Bedah Buku di Novotel Lampung, NasDem Bahas Restorasi dan Nasionalisme Inklusif
PANTAU LAMPUNG- Partai NasDem menggelar kegiatan bedah buku “Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme” di Ballroom Hotel Novotel Lampung, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk menelusuri gagasan, nilai kepemimpinan, dan perjalanan pengabdian Surya Paloh dalam organisasi, pers, usaha, serta politik kebangsaan.
Acara tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem Hermawi Franziskus Taslim, Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Lampung Herman HN, Rahmawati Herdian, Ketua DPD Partai NasDem Kota Bandar Lampung Naldi Rinara, serta mahasiswa, tokoh adat, pengurus Partai NasDem, dan sejumlah unsur partai lainnya.
Bedah buku menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Elman Saragih, jurnalis senior; Iskandar, penulis buku; Arizka Warganegara, akademisi sekaligus Guru Besar FISIP Universitas Lampung (Unila); serta Abdul Gafur, Pemimpin Redaksi Lampung Post. Diskusi dipandu Dedy Ramanta, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem.
Bukan Sekadar Biografi, Suryapalohisme Ditawarkan sebagai Kerangka Nilai
Buku karya Iskandar, S.T., Ketua DPW Partai NasDem Sumatera Utara, disusun sebagai upaya mendokumentasikan pemikiran, nilai, kepemimpinan, dan perjalanan pengabdian Surya Paloh. Penulis mengangkat pengalaman empirisnya selama lebih dari 15 tahun sebagai kader, murid, sahabat perjuangan, sekaligus orang yang mendampingi Surya Paloh dalam berbagai aktivitas politik dan kebangsaan.
Melalui pengalaman tersebut, Iskandar berupaya merekam konsistensi antara pikiran, ucapan, dan tindakan Surya Paloh. Catatan itu kemudian dirangkum menjadi dokumentasi pemikiran yang diharapkan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Menurut gagasan yang ditawarkan dalam buku tersebut, Suryapalohisme bukanlah ideologi baru ataupun pengganti ideologi kebangsaan Indonesia. Istilah itu dimaksudkan sebagai kerangka nilai yang merefleksikan pemikiran dan perjalanan pengabdian Surya Paloh.
Konsep tersebut bertumpu pada empat pilar utama, yakni restorasi nilai, nasionalisme inklusif, integritas moral, dan idealisme yang berkeadilan.
Keempat pilar itu menjadi landasan untuk membicarakan bagaimana gagasan kebangsaan diterjemahkan ke dalam sikap, kepemimpinan, dan tindakan nyata. Dengan demikian, buku ini tidak semata-mata menempatkan Surya Paloh sebagai figur politik, tetapi juga mengangkat nilai-nilai yang menurut penulis tercermin dalam perjalanan pengabdiannya.
Ruang Diskusi dan Ujian Intelektual
Kehadiran akademisi, jurnalis, mahasiswa, tokoh adat, dan pengurus partai dalam kegiatan tersebut membuka ruang bagi pembahasan gagasan dari berbagai sudut pandang. Bedah buku ini tidak hanya menjadi momentum untuk memperkenalkan karya Iskandar, tetapi juga kesempatan untuk mendiskusikan relevansi nilai-nilai kepemimpinan dan kebangsaan dalam kehidupan politik Indonesia.
Penulis sendiri mengakui bahwa konsep Suryapalohisme yang ditawarkan masih terbuka untuk dikaji, dikritisi, dan disempurnakan melalui diskusi intelektual. Sikap tersebut menempatkan gagasan dalam buku ini sebagai bahan pemikiran yang dapat diuji melalui argumentasi, bukan sekadar diterima tanpa pertanyaan.
Pada akhirnya, “Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme” menjadi refleksi seorang kader terhadap figur yang dianggap sebagai guru dan sumber inspirasi. Lebih dari itu, buku ini merupakan upaya merumuskan nilai kepemimpinan, restorasi, dan kebangsaan agar dapat diwariskan serta dipelajari oleh generasi selanjutnya.***
