• Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, Mei 10, 2026
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Pantau Lampung
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Opini
  • Pendidikan
  • Hiburan
Home Ruwa Jurai Bandar Lampung

Relawan di Dapur dan Angka di Layar: Ironi Program Pendidikan dan Gizi

MeldaEditorMelda
Feb 6, 2026
A A
Relawan di Dapur dan Angka di Layar: Ironi Program Pendidikan dan Gizi
ADVERTISEMENT

PANTAU LAMPUNG- Setiap zaman selalu punya proyek kebanggaannya. Yang dulu dinamai bendungan, jalan raya, pabrik baja—proyek yang membangkitkan rasa nasionalisme, poster, dan peringatan di setiap sudut kota. Kini, proyek kebanggaan hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, lebih intim, namun sama pentingnya: sepiring nasi, sepotong telur, segelas susu.

Proyek itu diberi nama yang nyaris tak mungkin ditolak: Makan Bergizi Gratis. Sebuah inisiatif yang terdengar seperti doa lirih di dapur pada pagi hari. Seperti niat baik yang tak perlu dipertanyakan. Negara berdiri di atas mimbar, menyebut anak-anak, gizi, masa depan. Kata stunting diucapkan dengan nada perang. Anggaran disebut dengan angka yang membuat kepala menoleh, triliunan rupiah mengalir, rapi di tabel, deras dalam pidato.

Di atas kertas, semuanya tampak seperti langkah peradaban. Di layar presentasi, masa depan terlihat bersih, terang, dan penuh optimisme. Angka-angka tumbuh rapi, diagram berwarna, semua menandakan perencanaan matang dan niat mulia. Namun sejarah—yang ingatannya panjang dan tak mudah dibohongi—selalu mengajarkan satu hal: setiap proyek besar adalah panggung. Dan setiap panggung, betapapun megahnya, selalu menyembunyikan aktor-aktor yang tak disebut namanya.

BeritaTerkait

Sebuah Narasi Yang di Susun Oleh Panji Padang Ratu, S.H

Program MBG Disorot, Transparansi Anggaran BGN Dipertanyakan

Bukan hanya negara yang berdiri di sana. Ada pengusaha yang pandai membaca peluang lebih cepat dari teks pidato. Ada kontraktor, distributor, penyedia logistik, katering, dapur industri. Ada modal yang bergerak senyap, seperti angin laut yang dulu membawa kapal dagang ke pelabuhan Nusantara. Di mana anggaran besar dibuka, pasar tidak pernah terlambat datang.

Beras berhenti menjadi makanan. Ia berubah menjadi kontrak. Telur tak lagi lauk, melainkan angka tender. Dapur tak lagi tungku, tapi proyek. Di ruang-ruang berpendingin udara, kesepakatan dirumuskan dengan suara rendah. Angka-angka bergerak halus, persentase disepakati tanpa perlu diucapkan keras-keras. Semua tampak sah, legal, tercatat. Keuntungan dihitung cepat, panen datang tanpa lumpur, laporan rapi tanpa noda.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, di dunia lain—yang jaraknya hanya beberapa kilometer, kadang hanya satu dinding tipis—api sudah menyala dari malam. Di sanalah dapur bekerja. Perempuan dan lelaki yang disebut relawan mulai bergerak di bawah batas malam. Beras ditanak dalam kuali besar, sayur diiris sampai bau bawang melekat di tangan. Air mendidih, uap naik, aroma masakan berbaur dengan keringat yang menempel di rambut dan pakaian.

Waktu berjalan lambat di dapur. Jam tujuh pagi terasa panjang. Jam sembilan terasa lebih panjang lagi. Panci dicuci, galon diangkat, ratusan porsi dibagikan tanpa jeda. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada laporan kinerja. Upah datang belakangan—jika datang. Kadang disebut uang transport. Kadang uang lelah. Kadang jumlahnya tak lebih besar dari harga lauk yang mereka masak.

Tetapi mereka jarang disebut pekerja. Mereka disebut relawan. Kata itu terdengar mulia, bersih, seolah cukup untuk menggantikan kontrak kerja, jaminan kesehatan, perlindungan hukum. Dalam satu kata itu, kewajiban negara menguap pelan-pelan. Jika lelah, itu pengabdian. Jika mengeluh, itu kurang ikhlas. Padahal pekerjaan mereka nyata, rutin, terjadwal. Dalam bahasa ekonomi, mereka adalah tenaga produksi. Hanya namanya diganti agar terdengar lebih suci.

Beginilah bahasa bekerja: ia tidak selalu berbohong, tapi sering menyamarkan. Di negeri yang gemar berbicara tentang keadilan sosial, ironi itu tumbuh diam-diam. Yang satu mengaduk kuah sejak subuh. Yang lain mengaduk proposal dan angka. Yang satu pulang dengan bau asap di baju, yang lain pulang dengan laporan laba. Yang satu hidup seperti musim tanam—panjang, sabar, penuh peluh. Yang lain menikmati musim panen—cepat, bersih, tanpa lumpur.

Dan tetap harus dikatakan jujur: program ini membawa harapan. Anak-anak makan. Perut kenyang. Gizi membaik. Sekolah terasa lebih terang. Niat baiknya nyata dan tak layak dihapus begitu saja. Namun niat baik tanpa tata kelola yang jernih selalu berisiko berubah menjadi ladang rente. Anggaran besar tanpa pengawasan mudah bocor, seperti atap rumbia di musim hujan.

Transparansi bukan ancaman, melainkan penjaga. Akuntabilitas bukan penghambat, melainkan pengaman. Jika tidak, sejarah akan mencatatnya dengan nada datar tapi dingin: bahwa atas nama memberi makan rakyat kecil, justru rakyat kecil yang paling banyak membayar harganya.

Rahasia terbesar program sebesar ini bukan konspirasi gelap atau drama kekuasaan. Rahasia itu terlalu manusiawi, bahkan nyaris biasa. Bahwa di balik setiap kebijakan besar, selalu ada dua dunia yang berjalan berdampingan tapi jarang saling menyapa: dunia pidato dan dunia dapur.

Peradaban yang sungguh-sungguh besar tidak diukur dari berapa juta porsi dibagikan, melainkan dari satu pertanyaan tua yang tak pernah kehilangan maknanya: apakah mereka yang menyalakan api itu sudah diperlakukan dengan adil?***

Source: ALFARIEZIE
Tags: AkuntabilitasKeadilan SosialKebijakan Publikpangan anakProgram Makan Bergizi Gratisrelawan dapurTransparansi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Successful Casino Heists Game Action

Next Post

Bitdreams Casino Login Process Explained

Related Posts

Penyair Muda Indonesia Angkat Kemarahan Sosial Lewat Puisi Satire Politik
Bandar Lampung

Penyair Muda Indonesia Angkat Kemarahan Sosial Lewat Puisi Satire Politik

Mei 10, 2026
Tangis Iringi Pemakaman Kedinasan Bripka Anumerta Arya Supena
Bandar Lampung

Tangis Iringi Pemakaman Kedinasan Bripka Anumerta Arya Supena

Mei 10, 2026
Humor Kasar dan Kritik Sosial Melebur dalam Puisi Karya Muhammad Alfariezie
Bandar Lampung

Humor Kasar dan Kritik Sosial Melebur dalam Puisi Karya Muhammad Alfariezie

Mei 10, 2026
Modus Pinjam Lalu Gadai Kendaraan, Bonyok Berakhir di Tangan Polisi
Berita

Modus Pinjam Lalu Gadai Kendaraan, Bonyok Berakhir di Tangan Polisi

Mei 10, 2026
BBWS: Penanganan Banjir Bandar Lampung Tak Bisa Parsial
Bandar Lampung

BBWS: Penanganan Banjir Bandar Lampung Tak Bisa Parsial

Mei 10, 2026
Ruby Chairani Apresiasi Kinerja Bulog Lampung Selatan Jaga Stabilitas Pangan
Berita

Ruby Chairani Apresiasi Kinerja Bulog Lampung Selatan Jaga Stabilitas Pangan

Mei 10, 2026
Next Post

Bitdreams Casino Login Process Explained

Free Casino Bonus Tips and Tricks

Elegant Spins Casino Login Fast Access

Cashmio Casino Canada Review and Features

Stream Casino Royale Free Now

banner 300250

Berita Terkini

  • Penyair Muda Indonesia Angkat Kemarahan Sosial Lewat Puisi Satire Politik
  • Tangis Iringi Pemakaman Kedinasan Bripka Anumerta Arya Supena
  • Humor Kasar dan Kritik Sosial Melebur dalam Puisi Karya Muhammad Alfariezie
  • Modus Pinjam Lalu Gadai Kendaraan, Bonyok Berakhir di Tangan Polisi
  • BBWS: Penanganan Banjir Bandar Lampung Tak Bisa Parsial
Pantau Lampung

Selamat datang di Pantau Lampung, portal berita yang mengabarkan secara cermat dan tepat tentang berbagai peristiwa dan perkembangan terkini di Provinsi Lampung. Kami hadir untuk menjadi sumber informasi terpercaya bagi masyarakat Lampung dan pembaca di seluruh Indonesia.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pojok Lampung
  • Politik
  • Peristiwa
  • Ruwa Jurai
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Pesisir Barat
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Lifestyle
    • Entertainment
    • Hiburan
    • Fashion
  • Network
  • Indeks
  • ePAPER

© 2024 Pantaulampung.com - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In