PANTAU LAMPUNG- Provinsi Lampung bersiap menghadirkan solusi bagi anak-anak yang putus sekolah dengan program inovatif bernama Sekolah Terbuka. Program ini digagas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, jauh sebelum kontroversi izin operasional SMA Swasta Siger Kota Bandar Lampung mencuat.
Konsep Sekolah Terbuka, yang mulai viral sejak 25 November 2025, dirancang untuk menjawab tantangan serius dalam dunia pendidikan Lampung: tingginya angka putus sekolah dan rendahnya partisipasi pendidikan jenjang SMA. Program ini juga menjadi jawaban atas keresahan Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, dalam menekan angka putus sekolah di kota tersebut.
“Konsepnya dinamis. Kita coba mengikuti situasi siswanya. Ada yang belajar dari rumah, ada yang datang ke sekolah induk. Yang penting, akses pendidikan tetap berjalan,” ujar Thomas.
Program ini memungkinkan siswa mengikuti pembelajaran secara daring maupun luring, dengan tetap terhubung ke sekolah induk. Disdikbud memastikan dana BOS tetap tersedia sehingga siswa dan keluarga tidak terbebani biaya. Selain pendidikan formal, peserta akan mendapatkan pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Sekolah Terbuka tidak hanya menyasar usia sekolah, tapi juga warga dewasa yang putus sekolah sejak lama. Tim Disdikbud akan menerapkan pendekatan “jemput bola” untuk mendorong masyarakat kembali ke bangku pendidikan dan meningkatkan keterampilan mereka.
“Mudah-mudahan tahun depan bisa kita jalankan. Doakan saja. Pesertanya sebanyak mungkin, bahkan banyak yang sudah bekerja. Tim akan turun langsung ke masyarakat, mengajak mereka kembali belajar,” tambah Thomas.
Jika berhasil, Lampung berpotensi menjadi pionir pendidikan fleksibel dan inklusif, menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Program ini diharapkan tidak hanya mengurangi angka putus sekolah, tetapi juga meningkatkan kompetensi dan kesiapan generasi Lampung menghadapi tantangan zaman.***










