PANTAU LAMPUNG- Panggung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung bergemuruh pada Kamis, 15 Januari 2026. Penyair senior Lampung, Isbedy Stiawan ZS, tampil membaca puisi bersama putrinya, Dzafira Adelia Putri Isbedy, dalam penutupan acara Bedah Buku Antologi Puisi Penulis Muda Lampung. Kolaborasi lintas generasi ini menjadi simbol kuat estafet kepenyairan yang terus dirawat dan dikembangkan di Lampung.
Penampilan tersebut tidak hanya menjadi sajian artistik, tetapi juga pernyataan kultural bahwa sastra Lampung hidup, bergerak, dan tumbuh melalui regenerasi yang nyata.
Kolaborasi Keluarga di Panggung Sastra Lampung
Momen tersebut semakin sarat makna ketika Isbedy tidak tampil seorang diri. Ia hadir bersama sang istri, Fitri Anggraini Roffar, Ketua Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, yang selama ini aktif membuka ruang kreatif dan pendampingan bagi penulis muda Lampung.
Kehadiran keluarga Isbedy di satu panggung menjadikan sastra bukan sekadar ekspresi personal, melainkan nilai yang diwariskan. Panggung sastra berubah menjadi ruang pendidikan kultural, tempat nilai, etika, dan semangat kepenyairan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Puisi bukan hanya dibaca, tetapi dihidupi. Regenerasi adalah keniscayaan agar sastra tidak berhenti pada satu zaman,” ujar Isbedy Stiawan ZS seusai pembacaan puisi.
Dzafira dan Simbol Regenerasi Penyair Lampung
Dzafira Adelia, siswi SMP yang telah beberapa kali menorehkan prestasi dalam lomba baca puisi, membuka sesi pembacaan dengan penuh penghayatan. Penampilannya menegaskan bahwa regenerasi sastra Lampung bukan wacana, melainkan realitas yang sedang tumbuh.
Dzafira sebelumnya juga pernah tampil bersama Isbedy dalam sejumlah agenda sastra nasional, termasuk Festival Puisi Esai Jakarta dan Pekan Kebudayaan Daerah Lampung. Kehadirannya di panggung ini menegaskan kesinambungan tradisi sastra dalam lingkup keluarga sekaligus komunitas.
Lamban Sastra dan Penulis Muda Lampung
Acara Bedah Buku Antologi Puisi ini merupakan bagian dari upaya Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS bersama Komunitas Penulis Muda Lampung (KPML) dalam menyiapkan kader penyair masa depan. Antologi yang dibedah memuat karya generasi baru penyair Lampung yang dinilai memiliki keberanian estetik dan kesadaran sosial.
Ketua Panitia, Anggi Farhans, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk afirmasi bagi penulis muda agar percaya diri menempatkan diri dalam peta sastra nasional.
“Kami ingin penyair muda Lampung tidak hanya hadir, tetapi juga diperhitungkan. Bedah buku ini adalah ruang belajar sekaligus legitimasi kultural,” kata Anggi.
Subjudul
Lampung Menuju Lumbung Penyair Nasional
Melalui konsistensi kegiatan sastra, Lampung kian menegaskan posisinya sebagai salah satu lumbung penyair di Indonesia, sejajar dengan daerah-daerah yang telah lebih dulu dikenal seperti Yogyakarta dan Bali.
Penutupan acara oleh keluarga Isbedy Stiawan ZS menjadi penegasan bahwa sastra Lampung tidak bertumpu pada satu figur, tetapi bergerak melalui ekosistem yang sehat—keluarga, komunitas, dan ruang budaya yang saling menguatkan.
Pada petang itu, puisi tidak sekadar dibacakan. Ia diwariskan, dirawat, dan diserahkan kepada generasi berikutnya dengan keyakinan bahwa sastra Lampung akan terus menyala dan relevan di tingkat nasional.








