Bandar LampungBerita

Tanah Hitam Jadi Petunjuk Misteri Keratuan Balaw, Cerita Perang Kembali Terungkap

PANTAU LAMPUNG- Cerita tentang pertikaian dahsyat di wilayah Keratuan Balaw saat Ratu Lengkara disebut pergi ke Singapura kembali mengemuka. Namun, cerita tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya karena masih sebatas pernyataan dan kisah yang berkembang di masyarakat.

Budayawan Arie Sai Bumi mendatangi Basecamp sementara Saburai Culture Community pada Rabu, 23 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, komunitas penggiat cagar budaya itu juga mewacanakan perubahan nama menjadi Saburai Budaya Nusantara sebagai bagian dari upaya agar dapat memenuhi persyaratan Kemenkum.

Pada hari yang sama, Arie bercerita kepada Sekretaris Saburai Culture Community, Muhammad Alfariezie, mengenai pertemuannya dengan sejumlah orang yang disebutnya memiliki kemampuan supranatural.

Menurut Arie, dari pertemuan tersebut dirinya diminta mencari titik penggalian yang dianggap strategis, salah satunya lokasi yang memiliki tanah berwarna hitam di bagian bawah.

Tanah berwarna hitam itu kemudian dikaitkan dengan dugaan adanya bekas kebakaran akibat sebuah perang dahsyat di masa lalu. Cerita tersebut disebut memiliki keterkaitan dengan kisah yang sebelumnya disampaikan Arief Mulyadin, mantan Ketua Bidang Seni Rupa Dewan Kesenian Lampung (DKL).

“Beberapa hari lalu saya bertemulah dengan kawan-kawan supranatural. Jadi berdasarkan penglihatan mereka, dimintalah untuk mencari lokasi yang di bawahnya ada tanah warna hitam. Di situ katanya, salah satu penyebab tanah itu hitam karena bekas kebakaran yang kemungkinan terjadi, salah satunya lagi karena peperangan atas perebutan gadis,” ujar Arie.

Pernyataan tersebut kemudian memunculkan kembali cerita mengenai dugaan perebutan gadis pada masa Keratuan Balaw.

Sebelumnya, Arief Mulyadin menyampaikan asumsi bahwa sejumlah pangeran, salah satunya disebut berasal dari Tulang Bawang, terlibat peperangan untuk mendapatkan gadis-gadis Ratu Lengkara ketika sang ratu disebut sedang pergi ke Singapura.

Kisah mengenai tanah hitam, peperangan, hingga Ratu Lengkara tersebut sejauh ini masih berada dalam ranah cerita, asumsi, dan penuturan dari sejumlah pihak. Belum terdapat pembuktian arkeologis atau sumber sejarah yang disampaikan dalam cerita ini untuk memastikan bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi.

Bagi para penggiat budaya, cerita tersebut menjadi bagian dari upaya menggali kembali berbagai kisah yang berkembang mengenai sejarah dan cagar budaya Lampung, sekaligus membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut berdasarkan bukti dan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *