• Redaksi
  • Tentang Kami
Senin, Mei 25, 2026
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Opini
  • Pendidikan
  • Hiburan
Home Berita

Bangsa Religius tapi Sulit Jujur? Kritik Lama Mochtar Lubis Kembali Relevan

MeldaEditorMelda
Mei 25, 2026
A A
Bangsa Religius tapi Sulit Jujur? Kritik Lama Mochtar Lubis Kembali Relevan
ADVERTISEMENT

Oleh: Kiagus Bambang Utoyo

PANTAU LAMPUNG- Indonesia mungkin menjadi salah satu negara yang paling rajin berbicara soal moral. Mulai dari ceramah agama, seminar integritas, pidato pejabat, hingga unggahan media sosial, hampir setiap hari masyarakat dijejali nasihat tentang kejujuran, amanah, dan etika.

Namun ironinya, semakin sering moral dibicarakan, semakin sulit pula menemukan praktik kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena inilah yang pernah dikritik tajam oleh sastrawan dan jurnalis legendaris Indonesia, Mochtar Lubis, melalui ceramah terkenalnya berjudul Manusia Indonesia pada 1977.

BeritaTerkait

Panitia Pesta Babi Klaim Ada Ketakutan ASN terhadap Ruang Diskusi Publik

Ketika Sastra Menghantam, Tafsir Keras Puisi Alfariezie

Dalam pandangannya, salah satu watak paling menonjol manusia Indonesia adalah hipokrisi atau kemunafikan sosial. Sederhananya: lain di depan, lain di belakang.

Kritik tersebut terasa tetap relevan hingga hari ini.

ADVERTISEMENT

Di ruang publik, bangsa ini begitu gemar membicarakan integritas. Tetapi dalam praktiknya, budaya menyenangkan atasan, menjaga citra, dan menghindari konflik sering kali lebih dominan dibanding keberanian menyampaikan kebenaran.

Fenomena itu terlihat mulai dari birokrasi, politik, hingga kehidupan sosial sehari-hari.

Budaya “asal bapak senang” masih hidup dalam berbagai bentuk modern. Bedanya, jika dulu feodalisme hadir lewat singgasana dan kekuasaan kerajaan, kini ia hadir melalui ruang rapat, grup WhatsApp kantor, hingga presentasi formal dengan istilah-istilah seperti “sinergi”, “optimalisasi”, dan “penguatan”.

Akibatnya, banyak orang lebih sibuk menjaga suasana tetap nyaman dibanding menyampaikan realitas yang sebenarnya.

Kritik dianggap mengganggu harmoni. Kejujuran dinilai terlalu kasar. Sementara kemampuan menjaga citra justru dipuji sebagai kedewasaan sosial.

Dalam konteks modern, kondisi tersebut melahirkan apa yang kini dikenal sebagai performative morality atau moralitas pertunjukan.

Kejujuran menjadi slogan. Integritas berubah menjadi dekorasi seminar. Kesederhanaan dijadikan konten media sosial.

Yang penting terlihat baik di depan publik, meskipun praktik di belakang layar belum tentu sejalan.

Ironisnya, masyarakat sering kali menyadari kepalsuan itu, tetapi tetap ikut memainkan perannya demi bertahan hidup dalam sistem sosial yang sudah terbentuk lama.

Di depan memuji, di belakang mengeluh.

Di ruang rapat semua tampak sepakat, tetapi setelah rapat selesai, kritik baru muncul di warung kopi atau obrolan pribadi.

Menurut tulisan Kiagus Bambang Utoyo, kondisi tersebut tidak sepenuhnya lahir karena masyarakat Indonesia buruk secara moral. Sebagian berasal dari budaya yang menjunjung harmoni sosial dan menghindari konflik terbuka.

Namun masalah muncul ketika budaya sopan santun berubah menjadi budaya menutup-nutupi.

Ketika kesopanan dipakai untuk melindungi kepalsuan, maka kejujuran perlahan dianggap ancaman.

Akibatnya, orang yang terlalu jujur justru sering dicap tidak etis, tidak memahami budaya, atau dianggap belum matang secara sosial.

Padahal, bangsa tidak akan benar-benar maju jika kejujuran terus dikalahkan oleh kepentingan menjaga citra.

Tulisan ini mengingatkan bahwa persoalan terbesar Indonesia mungkin bukan karena terlalu banyak orang jahat, melainkan terlalu banyak orang baik yang terlalu lama belajar berpura-pura demi bertahan hidup.

Karena ketika kepalsuan dilakukan sendirian, ia disebut dusta.

Namun ketika dipraktikkan bersama-sama dalam waktu lama, ia perlahan berubah menjadi budaya sosial yang dianggap normal.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: Budaya Asal Bapak SenangBudaya FeodalismeHipokrisi SosialIntegritasKiagus Bambang UtoyoKritik SosialManusia IndonesiaMochtar LubisMoralitas IndonesiaOpini Indonesia
ShareTweetSendShare
Previous Post

LSM PRO RAKYAT Desak Kejagung Usut Dugaan Korupsi Proyek Mangkrak di Lampung Timur

Next Post

Capacity Building SPIP-T Dibuka, Pemprov Lampung Fokus Cegah Risiko dan Korupsi

Related Posts

Lampung Genjot ETPD dan Digitalisasi, Mirza Ingin Pelayanan Publik Anti Ribet
Bandar Lampung

Lampung Genjot ETPD dan Digitalisasi, Mirza Ingin Pelayanan Publik Anti Ribet

Mei 25, 2026
Bandar Lampung

Capacity Building SPIP-T Dibuka, Pemprov Lampung Fokus Cegah Risiko dan Korupsi

Mei 25, 2026
LSM PRO RAKYAT Desak Kejagung Usut Dugaan Korupsi Proyek Mangkrak di Lampung Timur
Berita

LSM PRO RAKYAT Desak Kejagung Usut Dugaan Korupsi Proyek Mangkrak di Lampung Timur

Mei 25, 2026
Sertijab Kapolsek Digelar, Kapolres Lamsel Ingatkan Pentingnya Jaga Kepercayaan Publik
Berita

Sertijab Kapolsek Digelar, Kapolres Lamsel Ingatkan Pentingnya Jaga Kepercayaan Publik

Mei 25, 2026
IDS Sumatra 2026 Jadi Panggung Kebangkitan Atlet Drift Perempuan Indonesia
Berita

IDS Sumatra 2026 Jadi Panggung Kebangkitan Atlet Drift Perempuan Indonesia

Mei 25, 2026
Egi Pratama Sulap Lampung Selatan Jadi Magnet Baru Industri Drift Nasional
Berita

Egi Pratama Sulap Lampung Selatan Jadi Magnet Baru Industri Drift Nasional

Mei 25, 2026
Next Post

Capacity Building SPIP-T Dibuka, Pemprov Lampung Fokus Cegah Risiko dan Korupsi

Lampung Genjot ETPD dan Digitalisasi, Mirza Ingin Pelayanan Publik Anti Ribet

Lampung Genjot ETPD dan Digitalisasi, Mirza Ingin Pelayanan Publik Anti Ribet

banner 300250

Berita Terkini

  • Lampung Genjot ETPD dan Digitalisasi, Mirza Ingin Pelayanan Publik Anti Ribet
  • Capacity Building SPIP-T Dibuka, Pemprov Lampung Fokus Cegah Risiko dan Korupsi
  • Bangsa Religius tapi Sulit Jujur? Kritik Lama Mochtar Lubis Kembali Relevan
  • LSM PRO RAKYAT Desak Kejagung Usut Dugaan Korupsi Proyek Mangkrak di Lampung Timur
  • Sertijab Kapolsek Digelar, Kapolres Lamsel Ingatkan Pentingnya Jaga Kepercayaan Publik
Pantau Lampung

Selamat datang di Pantau Lampung, portal berita yang mengabarkan secara cermat dan tepat tentang berbagai peristiwa dan perkembangan terkini di Provinsi Lampung. Kami hadir untuk menjadi sumber informasi terpercaya bagi masyarakat Lampung dan pembaca di seluruh Indonesia.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In