oleh

MATI KESETRUM, POCONG MALING NEROR WARGA

  • Amir Bunuh Ayah Ibu Kandung
  • Amir Diusir Guru Sebab Niat Buruk
  • Pocong Amir Menggeram & Tegak Berdiri

Ardito bersama istrinya menjerit-pingsan saat ingin menikmati asmara di ranjang bulan. Mereka tidak hanya melihat sekelebat bayang, namun melihat jelas sosok pocong.

Kejadian ini bermula ketika Ardito hendak membuka pakaian dalam istrinya. Namun istrinya berdiri tepat di balik jendela. Ardito melihat lingkaran merah kecil dari celah jendela kayu rumahnya.

Dia takut kegiatan intim mereka diketahui tetangga. Dipakainya lagi sarung yang sempat tergeletak di atas kasur. Melangkahnya ke arah jendela sedangkan istrinya kembali duduk di sisi ranjang.

Dia sempat mengucap bau liur panggang ke istrinya. Namun perempuannya hanya menggeleng. Penasaran kian menggebu, Ardito mencoba mengintip dari celah jendela namun masih belum tampak jelas.

Sebelum membuka jendela, Ardito sempat mengungkapkan kekhawatiran kepada sang istri. Namun dari celah jendela, dia melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak. Tanpa pikir panjang dan memerdulikan bau menyengat maka dibukanya jendela itu.

Ardito dan istri tak sanggup berkata apalagi berteriak. Mereka hanya melongok ketika di depan jendela ada yang tegak berdiri. Tergeletaklah pasangan suami istri tersebut ketika sosok pocong bergeliat, seakan tubuhnya ingin terlepas dari kain lusuh.

Pasutri itu juga melihat liur seakan mengalir dari mulut beruntus pocong dan cairan kuning keluar dari dua lubang hidungnya. Sosok ini juga menggeram seolah ingin berbicara kepada mereka.

Warna mata sosok ini sangat merah sedangkan wajahnya hitam terbakar. Diyakini warga sekitar, sosok itu merupakan arwah gentayangan Amir, pencuri yang mati tersetrum saat beraksi.

Bukan 1 hingga 3 warga yang menyumpahi Amir. Sepuluh warga telah menjadi korban kebejatan pria yang kerap main perempuan di warung remang. 2 kepala rumah tangga mati dibacoknya. Pamong kampung pernah mendatangi kediaman pencuri tapi dia mempunyai ilmu kebal. Pamong kampung terkena luka sayatan sedangkan dua kepala rumah tangga tewas bersimbah darah.

Amir mendapat ilmu kebal dari gurunya yang berada di luar provinsi. Dulu dia sempat berguru pencak silat dan kerap bertapa. Namun karena tak bisa diatur dan kerap berkelahi maka gurunya mengetahui niat buruknya. Diusirlah dirinya dari perguruan bulan dan bintang.

Dia pulang ke rumah orang tuanya yang keberadaannya di kampung ini. Namun ayah dan ibunya mati dibunuhnya lantaran melarangnya mabuk. Sedangkan bapaknya ditikam ketika menyuruhnya pulang dari tempat pelacuran dan mabuk-mabukan.

Astaga Amir, kata warga yang kesal karena kehadiran arwahnya. Menurut warga, tak hanya hidup namun mati pun tetap meneror.

Teror pocong pria yang mati tersetrum itu bermula ketika dia hendak menggasak I phone keluaran terbaru di rumah janda anak satu yang hidup tanpa lelaki dan orang tua. Dia yang kaget karena mendengar suara pintu dari salah satu kamar di rumah itu sontak menyentuh besi colokan. Colokan itu masih dialiri listrik.

Na’as ilmu kebalnya tidak sanggup menahan setrum. Tak mampu dia berteriak apalagi melepas jarinya dari ganasnya aliran listrik.

Subuh di kampung itu geger karena sang janda berteriak. Dia yang bergetar mengungkapkan ke warga kampung yang berbondong-bondong menghampirinya. Amir mati di ruang tamu tempat i phone dicas.

Satu hari saat dia dikuburkan, malamnya bulan begitu bundar dan terang. Biasanya jangkrik bersahutan namun malam itu justru lolong anjing dan meong kucing yang bersambutan.

Suara kentungan berbunyi keras dari pos ronda. Malam itu, peronda melapor ke kepala desa. Mereka diganggu sosok pocong. Pamong kampung langsung memanggil orang pintar.

Ki Bendul menyatakan, Amir dikuburkan tanpa lebih dulu pengikut gaibnya disingkarkan dari darahnya. Dia sudah berusaha namun yang mampu melenyapkan kekuatan hitam Amir hanyalah gurunya. Sayang, warga sekampung tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Jadilah pocong Amir berkeliaran seperti babi hutan mencari makan hingga ke pemukiman.

Bukan hanya Ardito, Malang, salah satu warga pernah juga menjadi korban gentayangan pocong Amir. Malam itu dia hendak membuat kopi. Namun ketika sedang menunggu rebusan mendidih, dia melihat gerakan warna putih lusuh dari celah pintu kayu khas orang perkampungan.

Khawatirnya memuncak karena dia sendiri mengetahui kampung itu diteror. Namun, gerak putih kian cepat dan terdengar suara geraman serta bau busuk.

Dia juga melihat dari celah pangkal pintu ada yang mengalir. Karena takut terjadi sesuatu pada kolam ikan yang berada di balik sisi pintu belakang rumahnya itu, Malang berlari dan membuka pintu. Sontak tubuhnya kaku ketika membuka pintu tapi sosok berbalut kain lusuh berdiri tegak seperti pohon pepaya di pinggir jalan.

Geraman sosok itu terdengar jelas sebelum Malang jatuh pingsan. Beruntung, anaknya yang waktu itu belum tidur hendak buang air kecil. Kalau tidak, kemungkinan rumah Malang hangus dilahap si jago merah.

2022