PANTAU LAMPUNG- Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menekankan pentingnya Inspektorat sebagai benteng terakhir dalam mencegah praktik korupsi di pemerintah daerah. Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Pembinaan dan Pengawasan Daerah Provinsi Lampung Tahun 2026 di Gedung Pusiban, Kantor Gubernur Lampung, Kamis (15/1/2026).
“Inspektorat adalah benteng terakhir sebelum persoalan pemerintahan menjadi masalah hukum,” ujar Jihan. Ia menekankan, pengawasan bukan hanya sekadar mencari kesalahan, tetapi mencegah penyimpangan sejak dini, memperbaiki kelemahan sistem, dan meningkatkan kinerja perangkat daerah.
Menurut Jihan, pengawasan yang kuat berdampak langsung pada kepercayaan publik. Oleh karena itu, seluruh Inspektur Kabupaten/Kota diminta memperkuat sinergi, kolaborasi, dan profesionalisme Aparatur Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). “Setiap indikasi penyimpangan harus ditindaklanjuti secara profesional, transparan, dan tanpa kompromi,” tegasnya.
Rakor ini juga menjadi momentum memperkuat budaya zero tolerance terhadap korupsi di Lampung. Jihan menegaskan, pengawasan keuangan daerah, pelaksanaan program pembangunan, dan pelayanan publik harus berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran.
Ketua Pelaksana Rakor menambahkan, kegiatan ini menjadi forum konsultasi perencanaan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Selain itu, Rakor digunakan untuk memutakhirkan data tindak lanjut rekomendasi pengawasan Inspektorat Provinsi Lampung terhadap 15 kabupaten/kota.
Hasil evaluasi menunjukkan 12 dari 15 kabupaten/kota di Lampung telah menuntaskan tindak lanjut rekomendasi pengawasan secara 100 persen. Tiga daerah lainnya masih dalam proses penyelesaian. Pemprov Lampung memberikan piagam penghargaan kepada daerah yang berhasil menyelesaikan seluruh rekomendasi.
Rakor Pembinaan dan Pengawasan Daerah Tahun 2026 dihadiri Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Lampung Agus Setiyawan, para inspektur kabupaten/kota se-Lampung, serta narasumber dari Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri. Kegiatan digelar secara luring dan daring sebagai agenda rutin tahunan.***







