PANTAU LAMPUNG— Tokoh peduli kebencanaan asal Lampung, Andi Arief, kembali memberikan peringatan serius kepada pemerintah daerah di Lampung Barat dan Tanggamus. Ia mengingatkan agar Bupati kedua kabupaten benar-benar mengikuti himbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kewaspadaan terhadap pembentukan bibit siklon tropis yang berpotensi memicu bencana alam.
“Lambar dan Tanggamus adalah kawasan hutan yang rawan bencana. Mitigasi harus disiapkan dengan matang. Bupati harus benar-benar mengikuti himbauan BMKG, supaya tidak terjadi hal serupa seperti yang terjadi di Sumbar, Sumut, dan Aceh,” ujar Andi Arief saat memberikan pernyataan resmi.
BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait Siklon Tropis Senyar, yang menjadi salah satu penyebab banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah Sumatera. Peringatan ini telah disampaikan delapan hari sebelum dampak bencana terjadi, menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah.
Menurut perkiraan BMKG, untuk periode minggu kedua Desember 2025 hingga awal Januari 2026, sejumlah fenomena atmosfer akan meningkatkan potensi curah hujan ekstrem di wilayah Indonesia. Fenomena tersebut antara lain:
Monsoon Asia yang mulai aktif, berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Anomali atmosfer seperti Madden Julian Oscillation, gelombang Kelvin, dan Rossby Equator yang memperkuat intensitas hujan.
Masuknya udara dingin dari Siberia yang turut memperkuat hujan lebat.
Potensi pertumbuhan bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia, yang perlu mendapat perhatian serius.
BMKG juga menyebutkan sejumlah daerah yang harus waspada terhadap pembentukan bibit siklon, antara lain: Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa – Bali, NTB, NTT, serta wilayah Maluku dan Papua Selatan hingga Tengah. Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat koordinasi antarinstansi, serta menyiapkan jalur evakuasi dan logistik bencana.
Andi Arief menekankan bahwa mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. “Sosialisasi kepada warga sangat penting. Semua pihak harus paham risiko yang ada, termasuk potensi banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Jangan sampai informasi BMKG diabaikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemantauan rutin terhadap kondisi cuaca dan wilayah rawan bencana. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan koordinasi dengan BMKG, potensi kerugian akibat bencana bisa diminimalkan. Andi menegaskan bahwa kesiapsiagaan yang baik akan menyelamatkan nyawa dan harta warga, terutama di kawasan hutan dan daerah aliran sungai yang rawan banjir dan longsor.
Peringatan ini sekaligus menjadi panggilan bagi pemerintah Lampung Barat dan Tanggamus untuk memperkuat langkah mitigasi, menyiapkan posko bencana, serta melakukan inspeksi kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan bencana sebelum musim hujan puncak tiba.
Dengan kombinasi kewaspadaan pemerintah dan kesadaran masyarakat, Andi Arief berharap dampak bibit siklon tropis dapat ditekan, sehingga Lampung tetap aman dan terhindar dari kerugian besar akibat bencana alam.***












