PANTAU LAMPUNG- Duel paling seru Super League Indonesia akan hadir pada Sabtu, 22 November 2025 di kota Pahlawan Surabaya: Persebaya vs Arema Malang dengan tajuk derbi Jatim. Pertandingan ini menjadi salah satu laga yang paling dinantikan dalam kalender Liga 1 Indonesia, karena menghadirkan rivalitas klasik yang bukan hanya soal skor, tetapi juga soal sejarah, identitas suporter, dan kebanggaan regional.
Derbi Jawa Timur antara Persebaya Surabaya dan Arema Malang adalah salah satu rivalitas paling panas, emosional, dan bersejarah di sepakbola Indonesia. Bahasa kerennya, duel ini populer di belahan dunia sebagai Super East Java Derby, bahkan beberapa pihak menyebutnya Derbi Panas Indonesia. Laga ini tidak sekadar mempertemukan dua klub, tetapi juga menyingkap dinamika kultur suporter terbesar dan paling fanatik: Bonek untuk Persebaya dan Aremania untuk Arema.
Menariknya, persaingan Persebaya–Arema tidak muncul dari sejarah kota atau konflik klub secara langsung. Pada awalnya, kedua tim tidak bermain di level kompetisi yang sama. Namun sejak akhir 1980-an hingga 1990-an, interaksi antar suporter melalui turnamen kecil, laga persahabatan, dan perjalanan tandang mulai memunculkan gesekan. Dari pertemuan-pertemuan ini lah bibit rivalitas lahir, yang kemudian berkembang menjadi ketegangan emosional di setiap pertemuan resmi.
Persebaya Klub Tertua di Indonesia
Persebaya didirikan pada 18 Juni 1927, menjadikannya salah satu klub tertua di Indonesia sekaligus bagian dari pendiri PSSI. Secara historis, Persebaya membawa karakter khas arek-arek Suroboyo: keras, berani, dan apa adanya. Identitas ini kemudian melekat kuat pada Bonek, suporter Persebaya, yang dikenal militan, penuh energi, dan memiliki tradisi awaydays besar yang membuat mereka selalu hadir meski harus menempuh perjalanan jauh. Kehadiran Bonek tidak hanya memberi tekanan bagi tim lawan, tetapi juga menjadi sumber motivasi bagi pemain untuk tampil agresif sejak peluit pertama.
Arema Klub Muda Berbakat Nan Berbahaya
Berbeda dengan Persebaya yang lahir hampir satu abad lalu, Arema Malang baru berdiri pada 11 Agustus 1987. Dalam waktu relatif singkat, Arema tumbuh menjadi ikon sepakbola Malang. Gaya dukungan Aremania yang kreatif, kompak, dan ekspresif membuat klub ini cepat membangun basis suporter yang loyal dan energik. Aremania dikenal pandai menyusun koreografi, nyanyian, dan sorakan yang membuat atmosfer stadion tandang maupun kandang selalu bergemuruh.
Identitas Suporter Membakar Derbi
Pertemuan kedua klub semakin memanas seiring melekatnya identitas suporter masing-masing. Bonek dikenal dengan gaya dukungan militan, tanpa kompromi, dan selalu hadir dalam jumlah besar. Aremania terkenal kreatif, kompak, dan penuh kebanggaan terhadap Malang. Kedua kelompok memiliki ego kolektif yang kuat, dan benturan budaya dukungan inilah yang membuat Derbi Jatim lebih emosional dan intens dibandingkan laga-laga lain. Banyak kali, ketegangan di tribun suporter memengaruhi psikologi pemain di lapangan, menambah dimensi unik dalam pertandingan ini.
Derbi yang Melampaui Sepakbola
Seiring waktu, rivalitas ini menjadi salah satu derbi paling bersejarah dan berisiko tinggi di Indonesia. Setiap pertemuan Persebaya vs Arema selalu menjadi laga yang diperlakukan serius karena tensi emosional yang tinggi. Namun rivalitas ini juga mencerminkan bagaimana sepakbola di Jawa Timur berkembang: penuh passion, loyalitas, dan identitas yang melekat pada komunitas suporter. Tidak jarang, pertandingan ini menjadi sorotan nasional bahkan internasional karena intensitas dan atmosfernya yang luar biasa.
Persebaya Mengandalkan Kekuatan Kandang
Persebaya datang dengan modal kuat bermain di hadapan pendukung sendiri. Sepanjang musim ini, Bajul Ijo mencatat performa kandang yang cukup baik dengan tingkat kemenangan sekitar 60 persen. Lini belakang mereka menunjukkan peningkatan, dengan rata-rata kebobolan lebih rendah ketika tampil di GBLA. Kekuatan kandang juga terlihat dari strategi tekanan tinggi, penguasaan bola di lini tengah, dan kemampuan memanfaatkan setiap peluang yang tercipta dari kombinasi sayap dan serangan langsung. Dukungan penuh Bonek diprediksi membuat Persebaya tampil agresif sejak awal, memanfaatkan tempo tinggi untuk menekan Arema sejak menit pertama.
Arema Berusaha Bangkit di Tengah Inkonsistensi
Arema Malang datang dengan performa yang belum sepenuhnya konsisten. Meskipun beberapa laga tandang menunjukkan kemajuan dengan dua kemenangan dan tiga hasil imbang, Singo Edan masih sering kehilangan momentum dalam pertandingan besar. Laga sebesar Derbi Jatim menghadirkan tekanan mental yang besar, sehingga Arema perlu tampil rapat di lini belakang dan memanfaatkan kecepatan transisi untuk mencuri peluang. Kunci sukses Arema berada pada kemampuan menjaga fokus, tidak terpancing atmosfer panas pertandingan, dan memanfaatkan setiap kesalahan lawan.
Prediksi Jalannya Laga
Laga diprediksi berlangsung menegangkan dan cepat sejak peluit pertama. Persebaya kemungkinan akan tampil menekan, memanfaatkan energi suporter, dan agresivitas permainan mereka. Arema diperkirakan lebih menunggu, menutup ruang, dan mengandalkan serangan balik cepat untuk menciptakan peluang. Kedua tim diprediksi saling menekan dan mencoba menembus pertahanan lawan, sehingga peluang gol bisa muncul dari berbagai situasi, termasuk bola mati, kesalahan lini belakang, atau serangan balik kilat.
Prediksi Skor Akhir
Persebaya Surabaya 2 – 1 Arema Malang
Persebaya diprediksi mampu memaksimalkan keuntungan kandang, memanfaatkan agresivitas pemain dan dukungan suporter, sementara Arema tetap berpeluang mencetak satu gol balasan melalui serangan balik. Skor tipis ini mencerminkan ketatnya pertandingan dan tingginya tekanan emosional pada kedua tim. Pertandingan dijanjikan sengit, dengan peluang gol yang dapat terjadi kapan saja, menjadikan Derbi Jatim salah satu laga paling ditunggu di musim ini.***












