PANTAU LAMPUNG- José Mourinho hari ini sering dijadikan bahan olok-olok. Ia dicap usang, defensif, bahkan dianggap tak relevan dengan sepak bola modern. Namun ada satu paradoks yang jarang dibicarakan secara jujur: jika Mourinho memang seburuk itu, mengapa begitu banyak pelatih ingin menjadi dirinya?
Masalahnya bukan pada Mourinho. Masalahnya pada mereka yang ingin hasil ala Mourinho, tapi menolak membayar harga yang selalu menyertainya.
Kesalahpahaman Bernama “Parkir Bus”
Mourinho kerap disederhanakan sebagai pelatih parkir bus. Padahal, istilah itu lebih sering dipakai sebagai ejekan ketimbang analisis. Apa yang dilakukan Mourinho sejatinya adalah manajemen risiko ekstrem.
Ia memahami sepak bola sebagai permainan probabilitas, bukan lomba estetika. Menang 1–0 dengan disiplin total dianggap lebih masuk akal daripada kalah 3–2 demi tepuk tangan media sosial. Mourinho tidak pernah meminta maaf atas pilihan itu, karena baginya kemenangan adalah tujuan, bukan bonus.
Mourinho Tidak Mengajar Indah, Ia Mengajar Bertahan Hidup
Banyak pelatih mengajarkan pola menyerang. Mourinho mengajarkan cara bertahan ketika segalanya runtuh. Ia membentuk tim dengan mental bertahan hidup.
Ketika media menyerang, timnya justru dirapatkan. Saat publik meragukan, keraguan itu dijadikan bahan bakar. Ketika dianggap remeh, jawabannya selalu sama: hasil.
Itulah mengapa banyak pemainnya rela habis-habisan. Bukan karena taktiknya memesona, tetapi karena Mourinho selalu berdiri paling depan ketika tekanan datang. Ia menyerap kritik agar ruang ganti tetap utuh.
Media Membenci Mourinho Karena Ia Mengerti Cara Memakainya
Bagi banyak pelatih, konferensi pers adalah ruang defensif. Bagi Mourinho, itu medan perang. Ia tahu kapan harus menyindir wasit tanpa menyebut nama, kapan menyerang sistem tanpa melanggar aturan, dan kapan menciptakan musuh imajiner demi solidaritas tim.
Mourinho paham satu hal penting: tekanan harus dialihkan. Media bukan tempat klarifikasi, melainkan alat distribusi tekanan. Itulah sebabnya ia sering dibenci. Dan justru di situlah efektivitasnya bekerja.
Harga yang Tak Semua Orang Siap Bayar
Banyak pelatih mengaku ingin seperti Mourinho. Tapi sedikit yang siap dengan konsekuensinya. Menjadi Mourinho berarti siap kehilangan simpati publik, siap konflik dengan manajemen, dan siap dipecat lebih cepat dari pelatih lain.
Mourinho bukan arsitek proyek jangka panjang. Ia adalah pemadam kebakaran elit. Datang saat klub kacau, menegakkan disiplin, lalu pergi sebelum euforia berubah jadi kebakaran baru. Klub yang menginginkan stabilitas tapi mempekerjakan Mourinho sering kali tidak paham apa yang mereka beli.
Mengapa Mourinho Masih Relevan
Di tengah sepak bola modern yang dipenuhi jargon progresif, Mourinho mengingatkan satu hal mendasar: menang tetap mata uang utama.
Ia bukan anti-modern. Ia hanya menolak berpura-pura. Di dunia sepak bola yang semakin gemar mengemas kekalahan dengan narasi indah, kejujuran Mourinho terasa ofensif. Bukan karena ia salah, tapi karena ia mengingatkan sesuatu yang tak nyaman.
Mourinho tidak gagal beradaptasi dengan zaman. Justru zaman yang kerap lupa bahwa hasil adalah segalanya. Maka ketika pelatih muda berkata ingin menjadi Mourinho, pertanyaannya bukan soal taktik atau formasi.
Pertanyaannya sederhana: siapkah ia dibenci, demi menang?***








