.
Hal senada disampaikan sastrawan Isbedy Stiawan ZS. Ia menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam membangun ekosistem sastra dan literasi.
“Jangan hanya fokus pada pembangunan fisik. Pembangunan spiritual, termasuk sastra dan budaya, juga harus mendapat perhatian,” ujarnya.
Menurut Isbedy, potensi besar generasi muda dalam bidang sastra perlu digali dan difasilitasi secara serius agar tidak terabaikan.
Penutupan Kemah Sastra 2026 ini pun menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan, sekaligus awal harapan baru bagi tumbuhnya ekosistem sastra yang lebih kuat di Lampung.***










