• Redaksi
  • Tentang Kami
Jumat, Maret 27, 2026
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Opini
  • Pendidikan
  • Hiburan
Home Ruwa Jurai Bandar Lampung

“Program Masuk Surga”, Puisi Absurd yang Menyentil Kebijakan Tak Realistis

MeldaEditorMelda
Mar 27, 2026
A A
“Program Masuk Surga”, Puisi Absurd yang Menyentil Kebijakan Tak Realistis
ADVERTISEMENT

PANTAU LAMPUNG- Puisi “Program Masuk Surga” karya Muhammad Alfariezie menghadirkan kritik sosial-politik yang tajam melalui permainan absurditas dan ironi.

Secara tematik, puisi ini jelas menyoroti jurang antara janji kebijakan yang “tinggi” dengan realitas masyarakat yang justru tak tersentuh manfaatnya.

Program Masuk Surga

BeritaTerkait

Simbolisme dan Realitas Sosial Berpadu dalam Karya Puitik Baru

Kota yang Tajam dan Berkarat: Makna Puisi Kaleng Bir Karya Muhammad Alfariezie

Kebijakan Garuda berisi program-
program jauh di atas awan yang
musykil kita sentuh

Jangankan seujung kuku, melihat
saja sudah lebih dari masuk surga
maka neraka percaya Garuda
akan memijak tanah halaman kita

ADVERTISEMENT

Hapus! Lebih bagus menusuk tikus
dengan wacana semut dan kita akan
berkoloni di area semangka

Tidak seperti sekarang hanya gerah
meratap hujan

2026

Sejak bait awal, frasa “program-program jauh di atas awan” menjadi metafora yang kuat. “Garuda” di sini bisa dibaca sebagai simbol negara, kekuasaan, atau elite pemerintahan—sesuatu yang megah, tetapi terlampau tinggi untuk dijangkau rakyat.

Selain itu, Garuda merupakan hewan yang sejauh ini hanya menjadi khayalan.

Imaji “awan” mempertegas jarak itu: kebijakan bukan hanya sulit diakses, tapi hampir mustahil disentuh. Bahkan, penyair menyindir bahwa “melihat saja sudah lebih dari masuk surga”—sebuah hiperbola yang menyiratkan betapa tidak realistisnya janji tersebut.

Kontras tajam muncul pada larik “maka neraka percaya Garuda akan memijak tanah halaman kita”. Ini ironi yang cerdas: “neraka” (simbol penderitaan rakyat) justru “percaya” pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar hadir.

Ada semacam kritik terhadap kepercayaan publik yang terus dipelihara, meski berulang kali dikhianati.
Masuk ke bagian tengah, puisi ini menjadi semakin absurd dengan diksi seperti “menusuk tikus dengan wacana semut” dan “berkoloni di area semangka”. Ini bukan sekadar permainan bahasa, melainkan bentuk satire.

Tikus sering diasosiasikan dengan masalah besar (korupsi, misalnya), sementara “semut” adalah hal kecil dan remeh—artinya, masalah besar ditangani dengan cara yang tidak relevan.

Sementara “area semangka” memberi kesan utopis sekaligus konyol, seolah solusi yang ditawarkan justru membawa masyarakat ke ruang yang tidak masuk akal.

Penutup puisi “Tidak seperti sekarang hanya gerah meratap hujan” memperlihatkan kondisi stagnan: rakyat tidak hanya menderita, tetapi juga terjebak dalam siklus keluhan tanpa perubahan nyata.

“Gerah” dan “hujan” adalah dua kondisi yang bertolak belakang, namun disatukan—menandakan kekacauan situasi sosial yang tidak logis.

Secara keseluruhan, kekuatan puisi ini terletak pada:
• Gaya bahasa satir dan absurd yang mengingatkan pada tradisi kritik sosial modern
• Metafora simbolik (Garuda, surga, neraka) yang mengandung lapisan makna politik
• Imaji paradoksal yang menggambarkan realitas yang kacau dan tidak sinkron

Namun, justru karena tingkat absurditasnya tinggi, puisi ini menuntut pembaca untuk aktif menafsirkan. Bagi pembaca awam, beberapa bagian mungkin terasa “liar” atau sulit dipahami, tetapi di situlah letak daya gugatnya—ia tidak memberi makna secara langsung, melainkan memancing kesadaran.

Singkatnya, karya ini adalah bentuk protes puitik terhadap utopia kebijakan—janji “surga” yang dijual kepada publik, tetapi tak pernah benar-benar turun ke “tanah halaman” rakyat.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: #muhammad alfariezieanalisis puisi indonesiakritik sosial puisimakna puisipuisi modern indonesiapuisi program masuk surgasatire politik
ShareTweetSendShare
Previous Post

Related Posts

Musrenbang RKPD 2027, Mirza Soroti Hilirisasi dan Kualitas SDM
Bandar Lampung

Musrenbang RKPD 2027, Mirza Soroti Hilirisasi dan Kualitas SDM

Mar 26, 2026
372 Personel Dikerahkan, Pengamanan Arus Balik di Lampung Selatan Berlanjut
Berita

372 Personel Dikerahkan, Pengamanan Arus Balik di Lampung Selatan Berlanjut

Mar 26, 2026
H+3 Lebaran, 119 Ribu Penumpang Menyeberang dari Bakauheni ke Merak
Berita

H+3 Lebaran, 119 Ribu Penumpang Menyeberang dari Bakauheni ke Merak

Mar 26, 2026
Berbekal Kedekatan, Motor Kerabat Digelapkan, Pelaku Ditangkap
Berita

Berbekal Kedekatan, Motor Kerabat Digelapkan, Pelaku Ditangkap

Mar 26, 2026
Berita

Dipicu Masalah Lama, Pelaku Penyerangan di Natar Berhasil Ditangkap

Mar 26, 2026
Ribuan Kendaraan Menyeberang Lancar, Polda Lampung Perkuat Pengamanan Arus Balik
Berita

Ribuan Kendaraan Menyeberang Lancar, Polda Lampung Perkuat Pengamanan Arus Balik

Mar 26, 2026
banner 300250

Berita Terkini

  • “Program Masuk Surga”, Puisi Absurd yang Menyentil Kebijakan Tak Realistis
  • (tanpa judul)
  • Musrenbang RKPD 2027, Mirza Soroti Hilirisasi dan Kualitas SDM
  • 372 Personel Dikerahkan, Pengamanan Arus Balik di Lampung Selatan Berlanjut
  • H+3 Lebaran, 119 Ribu Penumpang Menyeberang dari Bakauheni ke Merak
Pantau Lampung

Selamat datang di Pantau Lampung, portal berita yang mengabarkan secara cermat dan tepat tentang berbagai peristiwa dan perkembangan terkini di Provinsi Lampung. Kami hadir untuk menjadi sumber informasi terpercaya bagi masyarakat Lampung dan pembaca di seluruh Indonesia.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In