Indonesia Ambruk atau Justru Sedang Bangkit?
PANTAU LAMPUNG- Di tengah maraknya isu bahwa ekonomi Indonesia akan ambruk, data resmi justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Pemerintah masih mencatat investasi besar, sementara berbagai kebocoran ekonomi dan aktivitas ilegal kini menjadi sasaran penertiban.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa persoalan Indonesia bukan kekurangan kekayaan, melainkan bagaimana kekayaan tersebut dikelola dan kebocoran dihentikan.
“Kita harus berani mengatakan apa adanya. Kita harus perbaiki lembaga-lembaga pemerintah kita.”
Prabowo juga menyoroti praktik under-invoicing,
transfer pricing, pemalsuan laporan perdagangan hingga penyelundupan yang menurut pemerintah menyebabkan kekayaan nasional mengalir keluar secara signifikan.
“Jangan ragu-ragu. Kita berada di jalan yang benar.”
Data Kementerian Investasi/BKPM mencatat realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun dan menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja. Sementara pada semester I 2026, investasi mencapai Rp1.010,6 triliun dengan penyerapan hampir **1,45 juta tenaga kerja.
Angka tersebut menunjukkan bahwa narasi seluruh investor meninggalkan Indonesia perlu diuji dengan data.
Di sektor pertambangan, pemerintah juga melakukan penertiban. Sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitungdisebut telah ditutup. PT Timah kemudian mencatat laba bersih sekitar Rp2,71 triliun pada semester I 2026, meningkat lebih dari sembilan kali dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, peningkatan kinerja tersebut tetap perlu dilihat bersama faktor produksi, harga komoditas, penjualan dan efisiensi perusahaan.
Prabowo menegaskan bahwa kekayaan alam Indonesia harus memberikan manfaat bagi rakyat.
“Negara kita besar, negara kita luas, dan negara kita sangat, sangat,
sangat kaya.”
Karena itu, agenda pemerintah kini tidak hanya mengejar investasi baru, tetapi juga membenahi tata kelola, memberantas penyelundupan, menertibkan tambang ilegal dan memperbaiki pengelolaan aset negara.
Prabowo mengakui pekerjaan tersebut tidak mudah.
“Ini tidak ringan. Saya mengerti ini tidak ringan. Tapi, apa boleh buat, apapun harus kita kerjakan untuk supaya negara kita selamat.”
Pada akhirnya, masyarakat tidak cukup hanya diberi narasi bahwa Indonesia sedang bangkit. Pemerintah juga harus terus membuktikannya melalui lapangan kerja, harga yang terjangkau, pelayanan publik, penerimaan negara dan manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan rakyat.
Begitu pula isu bahwa Indonesia akan ambruk harus diuji dengan data, bukan sekadar viral di ruang publik.
Sebab ukuran sebenarnya bukan siapa yang paling keras berbicara, tetapi apakah kekayaan Indonesia yang besar benar-benar berhasil dikelola dan kembali untuk kesejahteraan rakyat
