PANTAU LAMPUNG- Keberanian kembali menjadi mata uang paling mahal di Liga Champions. Jose Mourinho menegaskannya lewat sebuah malam dramatis di Estádio da Luz. Di bawah komandonya, Benfica tampil tanpa gentar dan menundukkan Real Madrid dengan skor 4-2, hasil yang membuat panggung Liga Champions hanya menyisakan rasa kagum.
Laga ini bukan sekadar kemenangan. Benfica, di bawah racikan taktik Jose Mourinho, berhasil meredam deretan bintang Real Madrid—termasuk Kylian Mbappe dan Vinicius Jr—dengan kombinasi disiplin, keberanian, dan keputusan taktis yang ekstrem namun efektif.
Babak Pertama: Madrid Unggul, Benfica Bangkit
Real Madrid yang menurunkan formasi 4-3-3 sempat menunjukkan dominasinya lebih dulu. Pada menit ke-29, Kylian Mbappe membuka skor setelah memanfaatkan umpan silang matang dari sisi kanan pertahanan Benfica. Gol itu sempat membuat publik tuan rumah terdiam.
Namun Jose Mourinho bukan pelatih yang membiarkan momentum lawan bertahan lama. Benfica merespons cepat. Menit ke-35, Andreas Schjelderup menyamakan kedudukan lewat penyelesaian klinis, kembali dari skema umpan silang yang rapi. Gol ini menghidupkan kembali kepercayaan diri Benfica.
Tekanan Benfica berlanjut hingga akhir babak pertama. Pada masa tambahan waktu, sepak pojok Benfica berujung pelanggaran di kotak penalti Real Madrid. Wasit menunjuk titik putih, dan Vangelis Pavlidis menjalankan tugasnya dengan sempurna. Benfica menutup babak pertama dengan keunggulan 2-1.
Babak Kedua: Panggung Schjelderup dan Ketegangan Akhir
Memasuki babak kedua, Benfica tidak menurunkan intensitas. Menit ke-53, Andreas Schjelderup kembali mencatatkan namanya di papan skor. Winger muda itu melepaskan tembakan mendatar yang tak mampu diantisipasi Thibaut Courtois. Skor berubah menjadi 3-1 untuk Benfica.
Real Madrid sempat bangkit. Empat menit berselang, Mbappe kembali mencetak gol setelah menerima umpan silang dari sisi kanan kotak penalti. Kedudukan menjadi 3-2 dan pertandingan kembali menegang.
Drama mencapai puncaknya di menit-menit akhir. Rodrygo diganjar kartu merah pada injury time setelah menerima kartu kuning kedua, membuat Madrid kehilangan tenaga untuk menyamakan skor.
Momen paling ikonik datang pada injury time +6. Dalam keputusan yang mencengangkan, Jose Mourinho memerintahkan kiper Anatoliy Trubin maju ke area serang saat situasi bola mati. Keputusan itu berbuah gol keempat Benfica, memastikan kemenangan 4-2 dan menutup laga dengan sorak-sorai luar biasa.
Guardiola: Strategi Mourinho Sangat Berani
Keberanian Mourinho menuai pujian, bahkan dari rival lamanya. Pep Guardiola, yang menyaksikan pertandingan tersebut, mengakui kecerdikan strategi sang pelatih.
“Kami semua menonton laga Benfica vs Madrid di ruang ganti. Awalnya kami heran kenapa kiper mereka maju. Kalau Madrid mencetak gol lewat serangan balik, situasinya bisa sangat berbahaya. Tapi itu jelas strategi yang brilian dari Jose untuk mencetak gol keempat,” ujar Guardiola.
Kemenangan ini menegaskan reputasi Jose Mourinho sebagai pelatih yang tak hanya mengandalkan nama besar, tetapi juga keberanian mengambil risiko di momen paling menentukan Liga Champions.***



