PANTAU LAMPUNG- Rabu sore, suasana Pasar Jatimulyo, Lampung Selatan, tampak berbeda. Di tengah hiruk-pikuk pedagang yang menawarkan cabai dan sayuran segar, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berjalan santai menyusuri lapak-lapak. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan kombinasi antara berbelanja dan inspeksi mendadak.
Di tangan kiri, kantong berisi bayam, kangkung, daun singkong, daun pepaya, selada, tempe, hingga kurma. Sementara tangan kanannya menyapa pedagang satu per satu yang tersenyum sumringah. “Ini siap mau tempe, kita bagi-bagi. Ada kurma juga buat buka puasa,” ucapnya, disambut tawa warga dan jurnalis Pemprov Lampung.
Aksi memborong dagangan itu bukan sekadar berbagi takjil. Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, langkah spontan ini menjadi semangat bagi pedagang kecil agar dagangannya tetap berputar. Beberapa pedagang bahkan mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka.
Namun, ngabuburit sore itu juga menyoroti persoalan lain. Di sela pembagian bahan pangan, gubernur menengok saluran air yang tidak lagi berfungsi optimal. Ia menunjuk gorong-gorong yang tertutup pengecoran dan memperhatikan jalan yang menyempit akibat lapak yang maju ke badan jalan. “Drainasenya tidak jalan. Jalan yang harusnya lebar jadi sempit,” katanya lebih serius.
Masalah genangan air di kawasan ini memang sudah lama terjadi. Setiap hujan, air kerap meluap ke badan jalan, memicu kemacetan panjang dan mempercepat kerusakan aspal. Pasar yang seharusnya menjadi pusat denyut ekonomi justru menjadi titik kemacetan.
Sebelumnya, gubernur meninjau ruas Simpang Korpri–Sukadamai. Sepanjang 23 kilometer jalan itu, Unit Reaksi Cepat (URC) tengah menambal lubang-lubang yang menganga. Menjelang arus mudik Lebaran, akses jalan menjadi perhatian serius. “Kalau hujan, di sini selalu tergenang. Lalu lintasnya ramai, macet panjang,” ujarnya sambil menatap kendaraan yang melintas perlahan.
Pemerintah Provinsi Lampung berencana menormalisasi gorong-gorong tahun depan agar saluran air kembali berfungsi dan tidak meluap ke jalan. Gubernur juga mengajak pedagang dan pemilik ruko untuk menata ulang bangunan, menekankan tanggung jawab kolektif dalam menjaga ruang publik.
Di Pasar Jatimulyo, ngabuburit menjadi lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka. Sore itu berubah menjadi ruang dialog, tempat sayuran diborong, drainase ditinjau, dan harapan warga disapa langsung.











