oleh

Disbudpar Kota Semarang Peringati HWN, Taja Pagelaran Wayang Kulit Lakon “Kangsa Adu Jago”

SEMARANG, PL– Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) menaja pergelaran wayang kulit dengan lakon “Kangsa Adu Jago” di Gedung Oudetrap, Kota Lama, Semarang, Kamis (24/11/2022).

Pagelaran wayang ini disiarkan langsung oleh RRI Semarang dan kive streaming melalui kanal Youtube Sinar Laras.

Helat pergelaran wayang dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional (HWN) ke-4 ini dibuka Asisten Administrasi Umum Masdiana Safitri, SH, mewakili Plh Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Hadir pada gelaran peringan HWN tersebut Kepala Disbudpar Kota Semarang Wing Wiyarso Poespojoedho, S.Sos,M.Si, , Kabid Budaya Disbudpar Arief Tri Laksono, SH, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Smarang Dr. H. Anang Budi Utomo, S.Mn, M.Pd, dan tamu undangan yang lain.

Pembukaan pagelaran wayang kulit ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Masdiana disaksikan Kadisbudbar Wing yang kemudian diserahkan kepada Ketua Pepadi Kota Semarang Anang Budi Utomo.

Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan tokoh wayang Brotoseno kepada Ki Jati Nugroho yang pada malam itu tampil sebagai dalang penyaji.

Asisten Administarsi Umum Masdiana dalam sambutannya, mengatakan, pagelaran wayang tak hanya bisa dinikmati sebagai tontonan, tetapi juga bisa jadi tuntunan dan tatanan.

Wayang makin mendapatkan perhatian di Indonesia setelah 19 tahun lalu ditetapkan UNESCO sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, kini hari penetapan itu dijadikan Hari Wayang Nasional.

Salah satu pertimbangan penetapan Hari Wayang Nasional adalah wayang telah tumbuh dan berkembang menjadi aset budaya nasional yang memiliki nilai sangat berharga dalam pembentukan karakter dan jati diri bangsa Indonesia.

Penetapan itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap wayang Indonesia.

“Untuk itu kesenian wayang harus terus diuri-uri dan dilestaraikan. Apalagi UNESCO juga sudah mengakui nilai-nilai filosofi yang ada dalam pergelaran wayang. Sejak dini wayang harus diperkenalkan kepada anak-anak yang kelak akan menjadi pewaris dan pelestari wayang,” ujar Masdiana.

Ketua Pepadi Kota Semarang dalam sambutannya sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan pemerintah Kota Semarang dalam menguri-uri kesenian tradisi terutama wayang kulit.

“Bukti kongkritnya Pembkot Semarang punya tradisi pagelaran malam Jumat Kliwonan yang hingga saat ini sudah berlangsung ke- 303 yang dulu tempat pentasnya di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Tetapi sekarang tempat pentasnya berpindah-pindah di RRI, Sobokartti dan malam ini dilaksanakan di Gedung Odetrap ini,” ujar Anang Budi Santoso yang juga anggota DPRD Kota Semarang.

Ketua Pepadi Kota Semarang ini juga berharap pertunjukan pertunjukan wayang kulit sebagai yang sudah ditetapkan UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi dan warisan budaya yang indah dan berharga sejak 7 November 2003 ini terus diuri-uri dan dilerstarikan oleh bangsa kita.

“Malam ini kita memperingati Hari Wayang Nasional yang ke-4, karena baru ditetapkan Keppresnya pada 18 Desember 2018 lalu. Pada malam ini sekaligus uga memperingati hari Wayang Internasional yang ke- 19 sesuai dengan tanggal ditetapkannya wayang sebagai warisa budaya dunia oleh UNESCO,” ujar babar Anang Budi Utomo.

Lakon Kangsa Adu Jago

Dalng Ki Jati Nugroho mengusung lakon klasik Kangsa Adu Jago dengan inovasi sentuhan kreativitas kekininian.

Pertunjukan wayang yang diiringi karawitan Wijaya Laras ini berlangsung gayeng, mengalirdan mendapat respon dari penonton yang ikut interaktif ada sehingga pas gelaran limbukan atawa gara-gara yang menampilkan bintang tamu Danang Gareng dari Purwodadi ada penonton yang ikut menari-nari mengikuti iringan gamelan.

Joke-joke segar dari Ki Jati Nudroho maupu Danang juga mendapat samabutan yang tak kalah meriah. Pamuncaknya ketika Totok ”Bagong” Pamungkas naik ke atas pentas berkolaborasi dengan Danang Gareng yang membuat penonton makin bergairah karena lelucon keduanya yang ngeblend.

Kisah ini menceritakan Adipati Kangsa merebut takhta Kerajaan Mandura dan mengadakan pertandingan Adu Jago manusia, yang berakhir dengan kematiannya di tangan Kakrasana dan Narayana. Juga diceritakan awal mula Kakrasana dan Narayana mendapatkan senjata pusaka dari kahyangan, antara lain Nanggala dan Cakra.

(*)