oleh

MUSLIHAT AJI BARET

Aji Baret, pensiunan tentara berpangkat tengahan berkunjung ke rumah mantan anak buahnya bernama Adi Luhung. Adi adalah anak buah yang kerap diminta bantuan. Mulai dari menemaninya ke luar kota hingga membasmi preman.

Kedatangan Aji ini menyuruh Adi membunuh lawan politiknya. Purnawirawan itu sedang mengikuti kampanye sebagai calon bupati.

Rating kredibilitas dan popularitas lawan politik Aji cukup tinggi. Menyogok panitia tapi tak mempunyai banyak uang. Hasil kebun sudah tidak lagi optimal karena beberapa hektar telah dijual.

Adi sangat menolak untuk kembali melakukan pembunuhan. Usianya sudah cukup tua untuk menangkal serangan balik tujuannya.

Berbeda dengan Aji yang ingin korupsi. Dia meninggalkan rumah sederhana seraya menampilkan raut kecewa marah. Sebelum masuk mobil, Aji meludah setelah memandang wajah Adi. Mau bagaimana, Adi telah berikrar pada diri sendiri hendak memanfaatkan hidup untuk kepentingan keluarga dan sosial.

Terik mentari dan hujan silih berganti. Kelicikan Aji kembali cemerlang. Dia melihat revolver kesayangan yang indah dalam lemari kaca. Idenya adalah datang ke rumah Adi untuk merayu.

Rencana busuknya adalah menembak dada dan kepala lawan politiknya. Yang dijadikan kambing hitam adalah Adi.

Adi yang tak mau ambil pusing menyambut baik kehadiran Aji. Disuguhkannya bajingan itu singkong goreng, diletakkannya kopi panas kesukaan bekas atasannya itu.

Revolver yang mengkilap disodorkan kepada Adi. Aji meminta Adi untuk mengambil dan menyentuh revolver yang dulu sangat diminati lelaki beranak satu itu.

Meski keindahan senjata sudah dielus-elus Adi tapi dia tetap menolak mengambil kado ulang tahun dari Aji. Dia merasa sudah tak pantas dan tiada guna memiliki senpi.

Bekas atasannya itu tak memaksa. Setelah mereguk kopi, dia pamit. Kali ini wajahnya sumringah, tersenyum kepada Adi.

Muslihat diterapkan Aji. Ketika senjata itu dikembalikan, Adi langsung meletakkan revolver ke dalam kotaknya. Membekaslah sidik jarinya.

Lawan politik Aji tewas terkena luka tembak di dada dan kepala. Dari tubuh korban, ditemukan proyektil revolver berjenis tertentu. Dari olah TKP, polisi menemukan senjata api di atas bangunan yang letaknya searah laju peluru ke dada dan ke kepala korban.

Aji yang picik tersenyum mengetahui berita Adi ditangkap polisi. Sejak waktu itu, sidik jari Adi masih menempel di bagian-bagian revolver. Mencari keberadaan Adi bukan hal sulit bagi polisi. Adi sendiri tidak menyangka atas kejadian ini.

Malang bagi Adi, dia harus mendekam di penjara karena pengadilan menentukan dia pelaku utama. Walau dia mengatakan kepada hakim, sebelum peristiwa pembunuhan terjadi, Aji lebih dulu ke rumahnya menawarkan barang bukti sebagai kado ulang tahun. Tapi Aji berhasil berkelit dan meyakinkan jaksa serta hakim.

Adi membawa dendam ke dalam ruang tahanan. Dia tidak berbicara sepatah pun, apalagi tersenyum.

Raut wajah datarnya sangat tidak disukai kepala kamar. Kep yang geram berdiri di depannya. Namun perkataannya dianggap Adi lolongan Anjing.

Satu dua jejekan, berhasil Adi tepis. Tapi sepuluh orang menjatuhkan tubuh kekar tentaranya.

Kabar duka kematian Adi sampai ke pihak keluarga. Istri dan anak Adi menangis mengiringi pemakaman hingga yasinan. Namun penjara tempat Adi meregang nyawa menjadi lokasi sangat menakutkan.

“Bangunan ngeri itu pernah diusulkan untuk dikosongkan atau digusur. Semua tahanan tidak ada yang sanggup menghuninya. Setiap malam mereka menjerit,” kata mantan sipir yang pernah bekerja di penjara mencekam.

“Kepala LP menolak usulan itu. Dia justru menjadikan tempat itu sebagai area khusus napi pembunuhan. Hasilnya ada beberapa napi yang stres. Tapi Kepala Penjara beranggapan, semua itu konsekuensi perbuatan mereka. Mereka di sini bukan liburan jadi mesti menerima keadaan,” tambahnya.

Pantau Misteri tidak banyak mendapat informasi terkait keangkeran penjara itu. Kami terpaksa pergi ke luar kota untuk menemui napi yang menjadi saksi kengerian malam di sana.

Beruntung kami berhasil mengajaknya berbincang. Dia mengatakan, tidak pernah bisa tidur malam. Selalu mereka tidur setelah melakukan aktifitas rutin di pagi hari.

Ketika malam, bermacam suara hingga bentuk gangguan gaib selalu muncul. Mereka sering mendengar suara kesakitan dan napas yang tersengal. Saat mereka membuka mata, suara gerak terseok-seok terdengar. Sontak mereka bertanya-tanya mencari sumber suara. Akan tetapi sekejap itu juga lampu ruangan mati. Mereka semua bingung dan mencari-cari penglihatan. Ketika lampu berkedip, suara orang menjerit begitu nyaring memekakkan telinga. Sekejap itu juga lampu menyala namun remang. Semua mata tertuju pada kamar mandi karena seorang teman tergeletak di lantainya yang berlumut.

“Kami tanyakan kepada kawan kami itu. Tapi dia seperti orang linglung. Entah saat ini apakah dia sudah normal. Yang jelas ketika kejadian malam itu, dia dipindahkan. Namun kami tidak,” ujar napi yang bernama Yanto.

Yanto sendiri pernah melihat pocong melayang lalu berhenti di depan jeruji besi. Ketika itu hanya dia sendiri yang terbangun sedangkan semua temannya seperti tersihir. Semua kawannya tertidur pulas.

Anto sendiri bisa berada di dalam penjara itu karena membunuh anak, istri juga mertuanya yang lumpuh.

Dia bersaksi, mata pocong itu teramat merah. Dari mulutnya seakan mengeluarkan belatung.

Anto berusaha menjerit akan tetapi volume suaranya hanya seperti orang berbisik. Dia juga berusaha untuk menggoyangkan tubuh kawan-kawan namun yang dimampu hanya menunjuk sosok astral.

Seiring suara gesekan lantai, lampu di bangunan angker padam. Tapi tidak berlangsung lama karena hanya beberapa detik. Tapi saat kembali menyala, seolah kawan-kawan Anto menghilang. Pocong sudah berdiri di sisinya. Jarak mereka hanya satu senti meter.

Ia tak mampu berbuat apa-apa. Sampai pocong itu jatuh ke arahnya, dia baru tersadar kembali. Kawan-kawannya masih tertidur dan adzan telah berkumandang.

Semua napi di bangunan itu mengalami gangguan. Namun Pantau Misteri tidak bisa menemukan mereka karena sebagian sudah meninggal dan yang lainnya entah ke mana. Jadi kami hanya mendengar keterangan Anto.

Andi, napi baru dan masih muda serta baru masuk penjara itu pun langsung mendapat gangguan pada malam pertamanya di sana. Dia sampai pingsan.

Malam itu hujan cukup deras. Semua penghuni kamar sudah mengingatkannya agar tidur atau tidak, maka jangan sekali-sekali membuka mata sampai adzan berkumandang. Dan jangan coba-coba mencari tahu sesuatu yang mencurigakan.

Kengeyelannya sendirilah yang membawa dia ke dalam kengerian. Kami semua berusaha menyadarkannya. Dia meronta-ronta tapi tidak bersuara. Sambil terpejam, dia menunjuk-nunjuk sudut ruang dan kamar mandi. Dia baru sadar kala adzan subuh berkumandang.

“Anak itu melihat kejadian yang begitu kejam. Itu bermula ketika dia melihat pocong tergantung di atap,” ujar Yanto.

Mulanya tak sadar ada sesuatu yang aneh. Malam itu saat kami memejamkan mata, kami memang merasa lampu berkedip-kedip. Tapi tak satu pun ada yang peduli terhadap bocah itu. Perlu diketahui, dia masuk penjara karena menyodomi dan membunuh korbannya yang masih di bawah umur.

Lanjut ke cerita Andi saat melihat pocong. Saat lampu berkedip, dia masih asyik mengembuskan asap rokok pemberian keluarga. Saat itu gangguan bukan hanya dari kedipan lampu. Detik itu dia merasa ada yang menetes ke bagaian tubuhnya. Namun karena hujan deras maka dia hanya mengira rembesan air.

Seleng beberapa detik, Andi mendengar suara orang ngorok dan lirih kesakitan. Dia berusaha berdiri namun tidak bisa apa-apa. Trek. Semua lampu padam dan seakan dunia gelap gulita.

Dibuangnya puntung rokok ke dalam kamar mandi. Dia kembali mendengar suara yang aneh. Suara itu seperti tangan memukul-mukul lantai.

Dia sempat melihat sekeliling namun masih tak ada apa-apa. Padahal tubuhnya terkena tetesan berbau menyengat. Tapi dia belum menoleh ke belakang. Justru, dia masuk ke dalam toilet. Di depan pintu, dia mulai bergidik ngeri dan merinding parah karena mendengar gayung jatuh.

Dia baru berlari dan berselimut ngeri ketika ada yang melayang lalu berdiri tepat di pundaknya. Helai-helai kain kavan menyentuh pundaknya sehingga ia menoleh. Ujung kain dari sosok itu menggelantung akan tetapi bukan itu yang mengerikan. Tapi wajah sosok itu yang fokus ke arah toilet.

Pocong itu kemudian melayang melewati kepala Andi. Dia masuk ke dalam toilet dan berbalik arah. Mata Andi dan sosok itu saling menatap. Lelaki yang baru pertama masuk penjara itu hanya mampu meneteskan air mata. Seketika dia bersimpuh karena terlalu lama kakinya bergetar menahan takut dan serangan jantung.

Saat subuh, petugas jaga membangunkan para napi. Mereka menyuruh napi yang ada dalam kamar ini agar menggotong Andi ke ruang medis. Tidak ada luka parah dari Andi. Hanya saja dia mesti tinggal di ruang medis selama satu minggu. Dia sempat trauma, cukup lama dia menjadi orang yang murung dan kerap melamun.

“Kami baru mendengar ceritanya setelah kira-kira satu bulan kejadian itu,” ujar Yanto.

Ceritanya, Andi seolah bermimpi sedang berada dalam suatu ruang tahanan yang lantainya penuh bercak darah. Dia melihat lima orang laki-laki bertubuh besar sedang berkerumun. Di depan mereka ada seseorang yang sedang kesakitan. Meski telah kesakitan, tapi orang itu terus ditendang bergantian oleh lima orang. Rambut pria itu dijambak lalu digeret. Tubuhnya dibangunkan lalu wajahnya dicemplungkan ke dalam bak air.

Andi melihat mulut korban penyiksaan di sumpal oleh baju sehingga tidak dapat berteriak.

Cerita Andi belum selesai. Dia melihat penyiksaan yang begitu keji. Setelah dicelupkan dan air bercampur darah menetes dari sekujur tubuhnya, lima orang laki-laki bergantian memasukkan kemaluan mereka ke dalam mulut korban. Saat itu, nyawa korban telah melayang karena tidak terlihat pemberontakan darinya.

Andi yang pernah membunuh sampai bergidik ngeri dan matanya berkaca-kaca karena menceritakan mimpi itu. Tapi bukan hanya dia yang mengalami kejadian ini. Semua Napi sudah pernah merasakan. Bersamaan, mereka juga pernah mendapat gangguan. Mereka sampai mepet tembok karena di hadapannya ada sosok pocong yang menggeram seolah marah. Padahal semua napi yang menyiksa Adi dulu sudah dipindahkan ke ruang lain.

Mengetahui kejadian ini, Pantau Misteri enggan melalui begitu saja. Kami pamit kepada Yanto. Kami segera mengarahkan tujuan untuk menemui orang pintar kemudian membawanya ke dalam penjara itu.

Ki Sarpan adalah orang pintar yang kerap kami hubungi untuk memahami klenik yang terjadi di daerah ini. Dia kerap melakukan pertapaan di air terjun gaib. Ilmunya cukup mumpuni untuk mencari tahu sejarah klenik, meski tanpa mediator dan mediasi.

Namun kami tidak bisa masuk ke dalam penjara karena alasan prosedural. Kepala penjara enggan memberi izin karena jika berita ini sampai diketahui publik maka dapat merusak citra mereka.

Akan tetapi Ki Sarpan tetap berusaha membantu kami dalam mengulik informasi klenik. Dia menyuruh kami untuk pergi ke tanah lapang yang letaknya tak jauh dari balik bangunan angker penjara ini.

Disuruhnya kami membuka jendela mobil, dinyalakannya kemenyan. Dia keluar sebentar dari dalam mobil untuk menaburkan sesuatu di sekitar dinding bangunan. Setelah masuk ke dalam mobil, dia menyuruh kami menjauh dari tubuhnya.

Kami semua ketakutan ketika beberapa menit, dia kerasukan. Tubuhnya sempat berontak. Tapi kami masih di dalam mobil karena enggan meninggalkannya sendirian. Beruntung kerasukannya tidak berlangsung lama, meski satu kaca mobil sempat pecah karena tinjuan Ki Sarpan.

Setelah mereguk air dari dalam botol yang telah ia sediakan dari rumah, Ki Sarpan akhirnya becerita.

Gangguan dalam penjara itu karena penyiksaan yang dialami Adi Luhung. Jin dalam penjara sengaja mengganggu untuk mengatakan kebenaran. Setidaknya, penghuni ruang itu mengetahui yang bersalah bukan Adi Luhung. Selain korban penganiayaan, Adi Luhung adalah kambing hitam kematian lawan politik Aji.

Banyak yang diceritakan Ki Sarpan. Namun poin pentingnya adalah Adi sebagai kambing hitam Bupati Aji Baret.

2022