PANTAU LAMPUNG- Di tengah dinamika politik nasional yang terus bergerak sejak pemerintahan Prabowo Subianto dan wakil presiden Gibran Rakabuming Raka resmi memimpin Indonesia, satu pertanyaan mulai sering muncul di ruang publik: kemana suara ulama kharismatik Habib Luthfi bin Yahya?
Nama Habib Luthfi bukanlah sosok kecil dalam panggung politik dan keagamaan Indonesia. Ulama asal Pekalongan ini dikenal memiliki pengaruh besar di kalangan jamaah tarekat dan jaringan ulama tradisional. Bahkan pada masa kampanye Pilpres lalu, kehadiran Habib Luthfi di beberapa momentum politik dianggap memberi energi moral dan dukungan signifikan bagi kemenangan pasangan Prabowo–Gibran.
Namun setelah pemerintahan berjalan, publik mulai bertanya-tanya. Habib Luthfi yang kini menjabat sebagai anggota di Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia justru jarang terdengar suaranya di ruang publik.
Padahal, Indonesia sedang menghadapi berbagai polemik yang cukup serius. Mulai dari dinamika internal organisasi masyarakat Islam, hingga kebijakan luar negeri yang menjadi perhatian global. Salah satunya ketika Presiden Prabowo bergabung dalam forum perdamaian internasional yang disebut Board of Peace (BOP) bersama sejumlah tokoh dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam agenda yang dikaitkan dengan upaya perdamaian Palestina.
Di tengah isu sebesar itu, publik tidak mendengar komentar atau pandangan dari Habib Luthfi.
Pertanyaan semakin kuat ketika Presiden Prabowo mengundang sekitar 40 tokoh organisasi Islam ke Istana Negara Jakarta pada Selasa, 3 Februari 2026. Pertemuan tersebut disebut-sebut sebagai upaya pemerintah meredam berbagai dinamika di kalangan umat Islam serta membangun komunikasi dengan para pemimpin ormas.
Namun dari berbagai laporan yang beredar, nama Habib Luthfi justru tidak terlihat dalam daftar tokoh yang hadir pada pertemuan tersebut.
Situasi ini memunculkan spekulasi di masyarakat. Apakah Habib Luthfi memang memilih menjaga jarak dari dinamika politik praktis? Ataukah ada peran lain yang sedang dijalankan secara lebih senyap di balik layar?
Sebagian pengamat menilai, sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Habib Luthfi mungkin lebih aktif memberikan nasihat langsung kepada presiden secara tertutup daripada menyampaikan pandangan melalui media. Namun bagi publik yang selama ini mengenal beliau sebagai ulama yang cukup vokal dalam menjaga persatuan bangsa, keheningan ini tetap menimbulkan tanda tanya.
Apalagi di saat banyak persoalan yang dirasakan masyarakat—mulai dari konflik internal ormas, dinamika ekonomi, hingga posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik dunia.
Di tengah kondisi Indonesia yang oleh sebagian kalangan disebut “tidak sedang baik-baik saja”, publik kini menunggu satu hal sederhana: apakah Habib Luthfi akan kembali bersuara?
Atau justru memilih tetap berada di balik layar kekuasaan, menjalankan perannya dalam diam.
Jika diam itu strategi, maka publik hanya bisa menunggu kapan suara ulama yang dulu ikut mengantar kemenangan politik itu kembali terdengar.***







