PANTAU LAMPUNG- Komitmen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kalianda dalam membangun pembinaan yang humanis terus diwujudkan melalui program pendidikan dasar. Terbaru, Lapas Kalianda menggelar kegiatan pembelajaran bebas buta huruf bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sebagai langkah konkret menyiapkan mereka kembali ke masyarakat dengan bekal literasi yang memadai.
Dorong Literasi Dasar Warga Binaan
Program pembelajaran buta huruf ini dilaksanakan pada Rabu (21/1/2026) dengan melibatkan peserta magang Batch 2 Lapas Kelas IIA Kalianda. Sebanyak 13 Warga Binaan mengikuti kegiatan tersebut dengan pendampingan langsung dari staf pembinaan.
Para WBP dikeluarkan dari blok hunian untuk mengikuti proses belajar yang berlangsung secara tertib, aman, dan kondusif. Materi yang diberikan berfokus pada pengenalan huruf, membaca, serta menulis sebagai kemampuan dasar literasi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sistematis Lapas Kalianda dalam meningkatkan kualitas pembinaan kepribadian bagi warga binaan selama menjalani masa pidana.
Pembinaan Humanis di Dalam Lapas
Kepala Lapas Kelas IIA Kalianda, Beni Nurrahman, menegaskan bahwa pembelajaran bebas buta huruf memiliki peran strategis dalam proses pemasyarakatan. Menurutnya, pendidikan dasar merupakan pondasi penting bagi warga binaan untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian.
“Pembelajaran buta huruf ini menjadi langkah awal agar warga binaan memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis. Harapannya, setelah bebas nanti mereka lebih siap kembali ke masyarakat dan menjalani kehidupan yang lebih baik,” ujar Beni Nurrahman.
Ia menambahkan, pembinaan di dalam lapas tidak semata-mata berorientasi pada hukuman, tetapi juga pada perubahan sikap dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Sinergi Petugas dan Peserta Magang
Kegiatan pembelajaran ini juga menjadi wadah sinergi antara petugas pembinaan dan peserta magang. Kehadiran peserta magang dinilai memberikan warna baru dalam proses belajar-mengajar serta mendorong terciptanya suasana yang lebih interaktif.
Pendekatan edukatif yang diterapkan diharapkan mampu menumbuhkan minat belajar warga binaan, sekaligus menghapus stigma bahwa lapas hanya menjadi tempat menjalani hukuman semata.
Melalui sinergi ini, Lapas Kalianda berupaya menciptakan pembinaan yang berkelanjutan dan berorientasi pada masa depan warga binaan.
Bekal Penting Menjelang Kembali ke Masyarakat
Kemampuan membaca dan menulis dinilai sebagai bekal fundamental bagi warga binaan untuk beradaptasi setelah bebas. Dengan literasi dasar, mereka diharapkan lebih mudah mengakses informasi, peluang kerja, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial.
Program bebas buta huruf ini sekaligus menjadi wujud nyata bahwa proses pemasyarakatan menempatkan manusia sebagai subjek pembinaan, bukan sekadar objek hukuman.
Ke depan, Lapas Kalianda berkomitmen untuk terus mengembangkan program pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan warga binaan.
Melalui program belajar tanpa batas ini, Lapas Kelas IIA Kalianda menegaskan perannya sebagai institusi pembinaan yang mengedepankan nilai kemanusiaan. Dengan mendorong warga binaan bebas buta huruf, lapas tidak hanya membina selama masa pidana, tetapi juga menyiapkan mereka menjadi individu yang lebih siap, mandiri, dan berdaya guna di tengah masyarakat.***







