PANTAU LAMPUNG- Industri budidaya udang Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar global, terutama dengan dukungan inovasi teknologi dan praktik budidaya berkelanjutan. Salah satu terobosan yang mulai dilirik adalah penggunaan pakan berbasis serangga sebagai sumber protein alternatif untuk meningkatkan ketahanan dan produktivitas udang.
Hal tersebut disampaikan Direktur PT Sakti Biru Indonesia, Suseno Reffandi, saat berbincang dengan media di Bandar Lampung, Rabu (11/3/2026). Ia menilai potensi budidaya udang nasional sangat besar karena didukung oleh iklim tropis, pengalaman petambak, serta kapasitas produksi yang terus berkembang.
Potensi Besar Akuakultur Indonesia
Menurut Suseno, Indonesia memiliki keunggulan geografis dan pengalaman panjang dalam sektor akuakultur, khususnya budidaya udang. Dalam kunjungan lapangan bersama tim internasional dari Hatch Blue ke sejumlah daerah tambak di Indonesia, potensi tersebut terlihat jelas.
“Indonesia punya potensi luar biasa. Dari Lombok hingga Lampung, kita melihat langsung bagaimana tambak udang berkembang dengan dukungan lingkungan yang sangat baik serta pengalaman panjang para petambak,” ujar Suseno.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri udang global jika dikelola dengan teknologi dan manajemen yang tepat.
Tantangan Penyakit dan Kualitas Air
Meski memiliki potensi besar, sektor budidaya udang juga menghadapi sejumlah tantangan teknis yang dapat memengaruhi produktivitas tambak.
Beberapa penyakit yang masih menjadi perhatian dalam budidaya udang antara lain:
White Feces Disease (WFD)
Enterocytozoon hepatopenaei (EHP)
Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND)
“Penyakit ini bisa berdampak serius terhadap produksi jika tidak ditangani dengan manajemen tambak yang baik,” kata Suseno.
Selain penyakit, pengelolaan kualitas air juga menjadi faktor krusial dalam keberhasilan budidaya udang, terutama di kawasan dengan kepadatan tambak tinggi.
“Jika sumber air digunakan bersama oleh banyak tambak, menjaga stabilitas kualitas air menjadi tantangan tersendiri bagi petambak,” jelasnya.
Pakan Serangga Jadi Solusi Berkelanjutan
Dalam upaya meningkatkan efisiensi budidaya udang, inovasi pakan berbasis serangga mulai dikembangkan sebagai alternatif sumber protein.
Melalui fasilitas Biocycle, larva Black Soldier Fly atau BSF diproduksi dari limbah organik lokal untuk menghasilkan tepung protein yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan udang.
“Uji coba awal menunjukkan tepung serangga memiliki potensi sebagai bahan pakan fungsional yang dapat membantu meningkatkan ketahanan udang, terutama pada fase budidaya yang penuh tekanan,” ujar Suseno.
Selain menjadi bahan pakan, sisa produksi budidaya serangga juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi sektor pertanian.
Penguatan Kapasitas Petambak
Untuk meningkatkan profesionalitas sektor budidaya udang, PT Sakti Biru Indonesia juga mengembangkan program pelatihan melalui Sakti Academy.
Program ini memberikan pelatihan kepada teknisi tambak dan petambak mengenai kesehatan udang, biosecurity, hingga penerapan standar operasional budidaya.
“Pendekatan ini penting agar praktik budidaya semakin profesional dan risiko produksi dapat ditekan,” kata Suseno.
Ia menambahkan, masa depan industri budidaya udang Indonesia sangat bergantung pada kolaborasi antara inovasi teknologi, peningkatan kapasitas petambak, serta dukungan masyarakat dan sektor swasta.***









