PANTAU LAMPUNG- Polres Pringsewu kembali menyoroti problem akses dasar yang dialami ribuan warga di berbagai pekon di Kabupaten Pringsewu. Melalui proses identifikasi dan pengecekan lapangan, kepolisian setempat mengusulkan pembangunan lima jembatan gantung kepada Satgasus Darurat Jembatan. Usulan ini menjadi harapan baru bagi wilayah yang selama bertahun-tahun terpaksa menggantungkan aktivitas harian pada rakit sederhana hanya untuk menyeberangi sungai.
Kapolres Pringsewu, AKBP M. Yunnus Saputra, memimpin langsung peninjauan ke lima titik yang diusulkan. Hasil dari pengecekan itu menunjukkan kondisi yang memprihatinkan: akses antarpekon yang seharusnya menjadi jalur vital justru terputus total karena tidak adanya jembatan penghubung.
Lima titik jembatan gantung yang diusulkan tersebut meliputi:
1. Penghubung Pekon Sukoharjo 4 Kecamatan Sukoharjo – Pekon Podomoro Kecamatan Pringsewu
2. Pekon Madaraya Kecamatan Pagelaran Utara – Pekon Sukajadi
3. Pekon Banjarrejo Kecamatan Banyumas – Pekon Bumiarum Kecamatan Pringsewu
4. Pekon Margodadi Kecamatan Ambarawa – Pekon Waluyojati Kecamatan Pringsewu
5. Pekon Ambarawa Kecamatan Ambarawa – Waykhilau Kabupaten Pesawaran
Menurut AKBP Yunnus, lima lokasi tersebut dipilih berdasarkan urgensinya dan banyaknya warga yang menggantungkan mobilitas pada jalur tersebut. Tidak adanya jembatan menyebabkan anak sekolah harus menyeberang dengan rakit, ibu rumah tangga kesulitan menuju pasar, mahasiswa terhambat berangkat kuliah, dan aktivitas ekonomi warga tersendat.
“Ini bukan sekadar usulan pembangunan, tetapi kebutuhan yang sangat mendesak. Lima lokasi ini kami nilai paling urgen karena merupakan jalur perlintasan padat yang dipakai semua kalangan,” tegas Yunnus.
Ia menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan program nasional Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembangunan 300.000 jembatan di seluruh Indonesia untuk meningkatkan konektivitas masyarakat. Dengan adanya program tersebut, peluang realisasi pembangunan jembatan gantung semakin besar.
Dari kelima titik itu, satu lokasi disebut paling kritis dan kemudian diprioritaskan: Pekon Banjarrejo Kecamatan Banyumas. Kondisi di titik ini paling memprihatinkan karena warga harus menyeberang menggunakan rakit setiap hari, sementara arus sungai bisa berubah drastis saat musim hujan.
“Banjarrejo kami jadikan prioritas utama karena risikonya paling tinggi dan volume aktivitas warga sangat besar. Kami berharap pemerintah segera menindaklanjuti,” ujar Yunnus.
Keluhan tentang akses tersebut turut disampaikan warga setempat. Isma, salah satu warga Pekon Banjarrejo, menggambarkan bagaimana sulitnya kehidupan tanpa jembatan. Setiap hari ia harus membayar Rp5.000 sekali seberang untuk pulang pergi melalui rakit yang tidak selalu aman.
“Ini adalah akses terdekat menuju pusat kota Pringsewu. Kalau tidak naik rakit, harus memutar jauh dan itu memakan waktu serta biaya. Kalau banjir, kami paling takut. Banyak orang yang hampir hanyut karena arus tiba-tiba deras,” ujarnya.
Selama bertahun-tahun, warga Banjarrejo dan sekitarnya menjalani rutinitas penuh risiko. Ketika debit air sungai meningkat, rakit yang digunakan sering tak mampu menahan arus, memaksa warga bergantung pada bantuan gotong royong untuk mengevakuasi penyeberang.
Gambaran ini menunjukkan betapa krusialnya jembatan gantung bagi keselamatan dan perkembangan ekonomi lokal. Tanpa infrastruktur memadai, kegiatan perdagangan terhambat, pelajar terpaksa mengambil risiko besar, dan aktivitas masyarakat tidak berjalan optimal.
Kini warga berharap agar usulan Polres Pringsewu tidak hanya berhenti pada tataran administrasi, tetapi dapat segera direalisasikan oleh pemerintah daerah maupun pusat. Jembatan gantung yang mereka nantikan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan harapan untuk kehidupan yang lebih layak, aman, dan sejahtera.
Dengan pengajuan usulan ini, tekanan publik untuk memperbaiki infrastruktur dasar di wilayah Pringsewu semakin kuat. Masyarakat kini hanya menunggu tindak lanjut dari pemerintah: apakah mereka akan merespons kebutuhan mendesak ini, atau kembali membiarkan ribuan warga memilih antara risiko dan kebutuhan setiap kali menyeberangi sungai.***












