PANTAU LAMPUNG- Empat pendiri media lokal asal Lampung mencuri perhatian dalam forum nasional yang mempertemukan pimpinan media dari berbagai perusahaan pers besar di Indonesia. Dalam forum bertema pembangunan hak asasi manusia (HAM) tersebut, para pendiri media daerah itu duduk sejajar dengan tokoh pers dari grup media nasional seperti Kompas Gramedia, Tempo Media Group, Detik Network, hingga Media Group.
Empat pendiri media Lampung yang hadir dalam forum nasional tersebut adalah M. Arief Mulyadin (Inside Politik), Muhammad Alfariezie (Lampung Insider), Tino Sujadi (Sai Betik), dan Sabam Sinaga (Pantau Lampung). Keempatnya tergabung dalam Djadin Media Grup yang dipimpin oleh M. Arief Mulyadin.
Forum Nasional Media dan Pembangunan HAM
Kehadiran para pendiri media Lampung tersebut terjadi dalam forum nasional bertajuk Kick Off Program Media Profesional dan Pembangunan HAM yang digelar di Hotel Sahid pada Rabu (11/3/2026).
Acara tersebut dibuka langsung oleh Natalius Pigai selaku Menteri HAM. Hadir pula sejumlah tokoh nasional, di antaranya Jimly Asshiddiqie yang merupakan Ketua Tim Reformasi Polri sekaligus pakar hukum tata negara, serta Nezar Patria sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Digital.
Dalam sambutannya, Natalius Pigai menegaskan bahwa media memiliki posisi strategis dalam membangun peradaban berbasis hak asasi manusia.
“Media adalah pilar penting pembangunan peradaban HAM. Tanpa keterlibatan pers, pesan pembangunan di bidang sipil, politik, ekonomi hingga budaya tidak akan tersampaikan secara efektif kepada publik,” ujar Pigai.
Program Pendidikan HAM untuk Jurnalis
Dalam forum tersebut, pemerintah juga mengumumkan rencana untuk meningkatkan kualitas jurnalisme nasional melalui program pendidikan HAM bagi para wartawan di seluruh Indonesia.
“Kami akan membuka kelas khusus HAM untuk seluruh jurnalis di Indonesia. Tujuannya agar pemberitaan tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki perspektif HAM yang kuat,” kata Pigai.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria. Menurutnya, jurnalis pada hakikatnya memiliki peran penting sebagai pengawas kekuasaan.
“Jurnalis sejatinya adalah human rights defenders atau pembela hak asasi manusia. Peran mereka dalam mengawasi kekuasaan dan menyuarakan pelanggaran hak warga negara merupakan bagian penting dari demokrasi,” ujarnya.
Media Lokal Lampung Jadi Sorotan
Di tengah forum nasional tersebut, kehadiran para pendiri media Lampung menjadi perhatian tersendiri. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa jurnalisme daerah mampu berkontribusi dalam percakapan strategis mengenai masa depan demokrasi dan HAM di Indonesia.
Pimpinan Djadin Media Grup, M. Arief Mulyadin, berharap program pembangunan HAM yang digagas pemerintah tidak berhenti di tingkat pusat, tetapi dapat menjangkau daerah secara luas.
“Kami berharap program HAM ini dapat menyentuh masyarakat hingga daerah, termasuk di Lampung. Media daerah siap menjadi bagian dari penguatan program-program HAM tersebut,” ujar Arief Mulyadin.
Media Daerah Mulai Ambil Peran Nasional
Momentum ini dinilai menjadi sinyal bahwa media lokal tidak lagi berada di pinggiran ekosistem pers nasional. Kehadiran media Lampung dalam forum nasional menunjukkan bahwa jurnalisme daerah semakin diperhitungkan dalam diskursus nasional mengenai demokrasi, hak asasi manusia, dan tata kelola pemerintahan.***






