PANTAU LAMPUNG- Sebuah puisi menyebut Bandar Lampung bukan sebagai kota, melainkan kaleng bir bekas orang tidur di pinggir jalan. Metafora itu terdengar kasar, bahkan tak sopan. Namun bagi Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Bandar Lampung, ungkapan tersebut bukan sekadar provokasi—melainkan potret jujur tentang kota yang keras, berkarat, dan berpotensi melukai warganya sendiri.
Puisi berjudul “Kaleng Bir” itu kini menarik perhatian pembaca sastra dan pegiat isu sosial. Dengan bahasa sederhana namun tajam, Alfariezie menghadirkan kritik kota yang jarang muncul dalam narasi pembangunan dan pencitraan daerah.
Kaleng Bir
Bandar Lampung kaleng bir
bekas orang tidur pinggir
jalan. Ibu marah ketika saya
bilang begitu. Walau tempat
minum bekas hidup orang
pinggir jalan, Bandar Lampung
ialah yang halal– menurutnya
Tapi saya heran, dan mungkin
ibu kurang paham. Bandar
Lampung kaleng bir bekas orang
tidur pinggir jalan, bukan botol
bekas Aqua maupun Aquiviva
Seperti yang haram, Bandar
Lampung enggak menjamin
hidup Anda sehat sejahtera
Bandar Lampung, tajam
berkarat dan kita bisa
terluka. Sepertinya, tetanus
hingga tersiksa
2026
Kota yang Direduksi Menjadi Benda Buangan
Sejak baris pembuka, puisi ini langsung menyerang kesadaran pembaca:
“Bandar Lampung kaleng bir
bekas orang tidur pinggir jalan”
Bandar Lampung tidak digambarkan sebagai kota modern, ibu kota provinsi, atau pusat ekonomi. Kota itu justru direduksi menjadi benda sisa, barang sekali pakai yang tergeletak di pinggir jalan—tempat orang-orang bertahan hidup dalam kondisi paling minimal.
Kaleng bir di sini bukan sekadar objek, melainkan simbol. Ia mewakili sisa konsumsi kota, limbah urban yang ditinggalkan sistem, sekaligus menyimpan bahaya: tajam, berkarat, dan bisa melukai siapa saja yang menyentuhnya.
Bukan Aqua, Bukan Kehidupan Layak
Dalam puisinya, Alfariezie dengan tegas membandingkan kaleng bir dengan botol air mineral:
“bukan botol bekas Aqua maupun Aquiviva”
Perbandingan ini mengandung kritik kelas yang kuat. Air mineral identik dengan kebersihan, kesehatan, dan standar hidup layak. Sementara kaleng bir bekas adalah simbol hidup darurat—apa yang tersisa bagi mereka yang tidak pernah benar-benar diperhitungkan dalam perencanaan kota.
Kota, dalam pandangan penyair, menyediakan fasilitas berbeda untuk warganya. Ada yang minum air bersih, ada yang hanya mendapat sisa.
“Halal”, Tapi Tidak Manusiawi?
Konflik paling menarik dalam puisi ini muncul lewat figur ibu. Sang ibu marah ketika sang penyair menyamakan Bandar Lampung dengan kaleng bir bekas orang pinggir jalan. Menurutnya, meski tempat minum itu bekas kaum marginal, Bandar Lampung tetap “halal”.
Di sinilah ironi tajam muncul. Alfariezie mempertanyakan makna halal jika kota yang sah secara moral dan administratif justru gagal menjamin kehidupan warganya.
“Seperti yang haram,
Bandar Lampung enggak menjamin
hidup Anda sehat sejahtera”
Larik ini tidak menyerang agama, tetapi cara berpikir yang terlalu sibuk dengan simbol moral, sementara realitas sosial dibiarkan luka.
Kota yang Melukai Perlahan
Bagian penutup puisi menjadi klimaks kritik:
“Bandar Lampung, tajam
berkarat dan kita bisa
terluka. Sepertinya, tetanus
hingga tersiksa”
Bandar Lampung digambarkan sebagai benda berkarat—tidak langsung membunuh, tetapi melukai secara perlahan. Tetanus menjadi metafora kuat tentang luka kecil yang diabaikan, namun berujung penderitaan serius.
Ini adalah kritik tentang kelalaian struktural: kota yang tampak berjalan normal, tetapi diam-diam menyimpan bahaya bagi mereka yang paling rentan.
Suara Penyair Muda dan Kritik Kota
Dalam peta sastra Indonesia kontemporer, “Kaleng Bir”menempatkan Muhammad Alfariezie sebagai bagian dari generasi penyair muda yang berani membaca kota dari sisi paling gelap. Ia tidak menawarkan solusi, tidak berkhotbah, tetapi menyodorkan cermin.
Bandar Lampung, dalam puisi ini, bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah simbol kota mana pun yang mengaku layak, namun menutup mata pada warganya yang hidup di pinggir jalan.
Ketika Puisi Menjadi Gugatan
Puisi “Kaleng Bir” menunjukkan bahwa sastra masih memiliki fungsi penting: menggugat. Bukan dengan teriakan, tetapi dengan metafora sederhana yang sulit dilupakan.
Kaleng bir itu mungkin kecil dan dianggap remeh. Namun seperti karat dan tetanus, ia menyimpan luka—dan puisi ini memaksa kita untuk melihatnya.
Catatan Redaksi
Puisi “Kaleng Bir” ditulis oleh Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Kota Bandar Lampung, pada tahun 2026.***








