PANTAU LAMPUNG- Kematian Affan, seorang demonstran yang tewas tertabrak kendaraan taktis Barracuda, telah memicu gelombang protes, perdebatan, dan pertanyaan mendalam di masyarakat. Banyak pihak yang masih menafsirkan peristiwa ini sebagai kecelakaan tragis, namun dari perspektif penulis, insiden ini menunjukkan kemungkinan adanya unsur kesengajaan dan perencanaan yang matang.
Pertama, perlu dicermati aspek kesiapan dan kesadaran aparat keamanan. Aparat yang terlibat dalam pengamanan demonstrasi dilatih secara profesional untuk menghadapi situasi kritis, termasuk kerumunan massa yang padat. Mereka diharapkan berada dalam kondisi prima, sadar penuh, dan tidak berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan. Fakta bahwa pengemudi Barracuda tersebut dalam kondisi normal menunjukkan bahwa keputusan untuk menabrak bukan hasil dari kelalaian atau kecelakaan, melainkan keputusan sadar yang diambil dengan pertimbangan tertentu. Tidak adanya faktor eksternal yang memengaruhi tindakan ini semakin memperkuat dugaan adanya niat yang disengaja.
Kedua, penggunaan kendaraan taktis seperti Barracuda memiliki risiko tinggi dan tidak bisa dianggap remeh. Kendaraan ini didesain untuk operasional khusus dengan pertimbangan keselamatan yang ketat. Menembus kerumunan massa menggunakan kendaraan jenis ini bukanlah tindakan spontan atau sembrono, melainkan sebuah langkah terukur yang mengandung risiko besar bagi keselamatan publik. Jika pengemudi memilih untuk menembus massa alih-alih menempuh cara lain, hal ini dapat diartikan sebagai upaya represif yang disengaja untuk membubarkan demonstrasi, yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Ketiga, tanggung jawab komando menjadi faktor krusial. Dalam konteks militer atau aparat keamanan, ungkapan “Siap Ndan. Laksanakan!” mencerminkan ketaatan penuh terhadap perintah atasan. Hal ini menandakan bahwa tindakan pengemudi bukanlah inisiatif pribadi, melainkan bagian dari strategi atau perintah yang lebih besar. Jika terbukti ada instruksi khusus untuk “menghalau” atau “menerobos” massa, maka tanggung jawab moral dan hukum tidak hanya terletak pada pengemudi, tetapi juga pada pihak yang memberi perintah. Hal ini membuka kemungkinan bahwa insiden ini termasuk pembunuhan terencana, bukan sekadar kecelakaan.
Lebih jauh, insiden ini mencerminkan sebuah sistem yang cenderung mengedepankan kekuatan represif dalam menghadapi demonstrasi daripada mengutamakan dialog dan perlindungan hak sipil. Fokus utama bukan pada apakah pengemudi mabuk atau tidak, melainkan pada apakah tindakan tersebut merupakan bagian dari kebijakan atau perintah yang disengaja untuk menekan kebebasan berekspresi masyarakat.
Dari analisis ini, jelas bahwa kematian Affan bukan hanya tragedi individual, tetapi simbol dari masalah struktural dalam penanganan demonstrasi. Jika terbukti ada perintah di balik tindakan tersebut, maka kasus ini seharusnya diusut sebagai pembunuhan berencana, dengan pertanggungjawaban hukum yang mencakup seluruh rantai komando. Keadilan tidak hanya penting untuk Affan, tetapi juga menjadi pesan tegas bagi masyarakat bahwa hak-hak sipil dan keselamatan publik harus dijaga dalam setiap interaksi antara warga dan aparat keamanan.***