PANTAU LAMPUNG — Pemerintah terus mendorong percepatan swasembada gula nasional melalui program hilirisasi tebu. Salah satu langkah konkret ditunjukkan melalui kegiatan tanam serentak Program RPATA Hilirisasi Tebu tahun 2025 yang digelar di Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Tulangbawang Barat, Sabtu (28/3/2026).
Di Lampung Utara, kegiatan dipusatkan di kebun petani plasma PG Bunga Mayang, Kecamatan Sungkai Utara. Sementara di Tulangbawang Barat, tanam serentak berlangsung di Kecamatan Tulangbawang Udik.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Brigjen TNI Arif Hendro Jatmiko selaku Koordinator Satgas Swasembada Pangan wilayah Sumatera dari Mabes TNI AD, Kepala BBPPTP Medan Kus Haryanto, Wakil Bupati Lampung Utara Romli, serta pihak terkait lainnya.
Wakil Bupati Lampung Utara Romli menyampaikan kebanggaannya atas tingginya antusiasme masyarakat dalam mendukung program swasembada tebu. Ia menyebut Lampung Utara menjadi salah satu daerah dengan luasan tanam terbesar di Provinsi Lampung dalam program tersebut.
“Ini terbukti dari besarnya antusias warga menyambut program ini,” ujarnya.
Sementara itu, Brigjen TNI Arif Hendro Jatmiko menegaskan bahwa keberhasilan program tidak berhenti pada tahap penanaman saja. Ia meminta seluruh pihak, mulai dari dinas terkait, asosiasi petani, hingga pihak pabrik gula, untuk terus melakukan pendampingan agar tanaman tebu dapat tumbuh optimal dan menghasilkan produksi maksimal.
“Kami berharap apa yang ditanam hari ini dapat terpelihara dengan baik sehingga target swasembada gula mulai 2026 bisa tercapai,” katanya.
Secara teknis, Kepala BBPPTP Medan Kus Haryanto menjelaskan bahwa realisasi penanaman tebu rakyat di Lampung Utara hingga akhir Maret 2026 telah mencapai target seluas 3.061,85 hektare. Sementara di Tulangbawang Barat mencapai 512 hektare.
Program hilirisasi tebu sendiri mencakup dua kegiatan utama, yakni bongkar ratoon dan perluasan areal tanam. Bongkar ratoon dilakukan pada lahan tebu lama yang produktivitasnya menurun dan sudah tidak ekonomis, sementara perluasan dilakukan pada lahan baru dengan menggunakan benih unggul bersertifikat.
Dalam program ini, pemerintah memberikan bantuan berupa benih tebu siap tanam sebanyak 60.000 mata per hektare serta dukungan biaya tenaga kerja sebesar Rp3,6 juta per hektare. Bantuan tersebut disalurkan langsung ke rekening kelompok tani.
Lebih lanjut, Kus Haryanto menyebutkan bahwa pada tahun 2025, Provinsi Lampung mendapatkan kuota pengembangan tebu seluas 11 ribu hektare yang tersebar di beberapa kabupaten. Untuk tahun berikutnya, ditargetkan ada penambahan hingga 13 ribu hektare, termasuk perluasan ke Kabupaten Lampung Timur dan Mesuji.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi gula nasional, tetapi juga memperkuat ekonomi petani dan mendorong pertumbuhan sektor perkebunan di daerah.***








