oleh

Zabidi Yakub Menangkan Sayembara Menulis Puisi Berbahasa Lampung DKL

BANDAR LAMPUNG, PL– Penyair Lampung Zabidi Yakub dengan puisinya, “Sampian” menjuarai penulisan puisi berbahasa Lampung dalam Sayembara Menulis Puisi Berbahasa Lampung dan Esai Sastra 2021 yang diselenggarakan Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL). Untuk itu Zabidi Yakub berhak atas hadiah berupa uang Rp3 juta dan buku antologi.
Sedangkan untuk esai sastra Yana Risdiana dari Bandung dengan judul esai “Pemertahanan Subjek Lirik di Tengah Kematian Bahasa: Membaca Puisi ‘Epigram Cinta’ Karya Ahmad Yulden Erwin” keluar sebagai juara satu. Karena itu ia berhak atas hadiah uang Rp3,5 juta dan buku antologi.


Dewan Juri Puisi Berbahasa Lampung yang terdiri dari Ketua Akademi Lampung Anshori Djausal, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung FKIP Universitas Lampung (Unila) Iqba l Hilal, dan dosen sastra FKIP Unila Yinda Dwi Gustiramenilai puisi “Sampian” karya Zabidi Yakub berhasil menghadirkan situasi psikis masyarakat melalui imaji sampian¸ yaitu tempat menjemur cucian pakai, menggantungkan barang atau sesuatu.


“Melalui Sampian, ia (Zabidi Yakub) ia berhasil menyindir kita untuk lebih konsisten menjalankan kehidupan sesuai dengan peran masing-masing agar tidak terjadi konflik kepentingan. Terbuat dari bahan apa pun, sampian tetap berfungsi sama untuk mengeringkan pakaian yang dicuci atau sekadar tempat menggantung barang atau sesuatu,” kata Anshori Djausal.


Dewan Juri Puisi Berbahasa Lampung juga menetapkan Yunita Fitri Yanti dari Bandar Lampung dengan judul puisi “Bupengatu di Bulan Bagha” sebagai juara kedua dan Djuhardi Basri dari Kotabumi, Lampung Utara dengan judul puisi “Lappung di Lem Wo Episode” juara ketiga. Lalu, juara harapan diraih Oky Sanjaya (Bandar Lampung) dengan judul puisi “Ruwahan”, Herry Albar Z (Pesisir Barat) dengan judul puisi “Sutekha Jadi Ampin”, dan Zainudin Hasan (Bandar Lampung) dengan judul “Ngiram”.
Untuk esai sastra, Dewan Juri yang terdiri dari sastrawan Iwan Nurdaya Djafar, dosen sastra Unila Kahfie Nazaruddin, dan sastrawan Ahmad Yulden Erwin menetapkan Aan Arizandy (Lampung Selatan) dengan judul esai “Bebacaan, Modernitas, dan Tradisi Diskursif: Merawat dan Meruwat Warisan Tradisi Lisan Lampung yang Terabaikan” juara kedua dan
Meurah Dani (Bandar Lampung) dengan judul esai “Peri Kecil di Sungai Nipah: Terorisme Negara Orde Baru dalam Sebuah Prosa” juara ketiga.
Sedangkan Solihin Utjok (Metro) dengan esai “Puisi dan Spiritualisme Penyair Lampung: Sebuah Analisis Subyektif”, Zabidi Yakub (Bandar Lampung) dengan esai “Merindu Negeri Ujung Pulau, Negeri Para Penyair”, dan Adi Setiawan (Metro) dengan “Menyetek Sastra dengan Sejarah Lampung” meraih juara harapan.


Selain pemenang, Dewan Juri memilih 44 nomine puisi berbahasa Lampung dan 19 nomine esai sastra. “Karya-karya pemenang dan nomine akan dibukukan dalam dua antologi, yaitu antologi puisi berbahasa Lampung dan antologi esai,” kata Ketua Komite Sastra DKL Udo Z Karzi.
Kepada pemenang dan nomine, kata Udo, akan diberi buku antologi yang saat ini sedang dalam proses editing. Selain buku antologi, juara 1 menulis esai sastra diberikan uang tunai Rp3,500 juta, juara 2 Rp2,5 juta, juara 3 Rp1,5 juta, dan tiga juara masing-masing Rp300 ribu. Untuk pemenang menulis puisi berbahasa Lampung juara 1 uang Rp3 juta, juara 2 Rp2 juta, juara 3 Rp 1 juta, dan tiga juara harapan masing-masing Rp250 ribu.

Ma
Udo menjelaskan, kedua antologi yang diterbitkan akan diluncurkan dan dibedah bulan September 2021 yang waktu dan teknisnya akan ditentukan kemudian. “Untuk para pemenang dan nomine dimohon untuk melengkapi biografi yang ditulis naratif (bukan: biodata). Khusus para pemenang dimohon untuk mengirimkan nomor rekening bank ke panitia.”

Berikut daftar lengkap pemenang dan nomine Sayembara Menulis Puisi Berbahasa Lampung dan Esai Sastra:

PUISI BERBAHASA LAMPUNG

Juara 1
Zabidi Yakub (Bandar Lampung) dengan judul puisi: “Sampian”

Juara 2
Yunita Fitri Yanti (Bandar Lampung) dengan judul puisi “Bupengatu di Bulan Bagha”

Juara 3
Djuhardi Basri (Kotabumi, Lampung Utara) dengan judul puisi “Lappung di Lem Wo Episode”

Juara Harapan
Oky Sanjaya (Bandar Lampung) dengan judul puisi “Ruwahan”
Herry Albar Z (Pesisir Barat) dengan judul puisi “Sutekha Jadi Ampin”
Zainudin Hasan (Bandar Lampung) dengan judul “Ngiram”

44 nomine (alfabetis)
Aan Arizandy (Kalianda, Lampung Selatan) – Korona Toa Khik Nyawa
Aan Utara (Kotabumi, Lampung Utara) – Taduk
Ade Siska (Bandar Lampung) – Debingi di Lorong
Adi Setiawan (Metro) – Kesatriya Anjak Teluk Semaka
Adisti Zakia Putri (Lampung Selatan) – Getta Ya Lebon
Ahmadi Pahlewi (Liwa, Lampung Barat) – Liwa, Tanoh sai Nyegok Gumah Cerita
Ahmad Matin Fauzi (Bandar Lampung) – Selamat Khatong Subu
Ahmad Risdi (Way Kanan) – Semu
Andriansyah (Pesawaran) – Nyambai
Andi Deswandi (Tanggamus) – Waktu Khik Halinu
Ariani Rosa Lesmana (Liwa, Lampung Barat) – Lehot-Mu
Arif Sufyan (Lampung Tengah) – Kubeu Pering
Badar Rohim (Pesawaran) – Bahasa Lampung Sa
Bahrun Saputra (Lampung Tengah) – Lamunan Direi Durjano Tuho
Diandra Natakembahang (Bandar Lampung) – Kahut Mamak Inut
Edi Purwanto (Bandar Lampung) – Way Malaya
Elly Dharmawanti (Krui, Pesisir Barat) – Bulipang Neram Kundang
Faris Al Faisal (Indramayu, Jawa Barat) – Sajak Way Kisahmo
Fathurrohman (Bandar Lampung) – Dilom Dekopan Piil Pesenggikhi
Fauzie PS (Bandar Lampung) – Ngegambagh Jampal
Gusti Prida Gumala (Bandar Lampung) – Halinuna Mekhidu Nakhi di Tundunmu
Hazizi (Bandar Lampung) – Tundun Alu
Hendriyadi (Tanggamus) – Bakas Semanda
Ilham Nawari (Kalianda, Lampung Selatan) – Biyakni Badan
Iskandar Muharam (Bandar Lampung) – Tiram
Isokuyoiki (Metro) – Pantun Pilu Sanak Kikim
Kemala Raja (Liwa, Lampung Barat) – Pujama di Kuta Batu
Laila Mayasari (Way Kanan) – Telu Bebai Hibatku
Lain Kehaga (Tanggamus) – Wasiat Tamong
Melisa (Lampung Barat) – Handphone lawan Pemuda
M Wiratama Albarizi (Way Kanan) – Wangga Cukhup Kekhita
Muhammad Fasya Wiranata (Pesawaran) – Ajoya Lampungku
Nur Choironi (Bandar Lampung) – Corona
Nurmida (Tanggamus) – Kahutku
Nurzain (Kotabatu, Sumatera Selatan) – Kulhu Idul Fitri
Puspakirti (Lampung Barat) – Batu Kebayan
Putra Niti Galih Prakoso (Liwa, Lampung Barat) – Tighamku jama Niku
Semacca Andanant (Tangerang) – Rekut Manuk
Sinta Bela (Kotabumi, Lampung Utara) – Vighus Corona
The Pat Zura (Lampung Barat) – Nyak Dibingi Alengka
Titin Ulpianti (Lampung Barat) – Sketsa Ingokan
Tuah Subing (Lampung Tengah) – Ngehabo Sayan
Yosep Arizandi (Kotabumi, Lampung Barat) – Ngiram, Ino Ho Tano Muwak Lagei
Wahyu Hidayat (Lampung Utara) – Balik

ESAI SASTRA
Juara 1

Yana Risdiana (Bandung) – Pemertahanan Subjek Lirik di Tengah Kematian Bahasa: Membaca Puisi “Epigram Cinta” Karya Ahmad Yulden Erwin

Juara 2
Aan Arizandy (Lampung Selatan) – Bebacaan, Modernitas, dan Tradisi Diskursif: Merawat dan Meruwat Warisan Tradisi Lisan Lampung Yang Terabaikan

Juara 3
Meurah Dani (Bandar Lampung) – Peri Kecil di Sungai Nipah: Terorisme Negara Orde Baru dalam Sebuah Prosa

Juara Harapan
Solihin (Metro) – Puisi dan Spiritualisme Penyair Lampung: Sebuah Analisis Subyektif
Zabidi Yakub (Bandar Lampung) – Merindu Negeri Ujung Pulau, Negeri Para Penyair
Adi Setiawan (Metro) – Menyetek Sastra dengan Sejarah Lampung

19 Nomine (alfabetis)
Akhmad Idris (Surabaya) – Gaya Bahasa Arman AZ dalam Berkisah: Sindiran sebagai Wujud Kepedulian
Alexander Robert Nainggolan (Tangerang) – Indonesia Mini dalam Puisi
Bambang Widiatmoko (Bekasi) – Jalur Sastra Lampung
Efrial Ruliandi Silalahi (Jakarta Timur) – Mencari Kesusastraan Ke-Lampung-an
Eko Prasetyo (Way Kanan) – Romantisme Kosmik Lampung
Eko Sugiarto (Yogyakarta) -Memaknai Hakikat Pulang Kampung Lewat Cerpen “Mudik” karya Isbedy Stiawan ZS
Eli Purwanti (Metro) – Nyambuk Temui Makai Paradinei
Endri Y. (Bandar Lampung) – Kanon Sastra Lampung: Sosiologi Sastra atas Novel ‘Negarabatin’ dan Puisi ‘MDMD’ Karya Udo Z Karzi
Fajar Mesaz (Mesuji) – Udo Z Karzi dan Seribu Jalan Sastra Berbahasa Lampung
Febrie Hastiyanto (Tegal) – Strategi Diseminasi Sastra Bahasa Lampung
Hening Nugroho (Yogyakarta) – Sastra Pepaccur dalam Bingkai Keanekaragaman Indonesia
Ismi Ramadhoni (Way Kanan) – Perjalanan Sunyi Udo Z. Karzi
Kurnia Effendi (Jakarta Timur) – Sastra Lampung dan Sebentang Harapan
Mujiatun (Way Kanan) – Melestarikan Karya Sastra Daerah Lampung Melalui Literasi Digital
Nicolaus Heru Andrianto (Lampung Selatan) – Sentuhan Sastra bagi Dunia Pendidikan di Bumi Ruwa Jurai
Nur Fatimah (Lampung Selatan) – Peran Pemuda dalam Mempertahankan Budaya Lampung
Rendi Deswantoni (Pesawaran) – Di Kedo Biduk Teminding, Di San Wai Tenimbo
T.A. Kumbono (Bandar Lampung) – Semakin Lampung Semakin Indonesia
Zainudin Hasan (Bandar Lampung) – Media Sosial sebagai Sarana Pelestarian Sastra Pisaan