oleh

Akhirnya ‘Pelangi Warnai Kota Berbunga Bumi Sekala Bekhak

*Tradisi Rutin Kota Berbunga
*Perayaan Gembira Tumpah Ruah Padati Jalan Nasional
*Berawal Perang Saudara

LAMPUNG BARAT, PL– Kota Liwa merupakan pusat aktivitas masyarakat Kabupaten Lampung Barat. Daerah ini terletak di sebelah barat Provinsi Lampung.

Liwa berjuluk kota berbunga. Keberadaannya dikelilingi pegunungan Bukit Barisan Selatan, menambah kesan damai dan tentram.

Kota sejuk ini terletak di lintas barat Sumatera pada simpang jalan yang menghubungkan 3 provinsi, yakni Lampung, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Hawanya nyaman bagi pendatang mau pun pribumi. luas daerahnya mencapai 3.300 hektare. Di sini, terdapat gunung eksotis yang dinamakan Pesagi dan Seminung.

Tinggi gunung Pesagi mencapai 3.262 Meter di atas Permukaan Laut (MDPL) sehingga jadi yang tertinggi di Lampung.

Selain itu, Seminung menyimpan sejarahnya tersendiri, yakni petilasan pendekar si pahit lidah di dalam kelebatan hutannya.

Dulu, orang Belanda memanfaatkan area Liwa sebagai tujuan berwisata, beristirahat hingga bersantai.

Selain keramahtamahan, kreatifitas dan kebudayaan orang-orang Liwa seperti debur ombak dan putih pasir pantai menggugah.

Pada era modern, pada era kebudayaan luar negeri membludak di Provinsi Lampung, masyarakat Liwa atau lebih luas Lampung Barat terus menjunjung tinggi warisan budaya para leluhur.

Tradisi Sekura

Sekura

Ada satu pesta yang dihelat rutin pada kota berbunga. Namanya Pesta Sekura yang berarti pesta topeng, diselenggarakan untuk mewarnai Hari Raya Idul Fitri.

Topeng sendiri adalah ragam seni tak terpisahkan dari khazanah budaya tradisional Lampung. Seni tersebut berkembang sejak provinsi paling ujung di pulau Sumatera ini dalam kesultanan Banten.

Secara umum, ada beberapa jenis seni topeng yang berkembang di kawasan Tapis Berseri. Namun yang saat ini kita bahas ialah tradisi Sekura nan mahsyur di Liwa, Lampung Barat, Bumi Skala Bekhak.

Sekura

Orang yang menggunakan sekura pada tradisi tahunan Lambar

Seseorang disebut bersekura jika sebagian wajahnya tertutup topeng berbahan kayu, kacamata, kain atau hanya polesan warna. Namun agar event ini gegap gempita, ulun Lambar memadukan sekura dengan berbagai busana berwarna meriah. Ya

Setiap peserta diperbolehkan membawa makanan hasil silatuhrahmi berkeliling dari rumah ke rumah.

Makanan tersebut akan disantap bersama peserta lain sehingga suasana kekeluargaan nyata di bumi Sekala Bekhak yang rimbun dan asri. Akan tetapi, sudah dua tahun sejak siaran ini tersiar, tradisi Sekura Kabupaten Lambar tak terselenggara akibat pandemi Covid-19 melanda seluruh negeri.

Baru pada hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah, tradisi Sekura kembali meramaikan ragam budaya Indonesia yang sempat mati suri. Melalui semangat kreatifitas dan gotong royong, kerja kebudayaan masyarakat Lampung Barat akhirnya mengabarkan ke penjuru Indonesia bahkan dunia; seni dan budaya Lampung masih terus dipelihara.

Yang unik, masyarakat berperan aktif. Mereka berbaur dengan berbagai kalangan, mereka warnai kebersamaan sehingga kota berbunga kian segar seperti suasana berpelangi menyegarkan panorama.

Perayaan Gembira Tumpah Ruah Padati Jalan Nasional Lampung Barat

Tradisi Sekura kembali ke puncak kebudayaan Lampung atau lebih luas Indonesia pada Selasa, 2 Mei 2022. Ruas jalan sekitar Lampung Barat penuh riuh semangat kreatifitas. Segala rajutan hingga pernak-pernik suka cita masyarakat tumpahkan dalam gelaran pesta budaya sekura Bumi Beguai Jejama Sai Betik.

Ada 2 jenis Sekura yang biasa dikenakan. Yakni sekura betik atau berarti bagus dan sekura kamak artinya kotor. Sesuai namanya, sekura betik menggunakan kostum berkarakter topeng bersih terbuat dari kain panjang. Biasanya kain itu disebut Selindang Miwang khas Lampung Barat.

Sedangkan sekura kamak mengenakan atribut topeng berbahan kayu. Karakternya macam-macam. Para sekura ada yang memakai potongan karung hingga tumbuh-tumbuhan alami yang mereka selimutkan ke bagian tubuh sehingga tampak unik dan menggelitik perasaan.

Pesta Budaya Sekura merupakan perayaan atau ungkapan gembira masyarkat yang sifatnya menghibur. Tujuan utamanya bersilaturahmi. Akan tetapi tidak berhenti di situ. Puncak acara ini giat panjat pinang atau lebih dikenal masyarakat setempat sebagai ‘cakak buah’. Cakak buah sendiri dilakukan kelompok sekura secara bergotong royong.

Selain itu gelaran pesta budaya sekura turut menampilkan berbagai kesenian serta perlombaan, seperti silat hingga nyambai atau berpantun.

Kemeriahan yang terangkum ini berada di 5 pekon atau desa. Yakni Pekon Sukabumi Kecamatan Batu Brak, Pekon Kenali Kecamatan Belalau, Pekon Way mengaku dan Padan Dalom Kecamatan Balik Bukti serta Pekon Muara Jaya 2 Kecamatan Kebun Tebu.

Sejak pagi, para sekura antusias menyambut gelaran yang terhenti sejak dua tahun. Mereka datang menggunakan kendaraan roda dua mau pun roda empat dan ada juga yang berjalan kaki menghindari kemacetan.

Batang pisang, ranting pohon serta jenis tumbuhan turut dibawa untuk ‘Ngelimuk’ atau mengotori area pesta budaya. Hal tersebut menjadi agenda wajib bagi sekura kamak setiap memeriahkan gelaran pesta.

Berawal Perang Saudara

Konon, Sekura merupakan tradisi yang berasal dari perang saudara dan merupakan asimilasi budaya umat Hindu serta Islam yang terjadi sejak ratusan tahun lalu.

Marwani berusia 46 tahun warga kampung Kanali menjelaskan, tradisi Sekura berikut tari-tariannya ada sejak abad ke 9 Masehi.

Dalam cerita yang berbeda, Sekura berkisah pada saksi masuknya agama Islam di Lampung Barat pada abad ke-13.

Akan tetapi kini Sekura bertransformasi. Berbagai lakon topeng yang dahulu diperankan orang dewasa kini dikembangkan kalangan remaja dan pemuda.

Dulu tradisi ini sangat sakral namun seiring perkembangan zaman dijadikan festival menarik atensi wisatawan. Para pemuda desa hilir mudik di perkampungan dengan menghadirkan suara gaduh menggunakan berbagai aksesoris.
“Sekura berasal dari kata sakhuka. Artinya penutup wajah. Jadi, sekura dapat diartikan sebagai topeng. Topeng sudah dipakai sejak zaman dulu sebagai perlengkapan perang saudara,” Cerita Mawarni.

“Cerita dalam versi lain mengatakan bahwa lawannya adalah kerabat sendiri maka orang-orang zaman dulu menggunakan topeng untuk menyembunyikan wajah sekaligus menghilangkan keraguan ketika akan menghabisi lawannya,” Cerita Mawarni.

Tumpah Ruah Manusia

Jalan Nasional Lintas Liwa padat oleh manusia berbudaya yang antusias mengenalkan warisan leluhur Sekala Bekhak.

Puluhan ribu masyarakat berbagai Pekon (Desa) dari 15 Kecamatan di Lambar bahkan dari luar daerah seperti Bandar Lampung, Oku Selatan bahkan Palembang turut hadir. Mereka tak segan mengenakan berbagai ujibentuk topeng dan busana tradisi.

Sangking ramai, kemacetan terjadi di daerah Kota Besi. Pengendara mesti menunggu hingga berjam-jam. Akan tetapi inilah moment menyenangkan dalam kemacetan. Pengendara terpantau mengabadikan moment dengan para sekura sebagai kenangan berkesan yang sukar terlupakan dari Bumi Sekala Bekhak.

Atensi Pejabat Festival Sekura

Bupati Lambar Parosil kuti Acara Featival Sekura hingga Cakak Buah dan Malaman Buka dibi Muli Mekhanai di Pekon Muara Jaya 2, Kecamatan Kebun Tebu

Bupati Lampung Barat, Parosil tak dapat menutupi rasa senang dan gembira karena ‘pelangi’ akhirnya ‘mendarat’ di Lampung Barat. Dia ingin masyarakat dan pemerintah bersama-sama mempertahankan adat istiadat budaya leluhur, yakni festival Sekura.

Parosil turun langsung bersama masyarakat pada gelaran festival sekura di Pekon Muara Jaya 2, Kecamatan Kebun Tebu.

Dia bangga dengan antusias warga yang terus mengenalkan budaya ini. Dia meresapi tiap acara Sekura hingga Cakak Buah dan Malaman Buka Dibi Muli Mekhanai Kebun Tebu tahun 2022.

Tema acaranya sendiri ‘Bangkit Cerita Lestari Budaya’. Cocok dengan kegiatan Sekura yang 2 tahun vakum akibat virus dari Wuhan, Tiongkok.

(Kutipan)
“Anggaran yang bersumber dari APBD untuk kegiatan seperti ini ditiadakan semenjak tahun 2020-2022. Tapi saya terharu berada di tengah semangat masyarakat Lampung Barat yang terus melestarikan budaya ini. Ini bukti kemandirian warga membangun suatu kemahsyuran. Ini juga bukti kecintaan masyarakat Lampung Barat terhadap tanah kelahirannya,” Parosil, Selasa (3/5/2022).

Harapannya, gotong royong dalam tradisi Sekura dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah akan terus mendukung segala aktivitas yang membangun daerahnya.

(*)